Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Rencana Jangka Panjang


__ADS_3

Adakalanya sharing atau berbagi cerita dengan pasangan yang lain itu terasa menyenangkan. Bisa berbagi pengalaman, juga mengambil hal yang baik dari pasangan yang lain. Sama seperti sekarang pasangan Marsha dan Abraham, dan juga Belva dan Sara yang sama-sama saling berbagi cerita dan pengalaman mereka masing-masing.


“Mama Diah itu bisa baik banget dan keibuan banget ya Mas Bram … sama aku saja, selalu diingat dan disayang,” balas Sara. Itu adalah pengakuan yang jujur karena selalu saja ada buah tangan yang dititipkan Mama Diah untuknya.


“Mama memang orang yang demikian kok Bu … selalu baik ke semua orang. Maaf, bukan aku melebih-lebihkan Mama, tapi Mama kalau sudah niat menolong ya sudah ditolong saja. Kalau baik, ya Mama akan baik lahir batin,” balas Abraham.


“Luar biasa, sekarang jarang Bram ada orang yang seperti Mama kamu,” sahut Belva dengan menatap kepada Abraham.


Abraham pun tersenyum di sana, “Ya, kalau mengingat dulu kami hidup susah. Mungkin Mama jadi berpikir, begitu ekonomi kami lebih stabil, inginnya bisa membantu orang lain. Roda terus berputar kan Pak … hari ini kita di bawah, tidak tahu di kemudian hari bisa di atas. Jadi, Mama itu selalu memberitahu saya untuk hidup berbagi dan bermanfaat bagi sesama,” cerita Abraham.


"Itu benar sekali loh Mas Bram ... kalau mengingat masa laluku dulu, aku cuma lulusan SMA yang kerja di bar. Gajiku bahkan di bawah UMK (Upah Minimum Karyawan) dan juga aku harus bayar kost dan makan, yatim piatu tidak memiliki orang tua lagi. Sehari-hari makan nasi kucing dan pecel lele saja sudah hal yang begitu mewah. Begitu aku mendapatkan uang untuk modal usaha, yang terpikirkan adalah bisnis makanan karena aku teringat bagaimana dulu aku kesusahan untuk makan, dan sekaligus melalui makanan ini aku bisa memperkerjakan dan menafkahi karyawanku," cerita Bu Sara.


Itulah kehidupan. Dulu yang mereka yang berada di bawah dan mengenyam kehidupan yang tidak mudah, pada akhirnya bisa berada di atas dan juga kini bisa menggapai kesuksesan. Seperti Sara, jika berpikir dirinya tidak pernah menyangka akan menjadi istri CEO besar seperti Belva Agastya, tetapi sekarang Sara memiliki ratusan karyawan yang bekerja di Coffee Bay dan juga Sava Beauty Care miliknya.


Hal yang berbeda justru dirasakan Marsha, dulu ketika menjadi istri papan atas, seakan cuan itu adalah hal yang mudah didapat. Bergelimang harta, tetapi Marsha tahu bahwa bergelimang harta, tetapi dirinya justru menjadi korban kekerasan fisik. Setelah melepaskan semuanya dan menikahi Abraham yang tidak begitu kaya raya, justru Marsha bisa merasakan arti bahagia yang sesungguhnya.


"Begitulah hidup ... maka dari itu kita yang sudah Tuhan izinkan di atas jangan jumawa karena harta benda adalah titipan dari-Nya, dikelola dengan sebaiknya. Sementara yang sedang berada di bawah juga jangan berputus asa. Peluang untuk mengubah takdir dan juga menggapai sukses itu tentu ada, hanya caranya yang berbeda-beda," balas Belva.


"Contoh nyata, istriku saja ... kalian sudah dengar bagaimana masa lalunya. Cuma, begitu ada kesempatan dan mau kerja keras, bisa membuktikan diri dan mengubah takdirnya sendiri. Kadang aku saja sampai heran, maaf yah bukan merendahkan, tetapi seorang yang katanya hanya lulusan SMA bisa memiliki gerai Coffee Bay sebanyak 350 cabang dan sekarang merambah ke bisnis skin care. Bagiku ini adalah amazing, luar biasa. Dan, aku yakin itu karena istriku melihat peluang dan juga mau berusaha."


Belva mengambil contoh mengenai istrinya sendiri yang dia lihat adalah orang yang berhasil untuk mengubah takdirnya sendiri. Tidak terpuruk dengan keadaan. Justru Sara adalah bukti nyata yang tidak mengenyam pendidikan tinggi justru memiliki bisnis Food and Baverage dengan omset yang begitu besar setiap tahunnya.

__ADS_1


"Bu Sara tapi konsultasi bisnis gitu enggak sama suami?" tanya Marsha kemudian.


"Untuk Sava Beauty, aku konsultasi dengan Mas Belva. Melihat trend di pasaran mengenai skin care, aku jadi pengen coba. Sebab, sekarang skin care itu menjadi kebutuhan wajib. Walau trend dan menjamur, tetapi harus uji klinis, dermatologis, dan sebagainya. Aku ingin menjaga kualitasnya," balas Bu Sara.


