
“Marsha … kamu Marsha kan?”
Marsha yang sebelum tersenyum dan wajahnya begitu cerah merekah, kini dalam sekian detik waktu berlalu, senyuman itu sirna sudah. Marsha menghela nafas, saat wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arahnya.
Gerakan tangan Marsha yang semula mengusapi perutnya pun perlahan terhenti. Berdiri dalam keadaan terpaku dan juga gugup harus menyingkapi apa. Melihat perubahan ekspresi Marsha, Abraham pun membawa tangan Marsha dalam genggamannya. Abraham bahkan menyisipkan jari-jarinya di antara sela-sela jari Marsha, dan memberikan sedikit remasan di sana.
“Gimana kabar kamu Marsha?” tanya wanita paruh baya itu dengan menatap wajah Marsha.
“Baik Ma,” jawab Marsha dengan lidah yang serasa begitu kelu.
Bagaimana tidak kelu, karena setelah berbulan-bulan berlalu dan kini dia justru dengan mantan mertuanya dulu di pusat perbelanjaan itu. Tentu saja, Marsha merasa canggung dan juga takut. Ya, merasa takut karena Mama Saraswati, Ibunda Melvin sama sekali tidak menyukainya.
Mama Saraswati lantas menatap tajam ke perut Marsha yang sudah membuncit, wanita paruh baya itu pun langsung tersenyum sinis menatap Marsha.
__ADS_1
“Perut kamu? Kamu hamil Marsha?” tanya Mama Saraswati.
Sebenarnya tidak perlu menjawab pun semua orang juga sudah tahu bahwa Marsha tengah hamil, terlihat dari perutnya yang sudah membuncit dan begitu besar.
Mama Saraswati pun menggelengkan kepalanya perlahan, “Ckck, tidak mengira … usai bercerai dengan Melvin, secepat ini kamu hamil. Coba kita hitung, pasti anak itu adalah anak yang terjadi karena hubungan di luar nikah yah?”
Jujur saja, mendengar ucapan panas dan pedas dari Mama Saraswati seolah menghantam dada Marsha. Tidak mengira bahwa seorang wanita, seorang ibu bisa berbicara demikian.
Abraham pun mengepalkan tangannya. Sungguh, dadanya juga terasa sesak mendengarkan semua ucapan pedas dari wanita yang dulunya adalah mertua istrinya itu. Rasanya Abraham ingin merobek mulut wanita itu.
Abraham mengambil satu langkah, dengan tetap mempertahankan tangan Marsha di dalam genggamannya.
“Tante … tolong, jika berbicara itu yang sopan. Tante tidak tahu bagaimana kelakuan putra tercinta Tante kan? Tante hanya melihat Marsha sebagai orang yang bersalah, tetapi tidak melihat kesalahan putra Tante sendiri. Andai Tante tahu bagaimana kelakuan putra Tante di luar sana, tak lebih dari pria yang hanya mencari lubang kenikmatan. Sekalipun Marsha hamil di luar nikah, tetapi anak ini tetap lahir dalam pernikahan. Anak ini lahir karena cinta kedua orang tuanya,” ucap Abraham dengan begitu marah.
__ADS_1
Ya, mendengar bahwa Marsha mendapatkan ucapan yang begitu pedasnya, Abraham begitu geram. Tidak terima dengan ucapan wanita yang sangat melukai istrinya itu. Sehingga, Abraham pun tak segan untuk menjawab dan membalikkan semua ucapan Mama Saraswati.
“Hei, jangan sok yah … bagaimana pun kamu tidak ada apa-apa sama anak saya. Anak saya jauh di atas segala-segala dari kamu. Pantas saja, wanita murahan pantasnya dengan pria seperti kamu,” balas Mama Saraswati.
Abraham nyaris tak bisa menahan amarahnya, Marsha segera mengalungkan tangannya di lengan suaminya itu. “Sabar Mas … sabar. Jangan sampai terprovokasi. Bagaimana pun ini adalah tempat umum, sabar yah,” bisik Marsha dengan lirih.
Kini giliran Marsha yang mengambil satu langkah di depan, “Permisi Tante … lain kali kalau berbicara tolong dijaga, Tante. Suatu saat Tante akan menuai dari sikap buruk yang Tante lakukan kepada saya. Ingat, orang yang saat ini di atas tidak akan selamanya di atas. Pun mereka yang di bawah juga tidak akan selamanya di bawah. Oleh karena itu, ingat bahwa roda terus berputar, Tante,” balas Marsha.
Usai mengucapkan semuanya itu, Marsha menarik tangan Abraham dan mengajak suaminya itu untuk pergi. Tidak mengira, jalan-jalan di Mall siang justru membuatnya kembali bertemu dengan Mama Saraswati dan menerima pergunjingan dari wanita paruh baya itu.
Jujur saja, hati Marsha begitu sakit saat Mama Saraswati dengan mulut pedasnya mengatai bahwa dirinya hamil di luar nikah. Walau faktanya, Marsha memang hamil di luar nikah, tetapi anaknya nanti akan lahir di dalam pernikahan yang sah. Pernikahan yang terikat di hadapan Tuhan dan di hadapan hukum negara.
Orang-orang selalu menggunjingkan kesalahan orang lain, tanpa menilai pada diri sendiri. Marsha mengakui bersalah, hasrat terlarang yang berakhir dengan dirinya yang berbadan dua. Dirinya salah, tetapi janin dalam rahimnya sama sekali tidak salah. Janinnya datang dan tumbuh dalam rahimnya karena ketetapan Tuhan dan sekaligus garis takdir yang harus Marsha jalani. Namun, Marsha sepenuhnya tahu bukan hanya mantan mertuanya, di luar sana juga akan banyak orang-orang yang menggunjingkannya.
__ADS_1