Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Prosedur Visum


__ADS_3

Marsha benar-benar mengikuti saran Abraham untuk ke Rumah Sakit. Bukan untuk memeriksakan dirinya dengan berbagai keluhan kesehatan. Melainkan Marsha ke Rumah Sakit untuk melakukan visum. Visum sendiri adalah laporan tertulis yang dikeluarkan oleh penyedia layanan kesehatan yang didasarkan atas pemeriksanaan pada korban kekerasan fisik, mental, dan seksual.


"Aku sebelumnya sudah pernah melakukan visum, Bram," ucap Marsha yang masih berjalan mengekori Abraham di Rumah Sakit itu.


"Kapan?" tanya Abraham.


Pengakuan yang Marsha ucapkan kali ini membuat Abraham terkesiap. Jika Marsha sudah pernah melakukan visum, itu berarti sebelumnya Marsha sudah pernah menerima tindak kekerasan dari suaminya itu.


"Sebelum aku keluar dari rumah," balas Marsha.


Ya, usai dipaksa dalam persetubuhan oleh suaminya sendiri. Marsha memilih ke Rumah Sakit dan melakukan visum. Tidak mengira hanya berselang beberapa pekan saja, Marsha sudah harus kembali ke Rumah Sakit dan kembali melakukan visum.


"Kenapa berminggu-minggu lamanya dan kamu tidak bercerita kepadaku sama sekali," balas Abraham pada akhirnya.


Di Rumah Sakit itu, keduanya menunggu sejenak sebelum nama Marsha dipanggil. Sekali pun cemas, tetapi Marsha menguatkan dirinya sendiri untuk bisa melakukan prosedur visum dan pemeriksaan yang harus dia jalani lagi hari ini.


Untunglah tidak menunggu terlalu lama, nama Marsha mulai dipanggil, dan Abraham turut masuk dan menemani Arsyilla untuk mengikuti prosedur pemeriksaan.


"Nama pasien?" tanya Dokter yang saat itu memeriksa Marsha.


"Marsha Valentina," jawabnya dengan singkat.


"Ingin melakukan visum untuk apa?" tanya Dokter itu lafi.


Sebelum menjawab, Marsha tampak menoleh terlebih dahulu kepada Abraham. Menyadari keresahan yang mungkin saja dialami Marsha sekarang ini, Abraham justru yang membuka suara dan menjawab pertanyaan dari Dokter itu.


"Ingin melaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangga ke pihak kepolisian," jawab Abraham.


Pria itu terlihat tenang. Dalam menjawab pun gestur tubuh Abraham sangat tenang. Yang Abraham lakukan adalah cukup berada di samping Marsha dan terus mendampingi wanita itu.


Dokter itu lantas mengernyitkan keningnya, tidak mengira jika visum yang dilakukan adalah untuk melaporkan kasus penganiayaan. Dengan dibantu oleh seorang perawat, mulailah dilakukan pencatatan denyut nadi, tekanan darah, melihat luka atau lebam yang terlihat di luar, dan mencatatnya.


"Kapan kejadiannya berlangsung?" tanya Dokter itu lagi.


"Mungkin satu jam yang lalu," sahut Marsha.

__ADS_1


Ada anggukan samar dari Dokter itu sembari mencatat jawaban dari Marsha. Lantas Dokter terlihat meringis, seolah menahan rasa sakit melihat sudut bibir Marsha yang berdarah, lehernya yang memerah, ada goresan kuku juga di leher dan dagu.


Tidak hanya memeriksa, Dokter itu juga memberikan resep yang berupa obat dan salep untuk mengurangi lebam.


"Mau melakukan rontgen untuk melihat jaringan bawah di kulit yang mungkin saja terluka?" tanya Dokter itu.


"Kalau rontgen dan pengecekan lainnya saya sudah lakukan itu, Dok ... jika sekarang hanya luka-luka ini saja," sahut Marsha.


"Oh, jadi sudah berapa lama terjadi KDRT?" tanya Dokter itu lagi.


"Sebulan terakhir," sahut Marsha.


"Jika pasien merasa ada kegelisahan berlebih, dan juga merasa perasaan hati yang berubah-ubah, dan gejala yang mengarah ke depresi, saya sarankan untuk mengunjungi psikolog. Supaya akan ditangani juga secara mental," jelas Dokter tersebut.


"Baik ... saya akan buatkan rekam medisnya. Tindak kekerasan fisik kepada wanita bisa dikenai dua pasal sekaligus yaitu pasal pidana dan pasal perlindungan kaum wanita dan anak-anak. Anda menjadi korban kekerasan fisik yang mengarah ke kekerasan seksual kan?" tanya Dokter tersebut.


"I ... iya Dok," sahut Marsha.


