
“Makasih Marsha dan Abraham sudah menyempatkan untuk mengunjungi Melvin di penjara. Semoga saja setelah kalian kunjungi bersama, Melvin bisa kembali semangat dan pulih,” ucap Mama Saraswati yang mengucapkan terima kasihnya kepada Marsha dan Abraham.
"Sama-sama Mama ... terima kasih banyak juga, akhirnya Marsha bisa meminta maaf juga kepada Melvin," ucapnya.
Bagi Marsha sendiri, jika tidak bertemu dengan Melvin hari ini, mungkin kesempatan untuk bermaaf-maafan tidak akan ada. Walau sebelumnya merasa ragu dan bimbang, tetapi setelahnya Marsha merasakan bahwa momen ini ada baiknya juga.
"Baiklah ... kalian berdua hati-hati yah pulangnya. Lain waktu, kala senggang Mama akan main ke rumah kalian lagi. Terima kasih banyak untuk hari ini," balas Mama Saraswati kepada Marsha dan Abraham.
Usai berpamitan, Marsha dan Abraham pun segera meninggalkan Lembaga Permasyarakatan tersebut. Abraham yang mengemudikan mobilnya pun melirik kepada Marsha yang duduk di sampingnya.
"Masih sedih?" tanya Abraham kemudian.
"Lumayan Mas ... ya, gimana yah persaanku. Intinya aneh saja, dan juga terasa gak enak di hati, Mas. Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, dulu jika teringat Melvin Andrian akan teringat dengan penguasa layar sinema, dan sekarang dia terlihat lusuh dan tidak bersemangat. Membuat hatiku terenyuh," ucap Marsha dengan menghela nafas sepenuh dada.
Abraham mendengarkan ucapan Marsha. Bukan menyalahkan, tetapi memang Abraham sendiri merasa kasihan saat melihat Melvin untuk kali pertama. Namun, Abraham sebagai pria tentunya lebih banyak diam.
"Uneg-uneg di dalam hatinya apa, katakan saja ... aku akan mendengarkannya kok," balas Abraham yang sekarang memberikan waktu dan kesempatan kepada Marsha untuk bisa menyampaikan uneg-uneg di dalam hatinya.
"Ya, itu saja sih Mas ... gimana yah, antara kasihan terus juga bersalah, terus jujur ya Mas ... jangan marah sama aku. Kelihatannya Melvin sedang tidak baik-baik saja," balas Marsha.
Kali ini Abraham yang sedang mengemudikan mobilnya perlahan melirik ke Marsha. Apa maksud bahwa Melvin sedang tidak baik-baik saja. Apakah itu karena berat badan Melvin yang menurun drastis, atau wajahnya yang lusuh, atau di bagian apa.
"Maksud kamu gimana?" tanya Abraham lagi.
__ADS_1
"Entahlah, Mas ... perasaanku saja rasanya tidak enak. Aku butuh pelukanmu, Mas ... sedih aku," balas Marsha.
Abraham pun meraih satu tangan Marsha, menggenggamnya, dan kemudian dia mengusapi punggung tangan Marsha. Tidak cemburu, tapi Abraham lebih menempatkan diri bahwa memang Marsha sedang sedih saja. Perubahan mood yang sedang dialami Marsha sekarang ini.
"Nanti sampai di rumah, aku peluk yah," balas Abraham.
"Hmm, iya," balas Marsha dengan singkat.
Abraham terus melajukan mobilnya hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Ketika memasuki rumah mereka berbicara kepada Mama Diah terlebih dahulu bahwa mereka ingin mandi dulu. Bagaimanapun usai dari keluar rumah dan juga usai dari lembaga permasyarakatan sehingga lebih baik mereka membersihkan diri dulu.
Setelahnya, Marsha dan Abraham turun menemui Mama Diah di ruang tamu. Mama Diah sudah tersenyum menatap Marsha dan Abraham.
"Sudah?"
"Kamu habis menangis ya Sha?" tanya Mama Diah kemudian.
Marsha pun tersenyum dan mengusap area matanya, "Hmm, kelihatan ya Ma?" tanyanya.
"Iya, kelihatan ... sudah santai saja dulu, mumpung sudah di rumah. Mira dan Marvel juga baru bobok. Biar saja," ucap Mama Diah.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Sini, jadi mau dipeluk enggak?" tanyanya.
"Eh, jangan di sini, Mas ... malu ada Mama," balas Marsha.
__ADS_1
"Kan cuma peluk. Ma, Bram boleh meluk anak gadisnya Mama kan?" tanya Abraham kepada Mamanya secara langsung.
Mama Diah pun tertawa, "Peluk saja, lebih dari pelukan pergi sana," balas Mama Diah dengan menatap Abraham di sana.
Abraham pun segera memeluk Marsha untuk sesaat. Dia mengecup puncak kepala Marsha dan mengusapi punggungnya. Dipeluk Abraham nyatanya membuat Marsha kembali menitikkan air matanya.
"Makasih Mas," balas Marsha dengan mengurai pelukan dari suaminya itu.
"Sedih ya Sha?" tanya Mama Diah lagi.
"Iya Ma," balasnya.
"Kenapa?" tanya Mama Diah.
"Perasaan Marsha tidak enak saja. Cuma sekaligus rasanya lega karena bisa meminta maaf secara langsung kepada Melvin," akunya.
Mama Diah yang mendengarkan pun menganggukkan kepalanya, "Ya, kalau sudah meminta maaf dan saling memaafkan artinya kembali ke fitri lagi, Sha. Sudah lega dan tenang sekarang. Kalian sudah berbesar hati dan melakukan apa yang benar," respons dari Mama Diah.
"Iya Ma ... Marsha berharap Melvin bisa kian membaik kondisinya. Bisa menjalani masa tahanan yang tersisa," ucapnya dengan tulus.
"Amin," balas Abraham.
Ya, Abraham pun sepakat dengan Marsha yang juga berharap yang terbaik untuk Melvin. Di masa lalu memang ketiga pihak sama-sama bersalah dalam porsinya masing-masing. Akan tetapi, sekarang mereka lebih fokus untuk meniti masa depan dan berharap kebaikan untuk keduanya.
__ADS_1