
Tidak terasa hampir dua minggu berlalu, ini berarti usia kandungan Marsha sudah memasuki 38 minggu. Oleh karena itu, sudah waktunya bagi Abraham untuk membawa Marsha ke Rumah Sakit lagi. Memang sesuai anjuran dari Dokter, ketika memasuki Trimester akhir, diminta untuk periksa dua minggu sekali, dan nanti bisa juga satu minggu sekali. Biasanya Dokter akan memberikan anjuran tersendiri kepada pasien.
"Kita ke Rumah Sakit ya Shayang ... waktunya untuk memeriksakan kandungan kamu lagi," ajak Abraham kepada Marsha.
"Iya Mas, sebentar aku pamit ke Mama dulu yah dan menitipkan Mira. Beruntung banget sudah ada Mama Diah, sehingga sekarang aku bisa lebih tenang karena setiap kali periksa selalu kasihan sama Mira yang sudah tertidur dalam perjalanan pulang," ucapnya.
"Oke Shayang ... aku tunggu yah," balas Abraham.
Akhirnya Marsha turun dari kamarnya dan mencari Mama Diah yang sedang bersantai di ruang tamu. Tampak Marsha dengan hati-hati, duduk di samping Mama Diah itu.
"Mama, Marsha bisa nitip Mira dulu?" tanya dengan perlahan.
"Bisa Sha ... mau ke mana?" tanya Mama Diah.
"Mau ke Rumah Sakit, Ma ... sekarang sudah harus periksanya setiap dua minggu sekali. Jadi, mau periksa kandungan lagi, Ma," balas Marsha.
Mama Diah pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Tentu, boleh saja. Mau mampir pacaran sama Bram juga boleh. Mumpung masih berdua saja. Nanti kalau sudah launching babynya, jangan harap yah, bisa pacaran lagi," balas Mama Diah dengan tertawa.
"Boleh Ma, kalau Marsha mau pacaran sama Mas Bram?" tanyanya.
"Tentu saja boleh ... justru harus. Manfaatkan waktu berdua sebelum si baby lauching itu tidak apa-apa. Mama mendukung kok. Sebab, kalau sudah keluar babynya, semua waktu dan perhatian untuk si Baby dan Mira," balas Mama Diah.
"Iya ya Mah ... cuma ya sudah waktunya sih Ma ... kalau jadi 2 minggu lagi sudah bersalin," balas Marsha.
Cukup lama Marsha mengobrol dengan Mama Diah, dan kemudian sore harinya, Marsha berpamitan kepada Mamanya, menitipkan Mira dan mereka akan ke Rumah Sakit. Sebelum keluar dari rumah, rupanya Mama Diah sudah berpesan kepada Abraham terlebih dahulu.
"Bawa mobilnya pelan-pelan saja, Bram ... tidak usah ngebut. Ingat bawa ibu hamil harus lebih hati-hati," pesan dari Mama Diah.
"Siap Mama ... Bram akan hati-hati, bawa anak gadisnya Mama," balasnya dengan tertawa.
__ADS_1
"Ada-ada aja kamu, Bram ... sudah sana. Hati-hati yah," balas Mama Diah.
Akhirnya mereka berdua keluar dari rumah, dan Abraham sudah menggandeng tangan istrinya itu. Bahkan Abraham juga membukakan pintu mobil untuk istrinya, satu tangannya di taruh di atas kepala Marsha, tentu supaya kepala Marsha tidak terantuk.
"Hati-hati Shayangku," balasnya.
"Makasih Papa Abraham ... sweet banget sih," balas Marsha.
"Sama-sama Shayangku ... ke Rumah Sakit ya kita. Agak tenang karena ada yang menjaga Mira di rumah," balas Abraham.
Hingga akhirnya, mereka melihat keramaian Ibukota, berbaur dengan mobil yang lain, hingga akhirnya sekarang mereka sudah sampai di Rumah Sakit, dan di sana Abraham masih setia menggandeng tangan Marsha. Ada kalanya pria itu terlihat posesif ketika sedang bersama dengan Marsha.
"Kamu kalau kayak gini kelihatan posesif loh Mas," ucap Marsha lirih.
"Iya, takut kamu dilirik perawat yang cakep-cakep atau Dokter yang memakai Sneli (Jas Dokter Berwarna putih) yang cakep itu," balas Abraham.
Abraham pun tertawa, "Bisa saja sih Shayang ... jangan godain aku, bahaya," balasnya.