"Pelakunya?" tanya Dokter tersebut.


"Suami saya sendiri," balas Marsha.


Dokter itu menganggukkan kepalanya, dan segera membuatkan rekam medis untuk Marsha. Semoga saja rekam medis dari hasil visum ini bisa dilampirkan dan memberikan hukuman yang setimpal untuk Melvin Andrian.


Usai mendapatkan catatan rekam medis, membayar biaya visum, dan mengambil obat. Marsha dan Abraham kembali ke apartemen mereka. Beberapa kali Abraham tampak melirik Marsha yang sedari tadi hanya diam.


“Marsha,” panggil Abraham kepada wanita yang duduk di sisinya itu.


Merasa dipanggil namanya, Marsha pun menolehkan kepalanya melihat ke Abraham yang masih mengemudikan mobil itu.


“Sedalam apa lukamu?” tanya Abraham kali ini.


Walau memang Marsha tidak menceritakan semuanya secara gamblang. Akan tetapi, Abraham yakin luka di dalam hati Marsha begitu dalam. Luka yang bisa saja menyebabkan trauma untuk Marsha.


Wanita itu tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya, untuk saat ini tidak perlu Abraham tahu sedalam lukanya. Biarkan Abraham melihatnya dengan kacamatanya sendiri. Sementara Marsha akan berupaya untuk menyelesaikan masalahnya ini terlebih dahulu. Marsha tidak ingin Abraham iba kepadanya. Biarkanlah dirinya saja yang tahu dan merasakan sedalam apa luka di hatinya.

__ADS_1


"Jawab aku, Marsha," ucap Abraham lagi.


Abraham sungguh ingin tahu sedalam apa luka yang dihadapi Marsha sekarang ini. Kenapa sekarang Marsha bisa bersikap lebih tenang.


"Kamu tidak perlu tahu, Bram ... yang pasti aku terluka," ucap Marsha.


"Boleh aku menemani kamu di persidangan nanti?" tanya Abraham lagi.


Ya, kali ini Abraham ingin berada di samping Marsha. Saat persidangan nanti Abraham juga ingin hadir dan memberikan dukungan secara moral untuk Marsha.


"Tidak perlu, Bram ... aku tidak ingin Melvin bertemu denganmu," balas Marsha pada akhirnya.


"Kenapa?" tanya Abraham yang seakan memintya penjelasan dari Marsha.


Wanita itu kembali menggelengkan kepalanya, "Biar aku hadapi sendiri. Terlalu berbahaya membuat Melvin bertemu denganmu dan identitasmu bisa tersebar di luar sana. Biarlah kamu tetap aman," balas Marsha.


Kali ini Marsha tak ingin lagi mengambil risiko. Biarkanlah dirinya yang menanggung semuanya. Marsha tidak ingin muncul keributan baru yang bisa saja mengusik hidup Abraham. Biarkan hidupnya saja yang sudah terusik dan menjadi konsumsi publik. Untuk Abraham, Marsha tidak akan tega membiarkan pria yang begitu baik itu menjadi bulan-bulanan publik.


"Tapi, Sha,"  balas Abraham lagi.


"Tenang saja, Bram ... aku tidak apa-apa. Nanti usai sidang, aku akan menemuimu," ucap Marsha.


"Janji?" tanya Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya, usai sidang. Aku akan menemuimu. Biarkan aku saja yang muncul. kamu tidak perlu. Nikmatilah kehidupanmu yang aman dan nyaman ini, Bram," balas Marsha.


"Untuk apa hidup aman dan nyama jika aku tidak ada di sampingmu, Sha," balas Abraham.


Bagi Abraham seakan tidak ada artinya kehidupan yang aman dan nyaman jika Marsha tidak ada di sampingnya. Jika dia sendiri tidak bisa menjaga Marsha. Padahal Abraham pun tidak keberatan jika hidupnya yang tenang terusik asalkan dia bisa berada di samping Marsha dan menjaga wanita yang selalu mengisi hatinya itu.


"Jadi, nanti kamu akan mendatangi persidangan sendiri?" tanya Abraham.


"Iya, sendiri saja," balas Marsha.


"Baiklah ... terserah padamu. Hanya saja begitu persidangan usai, temui aku, Marsha. Aku ingin menjadi tempatmu berbagi dan bersandar. Jangan menangis di hadapan orang lain. Jika kamu harus menangis, menangislah di hadapanku," ucap Abraham.

__ADS_1


Itu adalah sebuah ucapan dengan tulus dan sungguh-sungguh. Ucapan yang menyatakan bahwa Abraham tidak ingin Marsha menangis di hadapan pria lain ataupun orang lain. Abraham sendiri yang akan menampung setiap air mata Marsha, dan juga memberikan ketenangan bagi wanita itu.


__ADS_2