
Hari masih siang, ketika Marsha bersama Abraham dan Mira tiba di Jakarta. Kembali menginjakkan kakinya di Ibukota membuat Marsha sadar bahwa momen liburannya benar-benar telah berakhir. Akan tetapi, Marsha pun sepenuhnya ingat bahwa waktu yang akan dia jalani bersama Abraham akan terus untuk selamanya, sampai akhir usianya.
"Sudah sampai di Jakarta, Sayang ... aku pesan taksi dulu yah, untuk mengantar kita pulang ke rumah," ucap Abraham kepada istrinya.
"Iya Mas ... enggak terasa yah, kita sudah sampai di Jakarta lagi," balasnya.
Marsha lantas menatap kepada suaminya, "Keseharian kita akan dimulai lagi di kota ini, Mas. Semarang memang indah, penuh dengan kenangan manis kita berdua sewaktu pacaran. Akan tetapi, di Jakarta lah tempat kita tinggal dan beraktivitas. Jadi, mari kita mulai lagi. Mengisi keseharian dengan saling mengasihi satu sama lain," ucap Marsha.
Nah, sosok Marsha seperti inilah yang membuat Abraham begitu senang. Beberapa jam yang lalu, Marsha memang menangis, tidak ingin pisah dari Mama Diah. Akan tetapi, begitu dia sudah bisa memproses pikiran dan perasaannya, Marsha pun termasuk menjadi orang yang bijak dalam menyingkapi hidup. Sosok seperti Marsha lah yang Abraham butuhkan untuk terus menemaninya.
"Benar Shayang … sudah kangen rumah belum?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
"Kangen, kangen banget. Kangen sama kamar kita," balas Marsha.
Rasanya rumah dan kamar pribadi adalah dua tempat yang begitu dirindukan Marsha sekarang ini. Kamar tempat peraduannya bersama dengan Abraham. Kamar yang memiliki banyak kisah dan cerita baginya dan juga Abraham.
Hingga akhirnya mereka keluar dari Stasiun Gambir, dan menaiki taksi yang akan mengantarkan mereka kembali ke rumah. Hiruk pikuk jalanan kota Jakarta akan menjadi bagian dari aktivitas mereka. Semoga saja usai ini kehidupan keduanya bisa lebih bahagia bersama.
Begitu tiba di rumah, Abraham dan Marsha bersama-sama membersihkan rumah, bahkan keduanya kompak mengganti sprei di kamarnya dan di kamar Mira. Semuanya dilakukan bersama-sama. Usai itu, mereka sama-sama mandi dan membersihkan diri. Lantas mulai akan membagikan oleh-oleh kepada Bu Sara.
"Mas, ke rumah Bu Sara sebentar yuk? Mau anterin oleh-oleh. Kan kalau Lumpia nya ini tidak tahan lama, hanya tiga hari penyimpanan di freezer. Kalau bisa segera diolah Bu Sara kan makin bagus," ajak Marsha kali ini kepada suaminya.
__ADS_1
"Ya sudah yuk, aku ganti celana dulu yah. Malu ke sana pakai celana pendek," balas Abraham.
Memang sehari-hari di rumah Abraham hanya mengenakan celana pendek rumahan dan kaos oblong saja. Akan tetapi, ketika hendak ke rumah tetangganya yang tak lain adalah Belva Agastya, dia harus berganti celana, supaya lebih sopan.
Hingga akhirnya, kini mereka bertiga menuju kediaman Belva Agastya. Abraham memilih menaiki sepeda motornya dan membawa Marsha sembari menggendong Mira.
"Permisi," sapa mereka begitu tiba di kediaman mewah milik keluarga Agastya.
"Silakan masuk Pak Bram, mari saya antar," sambut sekuriti di rumah itu yang memang sudah mengenal Abraham dan Marsha.
Sekuriti itu sendiri yang mengantar Abraham dan Marsha sampai di depan pintu dan memanggilkan Bu Sara.
Dari dalam rumah pun, Bu Sara tampak menghampiri kedua tetangganya itu.
Duo E yaitu Evan dan Elkan pun juga berlarian mengejar Mamanya, dan menyapa Abraham dan Marsha.
"Halo Om Abraham dan Tante Marsha," sapa keduanya sembari mencium punggung tangan Marsha dan Abraham.
"Halo … sepekan enggak ketemu, makin cakep yah," goda Marsha.
Evan, si sulung yang pendiam pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sementara Elkan yang lebih supel dan friendly pun mengucapkan terima kasih kepada Marsha.
__ADS_1
"Bu Sara, ini ada sedikit oleh-oleh dari Semarang. Titipannya Mama," ucap Marsha dengan memberikan kantung plastik berisi oleh-oleh itu.
"Wah, makasih banyak ya Marsha dan Mas Bram. Pasti repot ini, dan juga banyak banget," ucap Sara dengan menerima oleh-oleh dari Marsha dengan senang hati.
"Tidak repot kok Bu," sahut Abraham.
"Wah, ada Lumpia Semarang dan Bandeng Juwana juga. Kebetulan banget, aku baru pengen ini," balas Bu Sara.
Marsha pun tersenyum, "Itu dari Mama Diah kok Bu Sara. Mama Diah masih ingat ketika dulu Bu Sara ingin Lumpia dan Bandeng Presto," balas Marsha.
Sara pun segera menganggukkan kepalanya, "Iya, kamu tahu Nasi Kucing, Sha? Aku kayaknya mau buat itu besok. Mumpung punya Bandeng Presto," jawabnya.
Kalo ini Abraham dan Marsha sama-sama tertawa. Tidak mengira bahwa wanita yang sudah menjadi pebisnis sukses, istri CEO kenamaan Belva Agastya, rupanya doyan juga dengan Nasi Kucing.
"Bu Sara tahu Nasi Kucing?" tanya Marsha.
Dengan cepat Sara pun menganggukkan kepalanya, "Sangat tahu, itu makanan sehari-hariku dulu, Sha. Aku bukan dari kalangan jutawan yang bisa membeli apa pun yang aku mau. Aku puas dengan memakan dua bungkus nasi Kucing setiap kali makan. Jika pulang kerja malam, aku membeli Pecel Lele Nasi Uduk seharga Rp. 12.000. Ya, itulah hidup, Sha," balas Bu Sara.
Cerita yang tak pernah Bu Sara bagikan kepada orang lain, kecuali suaminya kini bisa Bu Sara sampaikan kepada Marsha dan Abraham. Akan tetapi, kini Marsha yakin Bu Sara lebih dari mampu untuk memakan Nasi Kucing.
"Lika-liku hidup tidak pernah ada yang tahu Bu Sara," balas Abraham.
__ADS_1
"Benar Mas Bram, tidak pernah ada yang tahu. Berkat Nasi Kucing aku bisa bertahan hidup sampai sekarang," balas Sara.
Marsha pun tersenyum di sana. Wanita kaya raya dan pemilik waralaba dengan berbagai cabang di puluhan kota rupanya pernah merasakan hidup di bawah dan hanya mengonsumsi Nasi Kucing saja. Tepat yang disampaikan Abraham bahwa lika-liku hidup tidak pernah ada yang tahu.