"Kalau Coffee Bay?" tanya Abraham kemudian.


"Tidak ... kalau Coffee Bay, pure ideku dan kerja kerasku. Jadi, gerai kopi itu, aku punya target dan aku punya peta nih di mana saja yang sudah ada Coffee Bay. Aku pengen se Nusantara nanti ada gerai Coffee Bay. Dulu, mendiang Ibuku itu jago masak dan bikin minuman, jadi aku mewarisi resep itu salah satunya Frappuccino khasnya Ibu. Itu yang aku pertahankan di Coffee Bay," cerita Sara kepada Marsha dan Abraham.


"Ah, Bu Sara memang keren ... saya fans loh sama Ibu," balas Marsha dengan tertawa.


"Jangan begitu, Sha ... kita sama. Bestie pokoknya," balas Sara dengan mengangkat tangannya dan mengajak Marsha untuk tos bersama.


"Bram ... Marsha ..., kalian berdua itu sudah seperti keluarga bagi kami. Seperti adik. Nah, supaya hubungan kita bisa tetap terjalin di masa depan, jadi ... aku dan Sara kepikiran untuk bisa menjodohkan Mira dengan Elkan."


Ketika Belva mengatakan itu dan menunjukkan wajah yang serius, Marsha dan Abraham justru menunjukkan wajah yang bingung. Sungguh tidak mengira bahwa seorang Belva Agastya akan berbicara perihal hal ini dengan begitu serius.


"Dengarkan kami dulu ... menurut aku dan Sara sebagai orang tua Elkan, rasanya Elkan itu begitu sayang kepada Mira. Jadi, di masa yang akan datang, bolehkah jika kami meminta Mira untuk menjadi pasangan bagi Elkan," lanjut Belva di sana.


"Bos tidak bercanda kan?" tanya Abraham kemudian.


Dengan cepat Belva menggelengkan kepalanya, "Tidak ... mana mungkin aku bercanda, Bram ... justru sekarang aku sangat serius. Mungkin kesannya aneh atau bagaimana karena menjodohkan kedua anak kita ketika mereka masih kecil. Aku hanya ingin kita benar-benar menjadi keluarga, Bram ... selain itu anakku, Elkan juga begitu sayang kepada Mira. Dia sering bercerita tentang Mira dan mengakui sayang kepada Mira," cerita Belva kemudian kepada Marsha dan Abraham.

__ADS_1


"Sebenarnya saya sebagai Papanya Mira sih tidak keberatan, Bos ... Elkan juga anak yang baik dan benar terlihat sayang dengan Mira. Cuma kan, saya tidak ingin mengekang anak dan lebih memilih Mira menemukan jodohnya sendiri," balas Abraham.


Belva tampak menghela nafas dan kemudian menatap kepada Abraham, "Begini saja Bram ... kita sepakati bersama saja. Antara kedua orang tua. Namun, di kemudian hari jika memang mereka berjodoh tentu itu akan lebih baik. Sementara, ketika mereka dewasa dan tidak ada perasaan, ya silakan saja. Cuma, biarkan sekarang jadi kesepakatan kita berdua. Aku dan Sara juga sayang kepada Mira, Bram," ucap Pak Belva dengan sungguh-sungguh.


"Bagaimana Sha?" Bu Sara pun rupanya segera bertanya kepada Marsha di sana.


"Jadi, perjodohan ini tidak mengikat kan Bu? Maaf, jika di masa depan Mira rupanya memiliki pria idaman lain, maka tidak masalah kan?" tanya Marsha.


Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Namun, ya aku berharap Mira yang menjadi menantuku. Sapa tahu di masa dewasa mereka cocok dan bisa menikah. Aku akan sangat senang," balas Bu Sara.


Marsha dan Abraham pun kemudian saling pandang dan juga tampak menimbang-nimbang satu sama lain.


"Gimana Abraham dan Marsha?" tanya Pak Belva kemudian.


"Baiklah Bos ... kesepakatan bersama saja. Namun, jika di masa depan, kedua anak kita nyatanya tidak saling cinta, harap tidak dipaksakan," balas Abraham.


"Oke ... jadi deal yah?" balas Belva dengan mengulurkan tangannya kepada Abraham di sana.


"Deal!"


Rupanya rencana jangka panjang yang dimaksud oleh Belva kali ini adalah benar-benar ingin menjadikan Abraham dan Marsha menjadi keluarga mereka melalui menjodohkan Mira dengan Elkan. Perjodohan ini hanya kesepakatan kedua orang tua. Namun, jika di masa depan nyatanya keduanya tidak saling mencintai, maka orang tua juga tidak akan memaksakan. Akan tetapi, apa yang hendak terjadi di masa depan tidak pernah ada yang tahu bukan?

__ADS_1


__ADS_2