
Selang sepekan berlalu, rupanya Melvin pada akhirnya menerima surat gugatan cerai yang dilayangkan oleh Marsha. Melvin yang saat itu ada di rumah pun tidak menyangka bahwa Marsha pada akhirnya akan menggugatnya. Melvin awalnya mengira, bahwa Marsha akan datang dan meminta maaf kepadanya. Meminta kesempatan untuk mengulangi semuanya dari awal. Akan tetapi, yang terjadi saat ini justru di luar prediksi Melvin. Marsha benar-benar melayangkan gugatan cerai kepadanya.
Melvin duduk di sebuah sofa dengan menggenggam surat dari pengadilan agama itu di tangannya. Seketika kepalanya terasa begitu pening saat menerima dan membaca surat gugatan cerai dari Pengadilan Agama yang ada di wilayahnya itu. Rasanya, ini bukan prediksi Melvin.
Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala kamu, Marsha?
Kupikir kamu akan kembali dan meminta maaf kepadamu. Aku akan menundukkan dirimu dan meminta untuk tinggal di sisiku. Semua ini di luar prediksiku. Aku kira, kamu tidak pernah akan bisa tinggal jauh dariku. Namun, semua pikiranku salah … bahkan kamu dengan begitu berani melayangkan gugatan perceraian kepadaku.
Inikah dirimu yang sesungguhnya Marsha? Apa memang selama ini aku yang tidak begitu mengenalimu? Sungguh semula aku berpikir bahwa kamu akan datang kemari dan meminta maaf kepadaku. Kamu akan mengiba kepadaku agar mau memaafkanmu, dan meminta untuk memulai kehidupan rumah tangga kita dari awal. Namun, semua salah. Sebab, sekarang yang terjadi adalah engkau menggugat cerai atasku.
Sampai akhirnya, Mama Saraswati datang dan duduk bersama dengan Melvin di sofa itu.
“Surat apa Vin?” tanya Mama Saraswati saat melihat amplop berwarna cokelat yang tergeletak di meja. Juga lembaran kertas berukuran HVS yang kini dipegang oleh putranya itu. Jujur saja, Mama Saraswati pun tertarik dengan surat yang sedang digenggam oleh putranya itu.
“Surat dari Pengadilan Agama, Ma … Marsha mengajukan gugatan cerai,” balas Melvin dengan menundukkan wajahnya. Kemudian pria itu menaruh selembar kertas yang dia pegang itu ke atas meja. Menatap selembar kertas HVS itu dengan pandangan mata yang kosong.
__ADS_1
Tangan Mama Saraswati pun terulur dan membaca surat tersebut. “Hmm, sudah Mama duga … dia sengaja meminta cerai agar mendapatkan tunjangan dari kamu. Untung saja kalian belum memiliki anak, sehingga tidak perlu menghidupi anak kalian,” sahut Mama Saraswati.
“Melvin harus bagaimana Ma?” tanya Melvin sekarang kepada Mamanya. Seolah Melvin juga ingin mendapatkan pertimbangan dari Mamanya.
“Ceraikan saja dia, Vin … biar dia merasakan hidup di ekonomi kelas menengah lagi. Dia pikir, bisa lepas begitu saja darimu,” balas Mama Saraswati.
Melvin diam, seolah menimbang kembali segala sesuatu dengan hatinya. Masih ada cinta sebenarnya untuk Marsha di hatinya. Akan tetapi, juga ada rasa kesal setelah melihat dan mendengar pengakuan Marsha yang bermain hati dengan pria lain di luar sana. Namun, Melvin masih ragu dengan perasaannya.
“Melvin sebenarnya masih sayang Marsha,” aku Melvin kali ini kepada Mamanya.
