Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Izin Memanfaatkan


__ADS_3

Dengan tangan yang saling bertaut, nyatanya justru Marsha membiarkan Abraham untuk terus menggenggam tangannya. Seakan Marsha pun justru menikmati saat-saat di mana Abraham menggenggam tangannya. Marsha tahu dengan pasti bahwa semua ini tidak benar, tetapi bagaimana justru dirinya merasa nyaman saat ada Abraham di sisinya seperti sekarang ini.


Bahkan kini, Marsha justru merasa nyaman saat telapak tangan Abraham menggenggam erat tangannya. Rasanya, saat Abraham menyentuhnya, jantungnya berdebar-debar melebihi ambang batasnya. Perasaan yang terlampau gila, tetapi pada kenyataannya memang itulah yang dirasakan oleh Marsha.


“Mau Americano?” tanya Abraham lagi sembari menoleh ke arah Marsha yang berjalan sedikit di belakangnya.


“Terserah saja,” sahut Marsha.


Abraham pun menyunggingnya senyuman di wajahnya, dan kemudian membawa Marsha menuju Coffee Shop yang letaknya tidak jauh dari Taman Kota itu. Bahkan saat memasuki Coffee Shop yang bernama Coffee Bay itu, Abraham pun tidak pernah melepaskan tangan Marsha dari genggamannya.


“Mbak, mau es Americano dua yah … gulanya less saja,” pesan Abraham kepada pegawai Coffee Bay itu.


“Iya Kak … mau pesan apa lagi? Camilannya Kak … best seller dari kami ada Crofflee dan juga Toast,” tawar pegawai tersebut kepada Abraham.


Abraham tampak melihat menu yang tersedia, kemudian dia pun memesan camilan yang akan menemaninya minum kopi.


“Boleh deh Mbak … Crofflee saja,” ucap Abraham.


Setelah memesan, kemudian Abraham mengambil tempat duduk di tempat yang agak berada di sudut dan terasa lebih privasy. Kemudian Abraham menarik sebuah kursi dan mempersilakan Marsha untuk duduk.


“Duduklah, Sha,” ucapnya.


Marsha pun menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Abraham itu. Tidak berselang lama pesanan mereka pun sudah tiba, kemudian Abraham memberikan Es Americano kepada Marsha.

__ADS_1


“Minum dulu,” ucapnya.


“Thanks Bram,” sahut Marsha.


Bahkan Abraham sendiri yang membuka pipet dan menyerahkan gelas yang sudah terpasang pipetnya itu kepada Marsha. Tindakan-tindakan kecil seperti ini yang membuat Marsha justru kian berdebar dengan perlakuan manis pria yang dulu pernah singgah di hatinya itu.


Keduanya pun menikmati Americano tersebut, dengan bibir yang sama-sama teratup dan juga enggan untuk berbagi cerita satu sama lain. Sampai pada akhirnya, Abraham melirik sekilas ke arah Marsha.


“Marsha, jika kamu membutuhkan seseorang untuk melampiaskan semua perasaan yang kamu tahan, kamu bisa memanfaatkan aku. Kamu boleh memanfaatkan aku semaumu,” ucap Abraham.


Tentu saja perkataan Abraham membuat Marsha terkesiap, apa maksud memanfaatkan yang dimaksudkan oleh Abraham sekarang ini?


“Memanfaatkan seperti apa Bram?” tanya Marsha dengan lidah yang terasa kelu, tetapi Marsha tetap berusaha untuk bertanya maksud kalimat yang baru saja diucapkan Abraham itu.


Mendengar jawaban Abraham, lagi-lagi Marsha merasa gelombang yang menyentuh hatinya. Gelombang yang menggerakkan sel-sel saraf sensoriknya, dan pastilah gelombang itu menyulut hasrat terlarang. Hasrat yang tidak seharusnya Marsha miliki kepada pria lain yang bukan suaminya.


Sementara Abraham sendiri, mengatakan semua itu bukan tanpa alasan. Abraham sangat yakin dengan ucapannya. Dia tidak masalah jika Marsha memanfaatkan dirinya. Dia justru akan memberikan dirinya untuk dimanfaatkan secara penuh oleh Marsha.


“ …, tapi Bram?” sahut Marsha dengan menghela nafas.


“Tidak masalah, Sha … jangan sendirian seperti ini. Kamu sangat mengenalku bahwa aku tidak bisa melihatmu sendirian seperti itu, Sha. Apa pun masalahmu, masalah rumah tanggamu, aku mau mendengarkannya. Aku tidak keberatan untuk berbagi semua denganmu,” ucap Abraham lagi.


Terlihat Marsha yang tersenyum getir, wajahnya bisa saja tersenyum, tetapi hatinya merasakan kegetiran yang tak bertepi. Getir karena sikap manis dan perhatian yang seperti ini justru dia dapatkan dari pria lain dan bukan suaminya.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Bram,” ucap Marsha yang berusaha meyakinkan Abraham.


Namun, di saat bersamaan Abraham tampak menggelengkan kepalanya, “Tidak … kamu tidak baik-baik saja, Sha … aku sangat mengenalmu. Aku sangat tahu seperti apa dirimu. Jangan kamu tutup-tutupi luka yang ada di dalam hatimu,” tegas Abraham kali ini.


Memang Marsha akui, banyak luka yang dia simpan di dalam hatinya. Luka demi luka yang sama sekali tidak terucap. Luka demi luka yang menggores hatinya. Akan tetapi, bagaimana bisa Abraham melihat ada luka yang tersembunyi dalam hatinya.


Marsha mengangkat wajahnya, dan menatap wajah pria yang kini duduk di hadapannya itu, “Hmm, sayangnya kamu bukan siapa-siapa untukku,” balas Marsha.


Ada perasaan menyayangkan mengapa justru Abraham yang mengaku sangat mengenalnya dan tahu siapa dirinya justru bukan siapa-siapanya. Justru suami yang seharusnya lebih mengenalnya, lebih memahaminya justru sibuk luar biasa dengan jadwal stripping yang tidak ada habisnya.


“Aku bisa berdiri sebagai apa pun untukmu, Marsha,” ucap Abraham yang merespons perkataan Marsha.


Kali ini Abraham tidak berbohong. Dia bisa berdiri sebagai apa pun untuk Marsha. Saat seorang pria mengatakan bahwa dirinya siap untuk dimanfaatkan oleh seorang wanita, itu adalah bukti bahwa pria tersebut siap melakukan apa saja untuk wanita itu. Jika orang akan merasa keberatan saat dimanfaatkan, justru Abraham memberi dirinya dengan sukarela untuk dimanfaatkan oleh Marsha.


“Makan Crofflee-nya, Sha … aku dengar Crofflee di sini sangat enak,” ucap Abraham kemudian.


Marsha menganggukkan kepalanya, tetapi nyatanya Marsha tidak memakan camilan yang sudah dipesankan oleh Abraham itu. Merasa bahwa Marsha yang hanya diam, Abraham kemudian mengambil garpu dan memotong sedikit Crofflee itu.


“Buka mulutmu, Marsha … aaakk … aku suapin,” ucap Abraham.


Nyatanya hanya sekadar disuapi oleh Abraham, Marsha pun perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan Crofflee yang masih hangat itu dari tangan Abraham.


Ada helaan nafas yang berat dari alat pernafasan Marsha, semua itu dia sadari tidak benar, tetapi justru yang terlarang terasa begitu menantang untuknya.

__ADS_1


__ADS_2