
Tak ingin melihat istrinya terus-menerus menangis dan tertekan dengan masalah orang tuanya. Abraham mengambil keputusan untuk mengajak Marsha kembali ke Jakarta, lebih cepat. Sebab, yang Abraham pikirkan bukan hanya Marsha, tetapi juga janin di dalam rahim istrinya yang juga membutuhkan sang ibu stabil secara mental. Terlarut dalam kesedihan dampaknya juga tidak baik untuk si Janin.
Begitu juga dengan Marsha yang mengikuti rencana sang suami yang mengajaknya untuk kembali ke Jakarta lebih cepat. Tidak perlu menunggu sampai akhir pekan, karena Marsha sudah terlihat terlampau sedih dengan masalah keluarganya.
"Sudah, jangan nangis terus," ucap Abraham yang berusaha menenangkan Marsha.
"Aku kecewa Mas ... aku ini anaknya, tapi kok kayak enggak dianggap. Mereka menikah dan bercerai seenaknya sendiri, setelahnya kembali menikah dengan pasangan yang baru. Aku terluka, Mas," balas Marsha.
Tidak dipungkiri ada luapan kekecewaan dari seorang Marsha sebagai anak kepada kedua orang tuanya sendiri. Dari kecil sampai sekarang, Marsha merasa menjadi korban dari perpisahan kedua orang tuanya. Sekarang, Marsha pun merasa menjadi korban dari kedua orang tuanya lagi.
"Iya, aku tahu ... aku tahu kamu terluka. Sudah, kasihan babynya. Lusa kita kembali ke Jakarta. Aku tidak mau mengambil risiko dengan liburan di Semarang terlalu lama," balas Abraham.
"Iya Mas ... aku pulang ke Jakarta. Cuma di sana, jangan acuh lagi ya Mas," pinta Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Tentu Shayang ... tegur aku, atau marahin aku saja jika memang aku acuh dan tidak peduli padamu. Maafkan aku yah," balas Abraham.
Marsha menganggukkan kepalanya. Sungguh, dia tidak ingin merasakan pahitnya kegagalan membina rumah tangga lagi. Dulu, Marsha pernah gagal. Sekarang, bersama Abraham pria yang sangat tepat untuknya, Marsha ingin rumah tangga yang sekarang mereka bina bisa bertahan untuk selamanya, hingga akhir usia.
***
Dua hari kemudian ....
Hari ini menjadi hari di mana Marsha akan kembali lagi ke Jakarta. Kali ini, Mama Diah tidak ikut ke Jakarta, dan masih harus tinggal di Semarang. Terlihat Marsha menjadi mellow kala berpamitan dengan mama mertuanya itu.
"Mama, kami pamit ke Jakarta dulu ya, Ma ... nanti kalau Mama sudah senggang dan juga hari persalinan Marsha kian dekat, Mama ke Jakarta ya Ma ... temani Marsha," pintanya.
Mama Diah pun membuka tangannya dan memeluk menantunya itu, "Iya, nanti Mama akan ke Jakarta kalau waktunya bersalin sudah dekat yah. Mama doakan kamu sehat dan bahagia. Jangan nangis terus yah ... Bumil harus bahagia," pesan dari Mama Diah kepada menantunya itu.
Di pelukan Mama Diah, Marsha menitikkan air matanya. Rasanya aneh, kenapa justru Marsha lebih merasa sayang dan juga lebih tenang hatinya dengan Mama mertuanya, bukan dengan mama kandungnya.
__ADS_1
Setelahnya, Mama Diah berpesan kepada putranya, "Bram, inget pesannya Mama ... yang sabar ... lebih peka menjadi suami. Kalau Marsha pengen sesuatu dicarikan dulu, memberikan yang terbaik untuk istri sendiri itu bagus. Awas, kalau kamu bikin Marsha nangis lagi, Mama jewer kamu," ucap Mama Diah.
Abraham pun menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, "Fixed ... Marsha yang anak kandungnya Mama, dan aku anak pungut. Nggih Mama ... Bram akan inget pesannya Mama," balasnya.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya, Marsha tersenyum di sana. Memang Marsha bisa merasakan bahwa kasih sayang yang diberikan Mama Diah kepadanya sebesar itu. Marsha tidak dibeda-bedakan, justru disayangi layaknya anak perempuannya sendiri.
"Kalau Mas Bram nakal dan nyebelin, Marsha aduin ke Mama yah," balas Marsha.
