
Begitu keluar dari mini market, Marsha kembali mendatangi Mama Saraswati di sana. Tampak Marsha menghela nafas terlebih dahulu dan merasa kasihan dengan kondisi Mama Saraswati sekarang ini. Dari wajahnya yang sembab, terlihat bahwa Mama Saraswati usai menangis.
"Ma, Mama istirahat di rumah kami dulu saja, Ma. Jika hanya semalam tidak usah menginap di hotel," ucap Marsha kepada wanita yang pernah menjadi mantan mertuanya itu.
"Jangan Sha, Mama justru merepotkan kamu," balasnya.
Akan tetapi, Marsha menggelengkan kepalanya, "Tidak Ma ... Marsha dan Mas Bram tidak pernah merasa direpotkan kok, Ma. Mas Bram juga tidak masalah," balas Marsha.
Mama Saraswati yang mendengarkan ucapan Marsha pun lantas menatap kepada Abraham yang kala itu beridri di belakang Marsha. "Benarkah Mama tidak merepotkan kalian?" tanyanya.
"Iya, sama sekali tidak repot kok Ma," balasnya.
Mama Saraswati pun bangkit dan kemudian berjalan mengikuti Marsha dan Abraham. Di dalam hatinya ada rasa malu. Ya, malu karena dulu Mama Saraswati begitu jahat kepada Marsha. Di kala Marsha mengadukan kekejian Melvin kepadanya, Mama Saraswati tidak ada untuk membela Marsha. Justru Mama Saraswati yang kian memperkeruh suasana saat itu.
Namun, Mama Saraswati hanya diam. Hingga akhirnya, dia berhenti di rumah dengan tipe minimalis dengan dua lantai dan kemudian mengikuti Marsha dan Abraham untuk masuk ke dalam rumah itu. Memang begitu sederhana, hanya saja rumah yang sederhana itu terasa begitu nyaman.
"Silakan masuk, Ma," ucap Marsha yang mempersilakan Mama Saraswati untuk masuk.
__ADS_1
Kemudian Marsha mempersilakan Mama Saras untuk duduk dan dia membuatkan teh hangat untuknya. Sementara Abraham dan Mira memilih untuk masuk ke dalam kamar. Walau Abraham tidak berbicara, tetapi Abraham juga tidak masalah untuk membantu Mama Saras. Di dalam kamarnya, Abraham memilih untuk menidurkan Mira terlebih dahulu.
"Sha, terima kasih," ucap Mama Saras kemudian.
"Sama-sama, Ma," balasnya.
"Maafkan Mama, Marsha. Agaknya Mama belum pernah meminta maaf kepadamu. Maafkan Mama untuk semua kesalahan Mama di waktu lalu. Mama mengakui bahwa Mama sangat bersalah. Sebagai mertuamu, Mama hanya sayang kepada Melvin. Mama buta dan tidak percaya dengan kekerasan yang Melvin lakukan atasmu. Maafkan Mama, Sha," ucap Mama Saras.
Marsha sebenarnya tersenyum getir di dalam hati. Di kala dia sudah melupakan semuanya dan juga tidak lagi mempermasalahkan perihal masa lalunya, Mama Saraswati baru datang dan meminta maaf untuk salahnya di waktu lalu.
Mama Saraswati tampak menggelengkan kepalanya, "Tidak, hanya saja Mama merasa bersalah kepadamu. Butuh waktu yang sangat lama bagi Mama untuk menyadari semua kesalahan Mama," ungkapnya.
Memang demikianlah manusia ada kalanya begitu mudah untuk menyadari kesalahan dan meminta maaf. Akan tetapi, ada pula yang membutuhkan waktu yang lama dan barulah bisa menyadari kesalahannya. Mama Saraswati mengakui bahwa dia butuh waktu yang lama untuk menyadari kesalahannya.
Ketika Marsha hendak memberikan jawaban, rupanya ada Abraham yang turun dari anak tangga dan tampak bergabung dengan Marsha. Ya, pria itu turut duduk di samping Marsha.
Melihat kedatangan Abraham, Mama Saras tampak menundukkan wajahnya. Pria yang dulu dia anggap hanya anak yang bisa membuat mendiang suaminya berbalik hati dan meninggalkannya. Justru sekarang, pria itulah yang menolongnya kini.
__ADS_1
"Abraham," panggil Mama Saraswati dengan lirih.
"Hmm, ya," balas Abraham.
"Abraham, Tante minta maaf untuk semua kesalahan Tante di masa lalu," ucap Mama Saraswati kemudian.
Abraham tampak diam dan seolah tak bergeming. Marsha yang ada di sana pun langsung menggenggam tangan Abraham. Jujur saja, Marsha menjadi risau jika saja Abraham kembali terluka karenanya.
"Maafkan Tante untuk semua dosa dan kesalahan Tante di masa lalu ya Nak Abraham," ucap Mama Saraswati lagi.
Hingga akhirnya, Abraham melirik kepada Marsha yang sekarang menatapnya. Kemudian Abraham memejamkan matanya sesaat dan menatap ke Mama Saraswati.
"Semuanya hanya masa lalu, Tante. Bram, sudah melupakan semuanya. Bram berketetapan untuk melupakan masa lalu," balasnya dengan yakin.
Mendengar balasan yang disampaikan oleh Abraham, hati Marsha begitu terketuk. Abraham adalah sosok yang berbesar hati. Marsha tahu tidak mudah untuk berada di posisi Abraham. Akan tetapi, kini pun Abraham bisa berbicara dengan santun dan mengatakan bahwa Abraham telah berketetapan untuk melupakan masa lalu.
Mama Saraswati menangis di sana. Rasanya begitu malu meminta maaf kepada orang yang lebih muda. Hanya saja, memang dirinya harus meminta maaf. Tidak bisa menunda-nunda lagi. Terlebih sekarang, ditolong oleh dua orang yang dahulu dibencinya membuat Mama Saraswati sadar betapa berdosanya dia di masa lalu dengan Abraham dan juga dengan Marsha.
__ADS_1