
"Tidak lama lagi waktunya melahirkan, Shayang ... yuk, kita belanja dan mempersiapkan kebutuhannya si baby," ajak Abraham kali ini kepada istrinya.
Marsha yang semula hanya rebahan dan melihat saluran televisi pun menganggukkan kepalanya, "Kapan Mas?" tanyanya.
"Sekarang aja yuk mumpung aku libur," balasnya.
"Ya sudah, aku bersiap dulu ya Mas," balasnya.
Marsha pun segera mencuci wajahnya terlebih dahulu, mengganti pakaiannya dengan celana dan baju oversize untuk Ibu hamil.
Diam-diam, rupanya Abraham sudah membuat list, kira-kira barang apa saja yang dia butuhkan untuk babynya. Menjadi calon Ayah dan perhitungan bahwa tidak akan lama lagi bertemu dengan si bayi membuat Abraham begitu excited.
"Yuk, Mas ... aku sudah siap," ucap Marsha yang memang sudah bersiap.
"Yuk," balas Abraham.
Tidak menunggu waktu lama, Abraham segera melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan di Ibukota. Membawa Marsha untuk berbelanja dan menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan babynya ketika lahir nanti.
"Beli saja semuanya, Shayang ... enggak usah ragu, aku justru senang banget beliin baby kita," ucap Abraham sembari menggandeng tangan istrinya memasuki sebuah outlet yang menjual berbagai keperluan bayi.
"Beli secukupnya saja Mas, kan baby itu cepet besar. Jadi ya, beli secukupnya saja," balas Marsha.
"Silakan Kak, bisa dibantu," sapa karyawan di outlet itu dengan ramah.
__ADS_1
"Iya Mbak, mau lihat-lihat dulu untuk baby newborn," balas Marsha.
"Kira-kira boy atau girl ya Kak? Biasanya sudah tahu calon babynya cowok atau cewek," balas karyawan toko itu.
Marsha dan Abraham sama-sama tersenyum, "Kami memutuskan untuk tidak mencari tahu jenis kelamin si baby kok Kak ... biar jadi kejutan nanti," balas Marsha.
Memang biasanya para calon orang tua akan membeli barang-barang untuk si baby berdasarkan jenis kelaminnya. Namun, berbeda dengan Marsha dan Abraham yang belum mengetahui seperti apa babynya nanti. Rasanya memang lebih mendebarkan dan Abraham yakin bahwa rasa deg-degan itu lebih kuat.
"Kami lihat-lihat dulu Mbak, nanti kalau ada yang cocok, tinggal panggil Mbaknya," ucap Marsha lagi.
Marsha dan Abraham kemudian melihat berbagai keperluan bayi yang lucu-lucu. Aneka warna, aneka ukuran, beragam motif, semuanya membuat keduanya gemas.
"Mau warna apa Mas? Biasanya kan kalau baby girl beli warna pink, dan kalau baby boy beli warna biru. Terus kita, belum tahu si dedek nanti boy or girl. Jadi gimana?" tanya Marsha kepada suaminya.
Apa yang disampaikan Abraham sepenuhnya benar bahwa warna itu netral. Semua orang bisa memilih dan menggunakan warna sesuai pilihan mereka. Namun, untuk sekarang Abraham lebih menyarankan warna-warna netral saja.
"Boleh deh ... iya, jaga-jaga kan. Nanti kalau sudah kelihatan boy or girl, tinggal dibeliin lagi," balas Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya, pria itu mengusap gemas puncak kepala Marsha, "Beli saja Shayang ... Papa siap beliin untuk dedek," balasnya.
“Kalau lihat begini lucu ya Mas … takut kalap terus beli banyak-banyak.” ucapnya.
“Ya beli saja, Shayang … yang kamu pengen, beli saja,” balas Abraham.
__ADS_1
“Beli pakai uang endorse aja Mas, ini juga terkumpul banyak kok,” ucap Marsha.
Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, “Enggak … uang endorse itu sepenuhnya uang kamu. Lagipula, aku ada kok. Penuh tabungan kita, karena job foto juga banyak,” balas Abraham.
“Alhamdulillah, rezekinya dedek bayi,” sahut Marsha.
Setelah banyak berbicara dan melihat berbagai pernak-pernik bayi yang lucu, keduanya akhirnya menjatuhkan pilihan pada warna netral. Warna pink dan biru juga dibeli, tapi hanya beberapa saja. Pakaian bayi, penutup kepala, kain bedong, sarung tangan dan kaki, sampai untuk personal care semuanya dibelikan Abraham. Tidak lupa, Abraham juga membelikan keperluan untuk Marsha. Sebab, Abraham tahu wanita yang menjalani persalinan untuk membutuhkan beberapa perlengkapan.
“Mamanya si dedek bayi juga dibelikan,” ucap Abraham.
“Makasih Papa … kami disayangi dan dipenuhi secara lahir dan batin,” balas Marsha.
Sungguh, Marsha tidak mengira bahwa Abraham adalah pria yang baik dan tulus. Sangat sayang kepadanya dan juga bayinya. Rasanya Marsha benar-benar beruntung memiliki Abraham.
“Papa enggak mau beli sesuatu? Biar Mama yang belikan,” ucap Marsha kemudian.
“Enggak usah … aku tidak ada kebutuhan yang mendesak kok. Buat Mama dan debaynya dulu saja,” balasnya.
“Yakin?” tanya Marsha lagi.
“Yakin,” balas Abraham.
Mengutama dan memprioritas kebutuhan dan keperluan istrinya justru membuat Abraham sangat bahagia. Asal melihat senyuman di wajah Marsha, rasanya sudah cukup buat Abraham. Dengan Marsha, Abraham siap membentuk keluarga kecil, dan memberikan cintanya sepenuhnya untuk istri dan kasih sayang yang besar untuk debaynya nanti.
__ADS_1