Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Hanya Sekadar Gosip


__ADS_3

Begitu sampai di hotel, Marsha pun segera masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi, wanita itu tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Abraham terlebih dahulu. Sebab, tanpa Abraham dirinya tidak akan bisa sampai di hotel di kota Jogjakarta. Juga, Marsha pun berterima kasih kepada Abraham yang sudah menenangkannya.


"Thanks ya Bram ... thanks udah mau dengerin cerita gue," ucap Marsha.


"No problem, Sha. Kapan pun, kamu merasa sedih dan membutuhkan teman untuk berbagi. Aku bakalan selalu ada buat kamu," jawab Abraham kali ini.


Ya, bagi Abraham dirinya sama sekali tidak masalah untuk mendengarkan keluh kesah Marsha. Justru Abraham akan membuka lebar telinganya untuk mendengarkan segala keluh kesah Marsha. Sebab, jika hatimu gundah dan ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahmu, itu sudah sangat melegakan hati dan perasaanmu. Itulah yang ingin Abraham lakukan bagi Marsha.


"Oke Bram ... next time, gue akan cerita lagi. Ya sudah, gue masuk duluan yah. Thanks," balas Marsha.


Wanita itu pun segera bergegas untuk turun dari mobil Abraham dan naik dengan menggunakan lift ke dalam kamarnya.


Rupanya baru memasuki kamar, handphone Marsha sudah berdering. Marsha menatap ke layar handphonenya dan tertera nama Melvin yang menghubunginya. Marsha pun segera menggeser ikon telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan itu.


"Ya, halo Ayang ... ada apa?" sapa Marsha begitu panggilan telepon dengan suaminya itu terhubung.


"Halo Yang, kamu ada di mana?" tanya Melvin begitu dia mendengar suara Marsha.


"Aku baru saja selesai pemotretan. Baru saja tiba di hotel," jawab Marsha dengan jujur.


Sebab pada kenyataannya, memang dirinya baru saja menyelesaikan pemotretan yang tidak maksimal di kawasan Air Terjun Kedung Kayang. Selain karena hujan yang turun tiba-tiba, juga karena Marsha yang merasakan perubahan suasana hati yang buruk akibat gosip suaminya itu.


"Kamu sudah mendengarkan berita hari ini?" tanya Melvin lagi.


Agaknya Melvin memang memberikan pertanyaan pada Marsha terlebih dahulu. Jika Marsha mengaku telah mendengar berita miring tentangnya, barulah Melvin akan menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Iya, aku mendengarnya. Apakah itu benar?" tanya Marsha.


Tidak dipungkiri sekarang hatinya begitu bergemuruh. Rasanya Marsha ingin mendengar penjelasan dari Melvin secara langsung. Akan tetapi, dengan posisinya yang sedang berada di luar kota seperti sekarang ini membuat Marsha hanya bisa mendengarkan penjelasan dari suaminya itu melalui telepon.


"Itu hanya sekadar gosip, Ayang. Dia bukan siapa-siapa aku," ucap Melvin kali ini.


Akan tetapi, saat Melvin mengucapkan semua itu. Hati Marsha rasanya justru bergejolak. Mungkinkah jika memang wanita itu bukan siapa-siapa bagi Melvin, tetapi Melvin terlihat jelas tengah menggandeng tangan wanita itu. Rasa-rasanya, Marsha belum bisa menerima penjelasan Melvin itu.


"Jadi, dia siapamu? Jika bukan siapa-siapa kenapa menggandengnya?" tanya Marsha lagi. Agaknya kali ini Marsha sepenuhnya tidak yakin dengan jawaban Melvin. Marsha ingin mendengarkan penjelasan dari Melvin secara gamblang.


Di seberang sana Melvin tampak memijat pelipisnya yang begitu pening rasanya, barulah kemudian Melvin menjawab pertanyaan Marsha. "Dia sepupuku, Yang. Anaknya Tanteku. Kebetulan kami sudah dekat dari kecil," jelas Melvin kali ini.


"Sepupu yang mana Yang? Mungkinkah aku tidak mengenal sepupumu itu?" tanya Marsha lagi.


