
Sementara itu di lokasi syuting, sebuah tempat khusus sedang dibangun kali ini. Hari ini akan menjadi hari di mana Melvin akan syuting mini seriesnya. Di dalam episode yang akan diambil, Melvin akan melakoni pernikahan dan mereguk manisnya malam pertama dengan istrinya yang kali ini diperankan oleh Michella. Artis berdarah campuran Belanda itu, terlihat begitu manis dan berdiri dengan anggun menggunakan Wedding Dress berwarna putih. Sementara Melvin sendiri berdiri dengan menggunakan Tuksedo berwarna hitam, Pria yang memiliki perawakan tubuh yang tinggi dan dada yang bidang terlihat kian menawan saat mengenakan Tuksedo.
“Kalian siap yah? Kita akan take sepuluh menit lagi,” teriak sang Sutradara yang kali ini di-direct langsung oleh Bang Bramastyo.
“Siap Bang,” jawab keduanya bersama.
Baik Melvin dan Michella sama-sama mempersiapkan diri. Melvin bahkan sudah meminta izin terlebih dahulu saat harus mencium bibir Michella ketika scene pernikahan itu di ambil.
“Sorry yah, buat nanti,” ucap Melvin lagi.
“Iya … kita harus profesional,” balas Michella.
Melihat akting adalah sebuah profesi, maka para pelakon pun harus bersikap dengan begitu profesional. Waktu sepuluh menit pun berlalu, dan kemudian mulailah sutradara memberikan instruksi.
“Satu … Dua … action!”
Teriak sang sutradara yang menjadi tanda bahwa Melvin dan Marsha harus memulai aktingnya.
“Thanks Sayang … hari ini adalah hari yang bahagia untukku … untuk kita berdua,” ucap Melvin mengatakan kalimat dialognya.
Melvin mengambil satu langkah ke depan, kemudian dengan pandangan yang hanya tertuju ke pada Michella. Pria itu kemudian membelai sisi wajah Michella. Sedikit memberikan senyuman sembari terus mengikis jarak wajahnya, hingga akhirnya ibu jari dan jari telunjuk Melvin pun meraih dagu Michella. Pria itu menelengkan sedikit wajahnya, dan mendaratkan sebuah kecupan untuk sekian detik lamanya di bibir itu. Kedua mata sama-sama terpejam, hembusan hangat nafas keduanya yang saling membelai sisi wajah mereka. Sungguh, berakting dan mengharuskan ciuman tidak dipungkiri membuat hati menjadi begitu berdebar-debar. Sangat berdebar. Namun, semua karena tuntutan profesi, maka adegan ciuman pun harus diambil.
“Cut!” teriak sang sutradara pada akhirnya.
Melvin menarik wajahnya dan tersenyum samar menatap Michella. Sementara Michella sendiri tampak menundukkan wajahnya. Dicium aktor tampan sekelas Melvin, membuat dirinya begitu grogi.
Kemudian keduanya melihat hasil rekaman video adegan ciuman mereka, diiringi dengan penjelasan dari sutradara.
__ADS_1
“Vin, kelihatannya kalau ciuman sebatas menempel bibir sekarang ini mainstream. Bisa enggak ciuman yang lebih dari ini?” tanya sang Sutradara.
Melvin menghela nafas dan terlihat menggaruk kepalanya. Bingung sebenarnya. Dia tidak nyaman melakoni adegan skinship yang harus direkam. Terlebih dirinya juga pria yang sudah beristri, jadi rasanya tidak mengenakkan hati.
“Gimana ya Bang,” respons Melvin dengan ragu.
“Kamu sendiri gimana Chell, keberatan enggak kalau ciumannya lebih bergetar gitu?” tanya sutradara tersebut.
Michella semula menunduk, kemudian menggelengkan kepalanya secara samar. “Kelihatannya enggak deh Bang … untuk hasil yang bagus tidak masalah,” jawab Michella.
“Ya sudah, kita take ulang yah … Yuk, Vin … lakukan lebih dari ini yah,” pinta Sutradara tersebut.
