
Pulang dari kediaman Melvin Andrian, Abraham terlihat begitu kusut. Sungguh, tuduhan yang tak kira dari Melvin sangat melukai harga dirinya. Bahkan, seumur hidupnya Abraham tidak pernah sama sekali mengharapkan harta peninggalan dari Papanya itu. Yang Abraham cari bukan harta yang berlimpah. Yang Abraham inginkan bukan harta warisan yang sejatinya tidak bisa membeli kebahagiaan dalam hatinya.
Dengan mengemudikan mobilnya, Abraham tampak diam sepanjang jalan. Pria itu menjadi irit berbicara, dan kali ini agaknya Marsha harus kembali sabar. Abraham bukan pria yang meledak-ledak dan merespons suatu kejadian secara langsung. Namun, Abraham adalah tipe yang memendam, sehingga Marsha ada kalanya harus menunggu suaminya itu untuk berbicara semuanya secara langsung dan hati ke hati dengannya.
Akan tetapi, Marsha tidak kekurangan akal. Sebagai istri dan orang yang dekat dengan Abraham, Marsha mencoba untuk memecah kesunyian yang ada di dalam mobil itu.
"Mas, kok diam saja sih," ucap Marsha dengan melirik suaminya itu. Sebenarnya Marsha sangat tahu bahwa suaminya itu sedang kalut, hanya saja Marsha juga dengan siap dan sukarela menerima semua keluh kesah suaminya itu.
"Hmm, iya," balas Abraham dengan singkat.
Marsha kemudian tersenyum dan melirik sekilas kepada suaminya itu, "Besok mau ke tempat karaoke?" tanya Marsha kemudian.
"Hmm, tempat karaoke? Mau ngapain emangnya?" tanya Abraham dengan tampak bingung.
"Dulu, kalau aku galau, kamu selalu membawaku ke tempat karaoke. Membiarkan aku menangis, tertawa, menyanyi seperti orang yang kehilangan kewarasan. Kamu mau nyoba?" tanya Marsha lagi.
Sedikit senyuman pun terbit di sudut bibir Abraham. Pria itu seketika ingat dengan Marsha yang dulu ketika sedih sering kali dia ajak ke tempat karaoke. Di tempat itu, Abraham akan menjadi pendengar. Melihat dan mendengar Marsha yang memilih lagu sesuai perasaan hatinya, mendengarkan tangisan dan tawanya, tetapi pada akhirnya Abraham selalu mengakhiri semuanya dengan memeluk Marsha. Dalam titik terendahnya, Abraham tidak akan pernah meninggalkan Marsha seorang diri.
"Kamu bisa saja sih ... menyanyi dan nangis-nangis sama kayak kamu?" balas Abraham.
__ADS_1
"Iya ... daripada kamu diem kayak gini," balas Marsha.
Jujur, lebih baik bagi Marsha untuk mendengarkan suaminya itu mengeluarkan semua uneg-uneg di dalam hatinya, tanpa ada yang harus disembunyikan. Akan tetapi, setiap orang memiliki respons tersendiri untuk mengelola emosinya. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menata hatinya. Untuk itu, Marsha pun akan tetap berada pada posisinya yaitu menunggu.
"Sudah sejak lama kamu tidak mendatangi tempat karaoke, Shayang?" tanya Abraham kini kepada istrinya.
Dengan cepat Marsha pun menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku enggak akan kemana-mana lagi. Sebab, aku sudah memiliki tempat bersandar, tempat berkeluh kesah, tempat yang akan memberikan kedamaian untuk semua masalah yang menimpaku ... dan tempat itu adalah kamu, Mas."
Marsha mengucapkan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Tidak ada tempat pelarian terbaik selain suaminya. Tidak ada tempat pelarian terindah selain dekapan hangat dari suaminya itu. Mendapatkan semua itu, Marsha tidak membutuhkan apa pun. Dia cukup berlari kepada suaminya.
"Terima kasih telah menjadikanku tempat bersandar bagimu," balas Abraham.
"Sama-sama, Mas ... dan kamu, jadikanlah aku tempat bersandar juga bagimu. Kamu bisa memanfaatkan aku kapan pun kamu mau," balas Marsha.
