Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Tes Rahasia


__ADS_3

Pagi itu, ketika Abraham beristirahat di dalam kamar. Marsha segera menyiapkan meja makan untuk sarapan nanti, dan juga melihat Mira yang masih tertidur. Terlihat di dapur Mama Diah yang tengah membuat Sup Ceker Ayam kesukaan Mira, sehingga sang Eyang itu pagi-pagi sudah membuatkan masakan untuk cucu tercintanya.


"Pagi Ma ... Mama masak apa?" tanya Marsha kepada Mama Diah.


"Ini, Sha ... masak Sup Ceker Ayam kesukaannya, Mira. Tumben Bram belum turun? Apa belum bangun?" tanya Mama Diah kepada Marsha.


Marsha pun menatap Mama mertuanya itu, "Mas Bram sakit Ma ... semalam menggigil kedinginan dan juga demam. Mungkin efek obatnya, jadi masih tidur di kamar," ucap Marsha.


"Bram sakit? Biasanya anak itu begitu kuat dan tidak mudah sakit," balas Mama Diah dengan heran.


Ya, menurut Mama Diah, putranya Abraham adalah anak yang memiliki sistem imunitas yang baik karena suka berolahraga, sehingga Abraham jarang sakit. Sehingga, ketika Marsha memberitahukan bahwa sekarang Abraham sakit, rasanya Mama Diah bingung juga.


"Iya kok Ma ... dini hari tadi Mas Bram kebangun tubuhnya menggigil kedinginan dan juga demam tinggi. Sempat muntah dan mual tadi, Ma. Sudah minum Paracetamol untuk penurun demam saja, sudah turun kok demamnya," cerita Marsha kepada Mamanya itu,


Terlihat Mama Diah mengernyitkan keningnya dan manatap wajah Marsha yang tengah bercerita. Lantas, Mama Diah teringat dulu ketika dirinya hamil mendiang Papanya Abraham yang mengalami kehamilan simpatik.


"Sha, kamu terakhir haid kapan?" tanya Mama Diah.


Ah, Marsha sendiri sampai lupa kapan terakhir kali dirinya mendapatkan masa periodenya. Bukankah cukup lama, sebulan belakangan rasanya Marsha juga belum mendapatkan masa menstruasinya. Untuk lebih memastikan, Marsha mengecek di kalender digitalnya yang berada di handphone, kemudian Marsha membelalakkan keduanya matanya.

__ADS_1


"Lah, masak sudah satu setengah bulan," balasnya lirih.


Ya, sudah satu setengah bulan rasanya Marsha tidak mendapatkan periode palang merahnya. Mama Diah pun justru tersenyum.


"Wah, jangan-jangan adiknya Mira sudah ada di sini, Sha ... kamu yang hamil, dan yang menunjukkan gejala kehamilan adalah Abraham. Jadi, bisa saja kan Abraham tiba-tiba tidak enak badan, sakit kayak gini karena kehamilan simpatik," balas Mama Diah.


Mendengar apa yang disampaikan Mama Diah, tanpa Marsha menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Jika yang disampaikan Mama Diah benar, mungkin sudah ada embrio yang kini tumbuh dan bersemi di dalam rahimnya.


"Mau Mama belikan testpack?" tanya Mama Diah kepada Marsha.


"Ada di rumah kok Ma," balas Marsha dan tampak gelagapan.


"Kok Marsha tidak kepikiran ya Ma," balasnya.


"Coba dicek saja ... dipastikan dulu. Kalau menerka-nerka saja ya tidak akan mendapatkan jawabannya. Jadi, lebih baik cek dulu," balas Mama Diah.


***


Keesokan harinya ....

__ADS_1


Agaknya apa yang kemarin diucapkan Mama Diah membuat Marsha berpikir keras. Dulu, ketika hamil Mira, Marsha yang merasakan gejala kehamilan seperti mual dan muntah. Akan tetapi, sudah dua hari ini justru Abraham lah yang beberapa kali mual dan muntah. Marsha memang pernah membaca perihal kehamilan simpatik, di mana sang suami yang justru merasakan gejala awal kehamilan mulai badan meriang, demam, mual, hingga muntah.


Mengamati kesehatan Abraham sekarang ini, Marsha sangat percaya bahwa ini bukan sekadar masuk angin biasa. Bahkan sekarang, Marsha mengelusi perutnya sendiri secara diam-diam.


"Mungkinkah kamu sudah ada di dalam perut Mama? Jika benar, tentu Mama, Papa, dan Kak Mira akan sangat berbahagia. Eyang Diah juga pasti akan senang mendengar kabar baik ini," gumam Marsha.


Pagi-pagi buta, Marsha memilih bangun terlebih dahulu. Marsha bertujuan untuk melakukan test prediksi kehamilan seorang diri. Tentu Marsha memiliki tujuan tersendiri kenapa dirinya harus melakukan test sembunyi-sembunyi.


Marsha bergegas memasuki kamar mandi dengan membawa test pack dan gelas takar untuk menampung urine. Walaupun ragu, tetapi Marsha kali ini benar-benar akan masuk ke dalam kamar mandi dan memastikan kondisinya saat ini.


Marsha masuk ke kamar mandi. Mulailah dia melakukan uji reaksi kimia layaknya saat dirinya duduk di bangku SMA  dulu. Terlihat wajah Marsha yang begitu cemas saat mulai membuka kemasan test pack dan memasukkan ujung test pack itu ke dalam gelas takar yang sudah terisi urine.


“Ya Tuhan … apa pun hasilnya semoga ini yang terbaik untukku, Mas Bram, dan juga keluarga ini. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang indah di waktu yang indah pula. Walau aku takut dan terkadang merasa tidak yakin, tetapi aku percaya bahwa anugerahmu yang  terbaik bagiku,” gumam Marsha dengan lirih kali ini.


Detik-detik menunggu hasil pergerakan di test pack itu membuat Marsha berjalan mondar-mandir. Rasanya seperti ada hal yang harus dia pertaruhkan saat menunggu hasil test pack itu. Bahkan Marsha terlihat begitu gelisah. Detik demi detik justru terasa begitu lama.


Satu garis merah? Atau Dua garis merah?


Sungguh, Marsha begitu gelisah dibuatkan, bahkan keringat dingin justru mulai memenuhi keningnya. Agaknya keresahan yang dirasakan Marsha justru membuat waktu begitu lama untuk bergerak. Menunggu pergerakan di alat test prediksi kehamilan itu saja, rasanya membuat jantung berdebar-debar hingga keringat dingin bercucuran begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2