Marsha sendiri sedang berusaha mengingat-ingat sepupu Melvin yang bernama Lista. Kenapa rasanya nama Lista begitu asing di telinga Marsha kali ini. Atau memang dirinya yang tidak mengenal sepupu Melvin yang bernama Lista itu.


"Kamu mungkin tidak mengenalnya, Yang. Sebab, Lista tidak datang di saat pernikahan kita. Dia bekerja di luar kota. Kemarin dia ke Jakarta dan ingin bertemu denganku. Jadi, dari bandara itu usai mengantarkan kamu, aku menemuinya sebentar," jelas Melvin kali ini kepada Marsha.


Terlihat Marsha tersenyum getir. Pasalnya dia sama sekali tidak ingat dengan gadis bernama Lista yang disebutkan suaminya itu. Hatinya masih bergejolak dan seakan tidak percaya. Namun, Marsha akan mencoba menerimanya terlebih dahulu. Sembari, Marsha akan menunggu sampai pekerjaannya di Jogjakarta selesai. Di Jakarta nanti, Marsha tentu akan meminta kepada Melvin untuk menjelaskan semua kepadanya.


"Baiklah, Yang. Hanya saja, kumohon jangan membuat pemberitaan tidak sedap seperti ini. Lebih berhati-hati lagi," nasihat Marsha kali ini.


Marsha memberikan nasihat kepada suaminya karena memang sebagai publik figur, Melvin harus bertindak dengan berhati-hati. Perilakunya akan menjadi sorotan media. Bukan hanya itu, apa yang diposting Melvin di akun media sosialnya saja bisa menjadi pemberitaan media. Bahkan di zaman dengan teknologi yang begitu cepat itu, berita tentang para selebriti tanah air bisa didapatkan dengan menggerakkan jari di telepon pintar. Men-scrolling berbagai akun instagram aktris dan aktor ternama, melihat posting berbagai akun gosip di media sosial.


"Iya Ayang, maaf. Kamu percaya kan sama aku?" tanya Melvin kepada Marsha.

__ADS_1


Di dalam hatinya, rasanya Marsha ingin menjawab bahwa dirinya tak percaya. Diri merasa penjelasan yang diberikan Melvin itu sifatnya bias. Terlebih sekarang, justru Marsha ingin mencari tahu siapa sosok wanita bernama Lista yang disebutkan Melvin sebagai sepupunya itu.


"Entahlah, Yang. Aku cukup kaget dengan pemberitaan media tentangmu secara terus-menerus," jawab Marsha.


"Cuma gosip semata, Ayang. Lagian kamu tahu sendiri kan kalau kehidupanku pasti akan penuh dengan gosip. Risiko memiliki suami sepertiku," balas Melvin.


Seolah Melvin ingin menekankan bahwa menikahi seorang aktor papan atas berisiko. Banyak gosip yang akan mewarnai perjalanan karirnya.


"Baiklah, nanti setibanya aku di Jakarta. Kita obrolkan lagi," jawab Marsha disertai helaan nafas yang begitu berat.


"Ayang, boleh aku minta satu hal," balas Melvin masih melalui panggilan selulernya itu.


Terlihat Marsha mengernyitkan keningnya, wanita itu tampak mengalihkan handphone ke telinganya yang satu lagi dan mencoba mendengarkan terlebih dahulu permintaan Melvin kali ini.


"Hmm, permintaan apa?" tanya Marsha.


"Begini Yang, kalau ada wartawan yang hubungi kamu dan minta wawancara melalui telepon. Tolong jawab kalau kehidupan rumah tangga kita baik-baik saja. Pastikan juga kalau aku tidak ada hubungan sama sekali dengan wanita di foto itu," ucap Melvin.


Kali ini justru Marsha tersenyum kecut dan memejamkan matanya perlahan. Tidak mengira suaminya akan meminta permintaan seperti itu dan juga seolah mendiktenya jika ada wartawan yang ingin mewawancarai.


"Yang, kamu dengar aku kan?" tanya Melvin lagi kepada Marsha.


"Baiklah," jawab Marsha dengan berat hati.


Entah rasanya usai mendengar permintaan Melvin justru kian menimbulkan tanda tanya besar di dalam hati Marsha. Agaknya memang Marsha harus mencari tahu perempuan bernama Lista yang diakui Melvin sebagai sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2