Ada beberapa hal yang tidak bisa Melvin ungkapkan, tetapi bisa dia akui secara langsung dan lugas kepada Mamanya sendiri. Seperti perasaannya kepada Marsha yang masih ada di hatinya. Masih ada perasaan sayang kepada istrinya itu.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Mamanya seakan menampar Melvin. Ya, semalam sebelum pertengkaran hebat antara dirinya dan Marsha, dirinya menyentuh Marsha dengan begitu kasar. Ada remasan yang terlalu kuat hingga membuat lebam di area dada Marsha, ada pukulan di area pantat, dan juga saat itu tanpa melakukan pemanasan yang cukup, Melvin memasuki Marsha dengan kasar. Melvin sangat tahu bahwa pada malam itu, Marsha belum siap. Akan tetapi, Melvin yang sudah berada di ujung gairah, nyatanya terus memaksakan miliknya untuk masuk ke dalam milik Marsha. Melvin tahu benar bahwa dimasuki dengan kasar akan menimbulkan rasa sakit di sana. Untuk semua itu, Melvin benar-benar menyesal.
Bayangan bagaimana Marsha yang merintih, bayangan bagaimana Marsha menitikkan air matanya, seketika muncul kembali. Melvin menghela nafas yang begitu berat kali ini. Barulah pria itu sadar bahwa sebelumnya dia sudah melakukan kekerasan secara seksual kepada istrinya itu. Lantas, Melvin menambahkan kekerasan dengan menampar Marsha, dan juga melemparkan remote televisi yang mengenai kepala Marsha. Untuk semua yang sudah dia lakukan, Melvin sungguh menyesal.
__ADS_1
“Lebih baik, buang jauh-jauh perasaanmu itu. Lagipula, kamu tidak tahu apakah di luar sana pria selingkuhannya itu sudah menyentuhnya atau belum. Bisa saja sudah banyak pria yang menjamah tubuh istrimu itu,” ucap Mama Saraswati.
Perkataan wanita paruh baya itu bukan menenangkan Melvin dan memberikan saran yang baik. Akan tetapi, dari setiap kata yang dia keluarkan seakan kian menyulut rasa sakit di dalam dada Melvin. Semua kata yang dia ucapkan seakan ingin memperkuat bahwa Melvin pun harus mengambil langkah untuk memutuskan Marsha, mengambil jalur hukum dan menyelesaikan masalah pernikahannya itu.
“Melvin akan pikirkan lagi, Ma,” respons Melvin pada akhirnya.
Hari menuju persidangan perdana masih kurang lebih dua minggu. Sehingga masih ada waktu baginya untuk memikirkan semuanya secara matang. Walaupun ada keresahan-kerasahan di hati Melvin, tetapi Melvin masih akan berusaha untuk berpikir dan mengambil keputusan.
“Pikirkan saja Melvin … Mama harap kali ini kamu bisa tegas, jangan terus menuruti permintaan wanita itu. Lagipula, apa yang dia lakukan sekarang di luar sana kita tidak pernah tahu. Bisa saja Marsha memang bukan wanita terhormat yang bisa menjaga dirinya. Buktinya Mama sendiri memergoki bagaimana dia bergelayut manja di lengan pria yang bersamanya saat itu,” ucap Mama Saraswati lagi.
“Baik Ma,” sahut Melvin dengan singkat. Sebab, Melvin sendiri pun masih bingung dengan perasaannya saat ini.
Melvin kemudian melihat kembali surat dari Pengadilan Agama itu. Kali ini rasanya Melvin ingin keluar untuk menenangkan dirinya sesaat. Menjernihkan pikirannya yang sedang begitu kalut.
“Melvin keluar sebentar ya Ma,” pamit Melvin pada akhirnya kepada Mamanya itu.
__ADS_1
“Iya, hati-hati … awas jangan sampai semua ini terlihat oleh awak media,” pesan dari Mama Saraswati.
Melvin menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera mengambil kunci mobilnya. Kali ini bahkan Melvin ingin mengendarai mobilnya sendiri tanpa menggunakan seorang sopir karena Melvin ingin menghirup udara segar dan bisa menenangkan dirinya.