Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menebus Kesalahan


__ADS_3

Abraham masih duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, rasanya dia masih begitu rindu dengan istrinya itu. Tiga hari tidak bertemu membuat Abraham merasa begitu rindu. Bahkan kini Abraham memejamkan rasanya dan menikmati waktu berdua bersama dengan Marsha.


"Aku kangen banget sama kamu, Shayang," ucap Abraham dengan sedikit lirih. "Kamu tidak kangen sama aku?" tanya Abraham kemudian.


"Hmm, ya kangen ... kenapa?" tanya Marsha dengan sedikit judes malahan.


Abraham pun tersenyum, "Syukurlah kalau kamu juga kangen aku ... padahal aku di Jakarta, gak bisa tidur, kepikiran kamu terus," balas Abraham.


Marsha tersenyum dalam hati, itu berarti memang suaminya itu kangen kepadanya. Melihat Abraham dan mendengar pengakuannya membuat Marsha yakin bahwa suaminya itu memang merindukannya. Namun, Marsha ingin tahu jika dia berulah menyebalkan, akankah suaminya itu mau menuruti apa yang dia mau.


Siang itu, setelah cuaca begitu terik, rupanya kota Semarang diguyur hujan yang begitu lebat. Marsha pun ingin mengetes apakah memang kali ini suaminya itu bisa berubah menjadi sosok yang lebih peka.


"Mau beli Bestik di Toko Oen dong Mas," pinta Marsha kali ini.


Abraham tampak menarik kepalanya dari bahu istrinya dan kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Yuk, pakai jaket yah ... Mira dititipkan ke Eyangnya dulu. Hari ini buat kamu, Mama Marsha mau beli apa saja, aku beliin yuk," balas Abraham.


Betapa senangnya hati Marsha karena suaminya itu telah berubah. Untuk itu, Marsha pun menemui Mama Diah terlebih dahulu dan kemudian meminta izin untuk ke Toko Oen, dia ingin membeli Bestik dan juga Lumpia Mbak Lien yang ada di Jalan Pemuda, Semarang.


"Iya sana ... penting hati-hati yah ... nyetir mobilnya juga hati-hati, hujan," ucap Mama Diah.


"Kami titip Mira ya Ma," balas Marsha.


"Tenang saja ... kalian berdua pacaran dulu. Beberapa hari tidak bertemu pasti kangen," balas Mama Diah lagi.

__ADS_1


Abraham pun segera membawa istrinya untuk menuju ke pusat kota Semarang di Jalan Pemuda untuk membeli apa yang diinginkan oleh istrinya itu. Dalam perjalanan mereka melewati area Simpang Lima, dan beberapa mall yang ada di sana.


"Selalu rindu dengan kota ini," gumam Marsha dengan tiba-tiba.


"Kamu sebenarnya pulang ke Semarang karena memang niat mau pulang dan kangen kota ini atau marah sama aku sih Yang?" tanya Abraham dengan tiba-tiba.


"Tujuan utamanya sebel sama kamu. Tidak peka," balas Marsha.


Abraham pun tidak marah, dia justru tersenyum di sana, "Maaf yah ... aku gak akan mengulangi lagi. Cuma kamu sendiri juga jangan cepet marah. Cantik-cantik marah, nanti cantiknya hilang loh," balas Abraham.


Marsha melirik suaminya itu, "Kalau cantiknya hilang dan aku tidak cantik lagi, kamu bakalan ninggalin aku ya Mas?" tanya Marsha dengan tiba-tiba pula.


"Tidaklah Sayang ... selamanya aku akan selalu bersamamu. Di mataku kamu selalu cantik kok," balas Abraham dengan sangat serius.


Lantas sekarang, mereka sudah tiba di Toko Oen, dan mereka memasuki tempat itu bersama. Toko Oen sendiri adalah bisnis kuliner legendaris yang telah dirintis sejak era kolonial Belanda. Secara konsisten toko ini menghadirkan berbagai menu lezat bergaya Belanda dan tak henti berinovasi hingga berhasil bertahan sampai sekarang sejak didirikan pada tahun 1922.


"Bestik Daging Sapi, Kroket, dan Es Teh," balas Marsha.


Sementara Abraham sendiri memesan Bestik juga dan memesan Panekuk Ice Cream. Pikirnya, sapa tahu istrinya itu ingin makan es krim, tinggal memakan yang sudah dia pesan. Tidak perlu memesan tambahan menu lagi.


Kurang lebih 10 menit mereka menunggu dan seakan bernostalgia dengan toko yang begitu kental dengan arsitektur dan desain era kolonial itu, keduanya pun mengobrol bersama.


"Terakhir ke sini kapan Yang?" tanya Abraham.

__ADS_1


"Kapan ya Mas ... waktu kita kuliah dulu enggak sih? Aku masih ingat waktu itu kita juga makan Bestik Daging Sapi dan juga Roti Ganjel Rel. Sudah bertahun-tahun berlalu," balas Marsha.


Abraham pun tersenyum karena rupanya istrinya itu masih mengingat dengan kapan terakhir kali mereka mengunjungi Toko Oen. Bahkan apa yang mereka pesan pun Marsha juga masih hafal.


"Silakan pesanannya," ucap pelayan yang menghantar makanan yang sudah mereka pesan.


Senyuman mengembang di wajah Marsha kala bisa menikmati makanan yang sudah dia idam-idamkan itu. Rasanya kian spesial karena bisa menikmatinya bersama dengan Abraham, suaminya.


"Silakan dimakan, Nyonya Abraham ... kalau kurang, boleh pesen lagi," balas Abraham.


Marsha pun tersenyum, dan kemudian mengambil bagian daging sedikit dan menyuapkannya kepada suaminya, "Suapan pertama," ucapnya.


Abraham juga tersenyum dan membuka mulutnya, menerima suapan dari istrinya. Seolah membalas kebaikan Marsha, Abraham juga mengambil sedikit miliknya dan memberikan suapan pertama untuk Marsha.


"Suapan pertama ... first bite untuk Bumilku tercinta," ucap Abraham.


"Makasih Papa Abraham," balas Marsha sembari mengunyah daging sapi itu.


"Enak?" tanya Abraham.


"Iya, enak banget ... rasanya tidak pernah berubah. Legend dan otentik gitu ya Mas," balas Marsha.


Abraham pun tersenyum, "Benar ... kamu kasih komentarnya kayak food vlogger deh, Yang."

__ADS_1


Marsha terkekeh geli di sana, "Rasanya ... Bestik ini semakin enak rasanya karena makannya sama kamu. Lebih enak," balas Marsha dengan tersenyum.


Di dalam hatinya Abraham tersenyum, menuruti apa yang dimaui istri membuatnya bahagia. Andai saja dulu dia bisa lebih peka, sudah pasti Marsha tidak akan sampai pergi ke Semarang. Namun, semua peristiwa ada hikmahnya. Semoga usai ini Marsha dan Abraham bisa saling melekat dan saling rukun. Bisa mendinginkan ego masing-masing dan juga menahan letupan emosi yang bisa terjadi.


__ADS_2