Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pagi dalam Duka


__ADS_3

Pagi menjelang, Marsha terbangun dengan mengumpulkan kesadarannya. Menunggu seluruh fokus retina matanya terbuka, dan akhirnya wanita itu terbangun dengan memperhatikan wajah sang suami yang masih terlelap di sampingnya. Marsha membelai sisi wajah suaminya perlahan, lantas dia menjatuhkan kecupan di pipi suaminya itu, dan tersenyum di sana.


"Kamu kalau bobok gini, teduh banget sih Mas," gumam Marsha dalam hati


Akan tetapi, rupanya ketika Marsha mengecup pipi suaminya, Abraham pun segera mengerjap dan menarik tubuh Marsha, membuat Marsha jatuh ke dalam pelukannya. Refleks, Marsha pun memukul sejenak dada Abraham. Suaminya itu sudah terbangun, tetapi justru memilih untuk tidur.


"Kamu sudah bangun ya Mas? Kupikir masih bobok loh," ucap Marsha dengan masih berada di dalam dekapan suaminya itu.


Perlahan, Abraham pun tersenyum di sana, "Kebiasaan kamu setiap pagi, aku tahu Sayang ... lagian aku udah merasakan ini hampir di setiap pagi. Aku seneng ketika bibir kamu mengecup pipiku," balas Abraham.


Marsha pun turut tersenyum di sana, "Ya sudah, aku bangun dulu ya Mas. Mau menyiapkan sarapan dulu," balas Marsha.


"Cium lagi dulu," pinta Abraham kepada istrinya.


Sedikit beringsut, Marsha pun kemudian memberikan kecupan di pipi kiri dan pipi kanan suaminya itu.


Chup!


"I Love U Mas Abraham," ucap Marsha di sana.


Pagi yang dilewati Marsha memang sederhana, tetapi begitu indah. Ibu dua anak itu segera menuju ke dapur dan kemudian membuat sarapan. Hingga akhirnya, belum sempat seluruh sayuran dimasak, sudah terdengar deringan dari telepon rumahnya. Mencuci tangannya terlebih dahulu, Marsha kemudian menuju ke ruang tamu dan menerima telepon itu.

__ADS_1


"Halo, selamat pagi," sapanya dengan suara yang sedikit serak.


"Halo, selamat pagi ... ini Ibu Marsha?"


"Benar, ini saya sendiri. Marsha ... dengan siapa yah?"


Kemudian Marsha pun menghela nafas, sejenak dia berpikir apakah ada hubungannya dengan nomor tak terdaftar yang menghubunginya kemarin malam. Marsha pun sontak saja berfirasat yang tidak baik sekarang. Hingga akhirnya, wanita itu menunggu jawaban dari penelpon itu.


"Benar dengan Bu Marsha Valentina yah?" tanya penelpon itu lagi.


"Ya, benar Pak ... maaf ini siapa?"


Deg!


"Apa? Meninggal dunia? Maksudnya apa yah?"


Ya Tuhan, sekadar mendengarkan kabar itu saja, keringat dingin sudah muncul begitu saja dan juga membuat Marsha merasakan panik. Bisa Marsha rasakan bahwa jantungnya berdegup dengan lebih cepat.


"Benar, jenazah meninggal kemarin malam dan sudah dibawa ke rumah duka. Demikian pemberitahuan dari kami."


Marsha berusaha untuk menenangkan hati dan dirinya sendiri. Sesaat kemudian Abraham pun terlihat berlari dari kamarnya. Jika tadi pria itu terlihat bahwa dia bahagia dan senang kala mendapatkan kecupan manis dari Marsha, kini justru terlihat jelas bahwa dirinya sangat panik.

__ADS_1


"Shayang ... Shayang," panggilnya dengan berlari menuruni anak tangga.


"Shayang, kamu di sini?" tanya Abraham lagi dengan wajah yang terlihat gusar.


Hingga Marsha menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit pucat dan mata yang tampak berkaca-kaca di sana.


"Mas ... Melvin, Mas."


Sekadar mengatakan itu saja air mata Marsha sudah tidak bisa terbendung lagi. Bagaimana pun ada duka dan kehilangan yang dirasakan Marsha. Setidaknya dulu Melvin pernah menjadi orang yang singgah dalam hidupnya. Sekarang, tidak mudah untuk bersikap baik-baik saja.


"Iya, Shayang ... Tante Saras menelponku. Kita bersiap ke sana yah," ajak Abraham kemudian kepada istrinya itu.


"Anak-anak, Mas," tanya Marsha yang bingung dengan anak-anaknya.


Mama Diah pun keluar, "Bolehkah Mama ikut, Bram?" tanyanya.


"Anak-anak bagaimana Ma?" tanya Abraham kemudian.


"Kita titip sebentar kepada Bu Sara bagaimana? Dia adikmu, Bram ... anak Mama juga kan," balas Mama Diah.


Ya Tuhan, sungguh ini adalah pagi yang berselimut duka untuk mereka. Sungguh tidak menyangka bahwa satu setengah bulan yang lalu mereka mengunjungi Melvin di dalam tahanan, sekarang sang aktor itu justru sudah berpulang ke Rahmatullah.

__ADS_1


__ADS_2