"Tentu, Sha ... biar nanti Mama sidak ke Jakarta," balas Mama Diah.
Mira kecil pun turut berpamitan kepada Eyangnya, "Eyang ... Mira pulang ke Jakarta dulu yah. Eyang jangan lama-lama di Semarangnya, ke rumah Mira ke Jakarta ya Eyang," ucapnya.
Mama Diah pun memeluk cucunya itu, "Iya ... nanti kalau Mira sudah punya adik bayi, Eyang ke rumahnya Mira yah?"
"Iya Eyang ... ditunggu Mira di Jakarta yah," balasnya.
Mama Diah kemudian mengusapi rambut Mira yang lurus dan panjang itu, "Kalau main sama Kak Evan dan Kak Elkan hati-hati yah, jangan nakal," pesannya.
"Hati-hati yah ... kalian semua. Nanti hasil USG cucunya Eyang cewek atau cowok, Eyang dikasih tahu yah," balasnya.
Akhirnya, Abraham, Marsha, dan Mira benar-benar berpamitan dan sekarang mereka menuju ke Stasiun Tawang untuk menaiki kereta api menuju ke Jakarta. Begitu sudah menaiki kereta api, Marsha beberapa kali menerung dan juga terheran dengan jalan hidupnya. Melihat istrinya yang lebih banyak diam, Abraham pun mengajak bicara Marsha, karena Mira sudah tertidur sekarang.
"Kenapa diem aja? Jangan sampai pikirannya kosong," ucap Abraham.
"Enggak ... kadang aku berpikir, hidupku kok tragis. Terlepas dari masa laluku dulu, ternyata aku dulu juga bukan anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian penuh dari orang tuaku," balas Marsha.
"Ya, setiap keluarga memiliki problematikanya sendiri-sendiri, Shayang ... jadi, tidak apa-apa. Aku pun bukan dari keluarga yang bahagia, sejahtera. Aku juga mengakui inner child-ku terluka dan kamu sangat tahu itu. Namun, aku harus kuat untuk kamu, Mira, dan si baby. Yang buruk di masa lalu ditinggalkan dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik," balas Abraham.
"Kamu kuat Mas ... sementara aku rapuh," balas Marsha.
__ADS_1
Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak ... justru kamu itu sangat kuat. Kenapa demikian? Karena kamu menjadi tempatku, Mira, dan si Baby untuk bersandar. Jadi, kamu itu kuat," balas Abraham.
Marsha tersenyum pias di sana, dan mengalihkan pandangannya ke persawahan yang dia lihat dari kaca jendela kereta api, "Semoga aku bisa tumbuh seperti padi itu. Berdiri, berakar, hingga aku menguning dan siap dipanen. Semoga aku kuat dan bermanfaat, paling tidak untuk kamu dan anak-anakku," balas Marsha.
"Pasti Shayang ... kamu kuat dan bermanfaat. Sudah jangan nangis lagi. Nanti di Jakarta, kamu ingin apa?" tanya Abraham kemudian.
"Pengen di rumah saja Mas ... ada kamu dan Mira, dan si baby sehat saja sudah bersyukur banget," balas Marsha.
"Iya, itu pasti ... aku juga akan lebih peka. Maafkan aku ya untuk salahku," ucap Abraham lagi.
Ya, kembali di Jakarta harapan yang Marsha ucapkan tidak begitu muluk-muluk. Merasakan kebahagiaan bersama anak dan suaminya. Rasanya itu saja sudah cukup untuk Marsha.
***
Dear My Bestie,
Sembari menunggu bab selanjutnya, mampir juga ke karya terbaru Author yuk yang berjudul Pernikahan Sedarah. Dengan sinopsis sebagai berikut.
Apa jadinya jika pernikahan yang menyatukan dua insan dalam satu biduk dalam rumah tangga, nyatanya harus berakhir lantaran kenyataan pahit!
Hari bahagia ketika Chandra menikah dengan Hayu, harus menjadi hari di mana masa lalu keduanya terungkap. Ada benang merah yang membuat keduanya tak bisa bersatu, itu semua karena dalam tubuh keduanya mengalir darah yang sama.
"Saat semua orang berusaha mempertahankan pernikahannya, kami justru harus mati-matian melepaskan pernikahan ini."
Novel ini tidak akan terlalu panjang, hanya 50an Bab dan tentunya terbit setiap hari. Dukung selalu yah.
Love U All My Bestie,
__ADS_1
Kirana^^