Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ledakan Dahsyat


__ADS_3

Jika boleh berkata jujur, Marsha dalam hatinya mengakui bahwa tiap kali bercinta dengan Abraham, dirinya benar-benar meledak. Bahkan ledakannya begitu dahsyat. Sebelumnya, Marsha tak pernah merasakan percintaan yang benar-benar berbalut kenikmatan. Percintaan di mana tidak ada pemaksaan dan melukai. Hatinya bisa merasakan bahwa Abraham menyentuhnya dengan cara yang berbeda.


Perlahan, Abraham melepaskan pusakanya, kemudian pria itu berguling di sisi Arsyilla, dan membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


“Makasih Shayang … makasih, aku cinta banget sama kamu,” ucap Abraham dengan memejamkan matanya.


Usai ledakan yang benar-benar dahsyat, sampai-sampai Abraham merasakan telinga berdenging saat dia merasakan pelepasan dan otot-otot kewanita-an Marsha menegang di dalam sana. Ledakan yang hebat, sampai matanya terpejam rapat, tubuhnya bergetar, nafas yang terengah-engah. Tidak ada lagi yang bisa Abraham deskripsikan untuk menjelaskan betapa hebatnya ledakan itu.


“Mau bersih-bersih?” tanya Abraham.


“Sebentar Mas, lima menit yah … aduh, aku lemes,” aku Marsha kali ini.


Lemas dari arti usai meledak dan menggapai puncak asmara yang dampaknya bisa Marsha rasakan sampai tubuhnya terasa lemas jadinya. Abraham pun terkekeh geli, “Kamu ini bisa saja sih Shayang,” balas Abraham.


“Mandi air biasa berani enggak Shayang, malam-malam begini?” tanya Abraham kemudian.


Tampak Marsha berusaha membuka matanya dengan mengatur nafasnya supaya bisa lebih teratur, “Enggak air hangat Mas?” tanyanya heran.


Abraham menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Justru tidak diperbolehkan mandi atau berendam dengan air hangat usai berhubungan, Shayang,” balasnya.


“Kenapa?” tanya Marsha lagi.

__ADS_1


“Paparan uap air panas berisiko terhadap infeksi pembengkakan area organ in-tim, bahkan bisa mengurangi efisiensi penghalang antimikroba. Jadi, sebaiknya mandi dengan air biasa saja, suhu ruangan," jelas Abraham.


Jika selama ini orang berpikir bahwa usai bercinta memang lebih baik berendam dengan air hangat supaya rileks, ternyata cara itu adalah salah. Uap dari air panas berisiko terhadap infeksi pembengkakan di organ wanita. Selain itu, para Dokter justru menyarankan untuk mandi dengan air dengan suhu ruangan.


“Mandi cepet sih … gak usah berendam. Diguyur shower saja,” balas Marsha.


“Ya sudah, yuk … bersih-bersih dulu, badannya biar enggak lengket,” ajak Abraham.


Pria itu segera berdiri dan menuntun Marsha mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya, keduanya membersihkan diri bersama, mengganti pakaian baru dari lemari penyimpanan yang bersih, kemudian kini keduanya sudah sama-sama duduk bersandar headboard di atas ranjangnya.


Abraham kembali menekan remote untuk membuka tirai jendela di kamarnya itu. Di luar hujan masih turun dengan begitu derasnya. Jalanan juga cukup ramai, walaupun hari sudah malam.


“Di sini area banjir enggak sih Mas?” tanya Marsha.


“Enggak banjir kok, Shayang … setahun aku tinggal di Jakarta, tidak pernah banjir kok. Aman,” balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Syukurlah … soalnya kalau banjir kan repot juga, ya walaupun kita di lantai 12 sih,” jawabnya.


“Tenang saja … kawasan ini aman kok,” balas Abraham yang meyakinkan Marsha bahwa letak apartemennya berada di kawasan yang aman.


“Iya Mas, asal sama kamu, aku tenang kok,” balas Marsha.

__ADS_1


Itu bukan sekadar gombalan semata, itu adalah perasaannya bahwa bersama dengan Abraham, Marsha merasa begitu tenang. Tidak peduli dengan berbagai hal yang lainnya. Cukup ada Abraham saja, Marsha sudah merasa tenang.


“Kamu ini bisa saja sih,” sahut Abraham dengan mengacak gemas puncak kepala Marsha.


“Apa lagi yang aku butuhkan Mas? Aku hidup hanya sekali … aku hanya ingin hidup bahagia bersama suami dan anakku. Asalkan sehat, dan berkecukupan saja sudah cukup,” balas Marsha.


Abraham tersenyum, tidak mengira wanita cantik dan berprofesi sebagai model itu memiliki impian yang sederhana. Jika para wanita cantik dan model menginginkan banyak hal, Marsha yang ingin hidup sehat dan bahagia, serta berkecukupan saja.


“Shayang … aku mau bicara, hanya saja kamu jangan tersinggung. Begini, kamu kan hamil … untuk sementara, kamu cuti dari pekerjaan kamu dulu gimana?” tanyanya.


“Iya, aku memang berencana untuk cuti besar kok Mas … menikmati masa-masa kehamilan ini. Menikmati jadi istri kamu,” balas Marsha.


Abraham pun tersenyum, “Baik banget sih … semudah itu kamu jawabnya. Padahal aku tahu bahwa dunia modelling itu sudah kamu cintai sejak dulu,” ucapnya.


Marsha pun tertawa, “Dalam hidup, memang ada beberapa hal yang harus dilepas kan? Jadi, aku tidak apa-apa cuti besar dulu. Nanti, aku bisa memulai lagi dari awal pun tidak masalah,” balas Marsha dengan tulus.


“Sebagai gantinya mau jadi Youtuber?” tanya Abraham, “Beauty Vlogger mungkin?” tanyanya.


“Nanti aku pikirkan dulu ya, Mas … aku baru fase malas bekerja sebenarnya. Efek hamil atau bagaimana. Hanya saja Kak Nania kemarin masih nawarin endorsement sih Mas. Gimana, aku ambil endorsement aja boleh enggak? Sekalian dibantu fotoin?” tanya Marsha dengan tertawa.


Tentu saja dia sekaligus memanfaatkan profesi suaminya sebagai seorang fotografer, sehingga bisa menghasilkan foto yang bagus dengan angle dan pencahayaan yang tepat. Tentu ini lebih menguntungkan bagi Marsha. Dia tidak perlu keluar apartemen, barang-barang endorsan datang sendiri, cuan pun mengalir ke rekeningnya.

__ADS_1


“Kamu bisa aja sih … boleh saja. Senyaman kamu saja, nanti aku yang fotoin,” balas Abraham.


Sungguh, Abraham akan sepenuhnya mendukung apa yang hendak dilakukan oleh Marsha. Jika hanya sebatas menerima endorsement tidak masalah bagi Abraham. Mungkin lain waktu, Marsha mau menjadi beauty vlogger mengikuti skill make up yang dimiliki Marsha sangat baik. Semua itu bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang di dalam apartemen.


__ADS_2