Mobil yang Abraham kemudikan pun perlahan sampai di rumahnya. Hari sudah malam, Abraham dan Marsha menerka bahwa Baby Mira sudah terlelap sekarang ini. Namun, Mama Diah tampak menunggu mereka di ruang tamu. Melihat Abraham dan Marsha yang sudah pulang, Mama Diah pun segera masuk ke dalam kamarnya, memberikan waktu untuk Abraham dan Marsha untuk beristirahat terlebih dahulu. Esok tentu akan ada banyak hal yang ditanyakan Mama Diah kepada Abraham.
Begitu tiba di dalam kamar Marsha dan Abraham, membersihkan dirinya terlebih dahulu. Supaya tidak ada kuman atau debu yang menempel di tubuh mereka. Terlebih ada Baby Mira, sehingga menjaga kebersihan diri itu jauh lebih penting.
Marsha melihat Baby Mira yang sudah terlelap di dalam box bayinya. Sementara Marsha segera menaiki ranjangnya, bersandar di head board ranjangnya, bergabung dengan suaminya yang sudah berada di sana terlebih dahulu.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya, Abraham pun beringsut dan segera memeluk Marsha. Lagi, pria itu mencerukkan wajahnya di dada istrinya. Bak gayung bersambut, Marsha memeluk suaminya itu dan memberikan usapan di kepala suaminya. Membiarkan keheningan yang akan menemani keduanya untuk beberapa saat lamanya. Usapan tangan Marsha yang begitu lembut mengusapi kepala Abraham. Sungguh, Marsha tahu bahwa suaminya itu sangat risau.
"Aku pusing Shayang," aku Abraham kali ini.
Mendengar bahwa suaminya itu mengaku pusing, dengan segera Marsha mengusapi kepala Abraham, jari-jarinya bergerak dan seolah memijit kepala Abraham dengan lembut.
"Aku sama sekali tidak menginginkan warisan itu. Untuk apa memberikanku warisan, tetapi selama hidupnya saja tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya kepadaku," ucap Abraham dengan masih memejamkan matanya.
Kali ini Marsha tak ingin banyak berbicara, dia sepenuhnya akan mendengarkan suaminya. Menjadi tempat pelarian terbaik untuk suaminya itu. Namun, Marsha terus memberikan usapan dan pijatan di kepala suaminya, sekadar untuk merelaksasi diri supaya suaminya itu tidak terlalu pusing,
"Bagiku kasih sayang yang ditunjukkan secara langsung itu lebih berharga. Harta benda sifatnya sementara, tetapi kasih sayang itu akan terpatri di dalam hati," ucap Abraham lagi.
Sungguh, Marsha sepenuhnya tahu dan paham dengan keinginan suaminya itu. Marsha tahu bahwa memang benar harta duniawi itu sifatnya sementara, tetapi kasih sayang itu terpatri dalam hati. Untuk waktu yang lama, kasih sayang itu juga akan tetap terasa.
"Kasih sayang itulah yang menguatkan sebuah ikatan. Namun, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Aku benar-benar pusing dibuatnya," aku Abraham lagi.
Kali ini untuk beberapa saat Abraham diam, pria itu memilih merasakan usapan tangan Marsha yang lembut di kepala hingga bahunya.
"Kadang kala apa yang manusia inginkan, tidak terjadi. Sebab, yang terjadi hanyalah semua hal yang sudah digariskan Tuhan semata. Sama seperti sekarang ini, Tuhan memiliki rencana atas hidupmu, Mas. Jika tidak seperti ini, kamu tidak akan tahu bahwa Melvin ternyata Adik Tirinya. Rasanya semesta menertawakan dan mempermainkan kita, tetapi percayalah ada alasan yang Tuhan gariskan dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita," balas Marsha.
__ADS_1
Abraham menghela nafas secara kasar, pria itu kemudian kembali berbicara, "Terima kasih Shayangku ... kelembutanmu dan juga menasihatmu yang menyadarkan aku. Kamu berhasil menjadi tempat pelarian terbaik bagiku. Peluk aku di saat aku rapuh. Peluk aku di saat aku merasa tidak yakin tidak diriku sendiri, dan kuatku di saat aku kehilangan semua dayaku. Terima kasih Marsha, Istriku," balas Abraham.
Dengan pasangan kita lah semua kelah kesah, semua masalah dapat kita bagi. Memberikan telinga untuk mendengar. Memberikan waktu untuk menunggu. Serta memberikan cinta yang siap untuk membalut setiap luka. Sama seperti Marsha yang menjadikan dirinya tempat pelarian terbaik untuk suaminya. Memposisikan diri bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mendengarkan dan memberikan sedikit nasihat untuk suaminya itu.