Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Tidak terasa, sepekan sudah Abraham dan Marsha menikmati liburan mereka di Kota Lumpia, Semarang. Hari ini, Marsha dan Abraham bersama dengan Mira akan kembali ke Jakarta. Sama seperti biasanya, jika bertemu terasa begitu senang dan juga tak ingin berpisah. Ketika tiba waktunya untuk berpisah, tak ayal Marsha kembali meneteskan air matanya.


"Kami pamit ya Ma," ucap Abraham yang pamit kepada Mamanya untuk menuju ke Stasiun Tawang dan akan kembali menaiki kereta api menuju ke Jakarta.


"Iya ... hati-hati dalam perjalanan yah. Begitu sampai Jakarta, jangan lupa kabarin Mama," balas Mama Diah.


"Ma, tidak ingin ikut kami ke Jakarta?" tanya Marsha kemudian kepada Mamanya itu.


Tampak Mama Diah menggelengkan kepalanya, "Sekarang belum bisa, Sha ... nanti kalau Mama sudah agak senggang pasti Mama akan ke Jakarta."


Abraham tersenyum melihat istrinya yang kini menangis itu, "Pasti begini ... kalau ketemu Mama sangat seneng, bahagia. Begitu berpisah, nangis bombay kayak gini sih Shayang," balas Abraham dengan mengusapi puncak kepala istrinya itu.


"Abis ... nyaman tinggal sama Mama," balas Marsha dengan jujur.


Jika biasanya menantu dan mertua sering tidak rukun dan akur. Tidak bagi Marsha. Dia justru merasa nyaman tinggal bersama Mama mertuanya. Mama Diah sudah selayaknya ibu kandung bagi Marsha. Di saat ibu kandungnya sendiri tidak pernah menghubunginya dan menengoknya, tetapi Mama Diah selalu bertanya, dan sering melakukan panggilan video dengan Marsha.


Rasanya memang aneh, tetapi Marsha merasa dekat secara hati dengan Mama mertuanya.


"Nanti kalau Mira ulang tahun, Eyang ke Jakarta yah," balas Mama Diah pada akhirnya.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Ditunggu ya Ma," balasnya.


"Iya Marsha ... sebulan lagi Mama akan ke Jakarta. Jangan lupa oleh-olehnya nanti Bu Sara dikasih yah. Kan Bu Sara suka Lumpia dan Bandeng Juwono. Mumpung kamu ke sini dan nanti sampai di Jakarta kan bisa dikasihkan dulu," pesan dari Mama Diah.

__ADS_1


Ya, pada kesempatan itu, Mama Diah juga membelikan aneka oleh-oleh untuk Marsha. Tidak lupa Mama Diah juga memberikan oleh-oleh untuk tetangga Abraham yang begitu baik yaitu keluarga Agastya. Mama Diah masih ingat bahwa Bu Sara pernah berkata menginginkan Lumpia Semarang dan Bandeng Presto. Sehingga sekarang ini Mama Diah juga menitipkan oleh-oleh untuk Bu Sara dan keluarganya.


"Iya Ma ... nanti Marsha akan hantarkan ke rumah Bu Sara," balasnya.


Setelahnya Abraham mengajak serta istri dan anaknya untuk menaiki taksi online yang sudah dia pesan menuju ke stasiun. Dalam perjalanan pun, beberapa kali Marsha masih menitikkan air matanya.


"Sebulan lagi ketemu Mama kok," ucap Abraham kepada istrinya.


"Hmm, iya," sahut Marsha dengan singkat.


Berkendara dan melihat jalanan di kota Semarang, hingga mereka kini telah sampai di Stasiun Tawang. Mereka segera melakukan pengecekan tiket dan memasuki gerbong kereta api eksekutif yang mereka naiki. Marsha memangku Mira mengambil tempat duduk di dekat jendela. Abraham menata koper dan kardus berisi oleh-oleh di kabin kereta. Tidak lupa mengambil jaket, dan kain untuk penutup kala Marsha hendak memberikan ASI untuk Mira.


"Perasaan di sini sepekan, kenapa begitu cepat yah," gumam Marsha kini.


"Hmm, iya ... sepekan rasanya begitu cepat. Cuma ya mau bagaimana lagi. Kamu kan juga harus bekerja. Libur terlalu lama, nanti kita bisa bangkrut," balas Marsha.


Abraham pun tersenyum, "Benar Shayang ... aku harus memastikan dapur kita bisa selalu mengepul. Memberi nafkah untuk istri dan anakku," sahut Abraham dengan menahan tawa.


"Makasih Mas ... kamu bertanggung jawab banget," balas Marsha.


Rasanya baru sesaat mereka menaiki kereta dan sekarang kereta api pun sudah mulai berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Tawang Kota Semarang dan akan menuju ke Jakarta. Ketika kereta itu berjalan, dan melihat pemandangan kota Semarang, Marsha menitikkan air matanya.


"Bahkan, kali ini aku belum bisa mengunjungi orang tuaku sendiri," ucapnya dengan hati yang begitu sedih.

__ADS_1


Bukannya tidak ingin, tetapi saat Marsha menghubungi Mamanya, Mamanya berkata sedang berada di Bandung. Sedangkan Papanya sedang berada di Surabaya. Praktis, di Semarang Marsha tidak bisa mengunjungi orang tuanya sendiri. Yang bisa Marsha kunjungi justru adalah Eyangnya yang tinggal di Ungaran.


"Ya, lain kali kita ke Semarang lebih lama supaya bisa bertemu dengan Mama dan Papa kamu," sahut Abraham.


Marsha pun tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Sulit untuk menemui kedua orang tuaku," balasnya dengan perasaan yang begitu pesimis sekarang ini.


"Ya, tidak apa-apa, kita coba dulu. Sudah dong ... kalau kamu sedih kayak gini, aku ikut sedih," aku Abraham dengan jujur.


Di dalam kereta api itu, beberapa kali Marsha dan Abraham berganti untuk memangku Mira. Untuk Mira sendiri juga kooperatif, beberapa kali Mira bahkan tertidur. Hingga tidak terasa, hampir lima jam berlalu dan kereta api sudah mendekat ke Stasiun Gambir, Jakarta. Dari kereta sekarang sudah telihat Tugu Monas, Marsha tersenyum kepada suaminya, "Bahkan sekarang sudah di Jakarta," balasnya.


"Iya ... sudah di Jakarta, Shayang. Kita mulai dari rutinitas kita di sana. Jangan banyak pikiran yah," pinta Abraham kali ini kepada Marsha.


Terlihat Marsha menganggukkan kepalanya, "Aku akan mencobanya. Semoga ya Mas," balasnya.


"Tidak usah menghiraukan pemberitaan media, toh sekarang kamu hanya mantan istrinya. Apa kamu masih memikirkan dia?" tanya Abraham secara tiba-tiba kepada Marsha.


"Tidak ... aku tidak memikirkannya kok," jawab Marsha.


"Jujur kan?"


"Iya, aku jujur. Kalau aku kepikiran, itu kenapa dulu namaku selalu dibawa-bawa. Jejak digital itu tidak bisa hilang, aku sekarang merasakannya. Walau aku sudah tidak bersamanya, tetapi namaku dan foto-fotoku dulu bersamanya faktanya masih ditampilkan di media. Seperti ini sih yang aku tidak suka," aku Marsha dengan jujur.


Abraham pun juga sepenuhnya memahami perasaan Marsha. Untuk alasan inilah, Abraham mengajak Marsha berwisata berwisata. Walau hanya sepekan, Abraham yakin bisa mengusir kepenatan dan pikiran yang begitu penuh di kepala Marsha sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2