Hingga akhirnya sekarang mereka menunggu untuk mengantri di ruang pemeriksaan Dokter Indri. Kadang kala Abraham merangkul Marsha, kadang kala tangannya bergerak dan mengusapi perut istrinya. Sampai Marsha kadang merasa risih karena beberapa orang memperhatikan keduanya.
"Gak usah pegang-pegang Mas, malu dilihatin orang-orang," sergahnya.
"Biarin saja, Yang ... yang penting kan tidak kelewat batas," balasnya.
Hingga akhirnya, nama Marsha yang dipanggil sekarang. "Selanjutnya pasien atas nama Bu Marsha," panggil seorang perawat.
Abraham pun berdiri dan menggandeng Marsha untuk turut masuk ke ruangan Dokter Indri bersamanya.
"Selamat malam Bu Marsha dan Suami," sapa Dokter Indri dengan ramah.
__ADS_1
"Malam Dokter," balas keduanya.
"Sudah mulai periksanya dua minggu sekali ya Bu? Semangat yah ... tinggal dua minggu lagi, jika menurut hari perkiraan lahirnya," balas Dokter Indri.
"Benar Dokter, sudah minggu-minggu penantian," balas Marsha.
"Oke, sekarang kita lakukan pemeriksaan dengan USG yah. Silakan naik ke brankar ya Bu Marsha."
Ada seorang perawat yang membantu menyingkap kemeja oversize untuk Bumil yang sekarang digunakan Marsha dan kemudian memberikan USG Gell di perut Marsha yang sudah begitu besar. Kemudian Dokter Indri mulai menggerakkan transducer di tangannya dan meminta Abraham untuk melihat di monitor.
"Ini bayinya ya Bu ... air ketubannya masih baik dan jernih yah. Kalau keruh, terlihat di sini sedikit menggelap Bu. Juga, karena berat janin yang kian besar, maka ruang geraknya di dalam rahim Ibu juga berkurang. Sekarang, di usia 38 minggu berat janinnya sudah 3,3 kilogram ... ini terhitung besar ya Bu Marsha, jadi Bu Marsha kurangi mengonsumsi karbohidrat dan makanan yang manis-manis yah. Panjang bayinya dari kepala hingga kaki 46 centimeter. Organ internal bayi, seperti otak dan paru-paru sudah hampir sempurna dan kini paru-parunya siap untuk bekerja dengan bernapas saat ia lahir nanti. Kuku pada bayi yang sudah berusia 38 minggu juga sudah tumbuh dan sekarang telah sampai pada kuku paling akhir. Pada usia kehamilan ini, kemampuan besar yang dimiliki oleh bayi ibu adalah merespon cahaya dan sentuhan. Bahkan, ini juga merupakan kemampuan pertamanya saat ia dilahirkan nanti. Bayi ibu juga sudah memiliki otot untuk mengisap dan menelan cairan ketuban, sehingga feses akan mulai terakumulasi pada ususnya."
Marsha mendengarkan semua penjelasan dari Dokter Indri, begitu juga Abraham yang terlihat begitu memperhatikan.
"Kepala bayi sudah masuk panggul, dan tidak ada lilitan di tubuhnya ya Bu Marsha. Jadi, Bu Marsha mau melahirkan dengan metode mana nih? Normal bisa karena bayi sudah masuk ke dalam panggul, atau caesar. Jika Caesar, Ibu bisa melahirkan pada usia janin 39 minggu di mana organ paru-parunya sudah berkembang dengan sempurna," jelas Dokter Indri lagi.
"Kalau saya pengennya normal saja Dokter ... kasihan ke istri, tidak tega melihatnya kesakitan waktu melahirkan Mira dulu," jawab Abraham.
"Suami biasanya begitu Pak ... paling tidak tega melihat istri kesakitan. Saya sih mengembalikan semua kepada pasiennya saja. Walau saya pro persalinan normal, tapi semuanya kan pilihan ya Pak Abraham. Jadi, mana baiknya saja," balas Dokter Indri lagi.
Marsha pun tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Caesar boleh Mas?" tanya waktu itu.
"Boleh Shayang," balasnya.
Kemudian Marsha menatap Dokter Indri, "Kayaknya untuk kali ini, saya memilik Caesar saja Dokter ... biar memiliki dua kali pengalaman melahirkan normal dan Caesar," ucap Marsha pada akhirnya.
"Boleh Bu Marsha, minggu depan berarti bisa kita memilih tanggal dan menunggu usia janin sudah 39 minggu yah," balasnya.
"1 Januari saja, Dokter," sahut Abraham yang sudah memilih tanggal pertama di awal tahun itu.
__ADS_1