Kembalilah Melvin dan Michella bersiap. Adegan yang diambil khusus di adegan ciuman itu saja.
“One … Two … Action!”
Pria itu lantas membuka sedikit bibirnya, dan mulai mendaratkan kecupan demi kecupan di bibir Michella, menjulurkan sedikit lidahnya untuk memberikan usapan yang basah dan hangat dengan lidahnya. Kedua bibir bertemu, dengan mata yang saling terpejam, kemudian melakukan ciuman di depan kamera itu. Tentu saja bukan hanya Sutradara yang melihatnya, tetapi juga kru lainnya yang turut menyaksikan adegan itu.
Merasa belum ada instruksi dari sutradara, Melvin menelengkan kepalanya, dan memberikan tekanan dalam ciumannya. Pria itu kini menikmati permainan bibir dengan Michella. Walau hanya sekadar akting, tetapi akting pun harus dijalani dengan sepenuh hati bukan?
Sementara Michella tampak mengalungkan tangannya di leher Melvin. Wanita itu menerima dan menikmati adegan ciuman bersama dengan Melvin. Kedua mata Michella terpejam dengan sempurna, memberikan akses kepada Melvin untuk mencumbu bibirnya di sana.
“Cut! Oke!” Teriak Sutradara kali ini.
Ada helaan nafas yang kembali dibuang Melvin, pria itu memejamkan matanya sejenak dan menyudahi permainan bibirnya di bibir Michella. Lantas pria itu merangkul bahu Michella.
“Sorry yah,” balas Melvin.
__ADS_1
“It’s oke … no problem,” balas Michella.
Michella mengatakan semua itu, walau sebenarnya dia malu. Namun, apa daya seorang pelakon juga harus berakting adegan seperti ini. Wanita itu kemudian memilih menjauh dan menenangkan dirinya.
“Bagus yah! Kita lanjut ke adegan malam pertama yah,” ucap Sutradara.
Tentu ini adalah sebuah adegan yang lebih menantang. Rasanya ingin men-skip adegan ini, tetapi bagaimana lagi kalau memang adegan inilah yang ditulis di skrip. Jadilah Melvin dan Michella sekarang berada di sebuah kamar yang didekorasi layaknya kamar pengantin. Michella mengenakan gaun tidur, dan Melvin mengenakan piyama.
“Lakukan secara natural yah,” pesan sang Sutradara.
Melvin dan Michella sama-sama menganggukkan kepalanya. Mencoba untuk berakting senatural mungkin.
“Satu … Dua … Action!” teriak sang sutradara.
Memeragakan malam pertama, Melvin membopong tubuh Michella dan menaruh wanita itu dengan hati-hati ke ranjang. Melvin pertama-tama mengecup kening Michella, hingga akhirnya pria itu kembali mencium bibir Michella. Adegan ciuman dengan saling tindih di atas ranjang. Bisa dibayangkan bahwa adegan itu benar-benar dilakoni keduanya. Berakting di depan sorot kamera, sampai akhirnya berusaha menekan hasrat yang mungkin saja bisa tersulut.
Melvin dan Michella sama-sama menghayati perannya. Cumbuan demi cumbuan itu direkam, sampai di batas sutradara pun meneriakkan sebuah kata.
“Oke! Done!” teriaknya.
Melvin yang terengah-engah akhirnya menuruni tubuh Michella yang ditindihnya. Kemudian pria itu membantu Michella untuk duduk.
“Sudah … makasih buat kerja samanya,” ucap Melvin.
Sebab sesungguhnya, dia tidak tahu harus berbicara apa. Sehingga itu adalah ucapan formalitas dari seorang aktor yang usai menjalani adegan panas dengan lawan mainnya.
“Iya, sama-sama.” balas Michella.
__ADS_1
Agaknya potongan demi potongan ini membuat Melvin ingin segera pulang ke rumah dan menemui Marsha. Ada hasrat yang harus segera diselesaikan, ada gejolak yang harus dia tahan. Untuk itu semua, Melvin sangat membutuhkan Marsha sekarang untuk menyelesaikan semua gejolak itu dan mengusir sakit kepala yang tiba-tiba dirasakannya.