Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menenangkan Pikiran


__ADS_3

Memang dalam pemberitaan infotainment itu disebutkan bahwa Melvin mengajukan banding. Alih-alih kembali mendekam di jeruji besi, Melvin mengupayakan banding untuk bisa direhabilitasi.


"Ya, mungkin mengajukan banding bisa Ma ... cuma keputusan pengadilan yang berlaku," balas Abraham lagi.


Mama Diah dan Marsha sama-sama terdiam. Di dalam hatinya, mereka pun kasihan dengan Melvin. Akan tetapi, benar yang disampaikan Abraham barusan bahwa keputusan pengadilanlah yang berlaku.


"Alasan Abraham mengajak Marsha ke mari juga untuk mendapatkan ketenangan sementara, Ma," ucap Abraham lagi.


Tidak dipungkiri kala berada di Jakarta dan juga pemberitaan Melvin begitu naik, dan nama Marsha yang juga dibawa-bawa membuat Marsha pun juga terpengaruh karenanya. Dengan membawa Marsha ke Semarang sebentar, setidaknya Marsha bisa menenangkan dirinya, dan menjernihkan pikirannya.


"Yang kamu lakukan benar, Bram ... sangat benar," balas Mama Diah.


"Ya sudah, mumpung di Semarang. Kalian tidak ingin jalan-jalan berdua? Biar Mira di rumah saja sama Mama. Mengisi waktu bersama, menenangkan pikiran," ucap Mama Diah yang memberikan waktu untuk Marsha dan juga Abraham.


Marsha menggelengkan kepalanya, "Ketemu Mama, Marsha sudah senang sekali, Ma ... di sini juga setidaknya lebih tenang. Justru Marsha merasa tidak enak dengan Mas Bram yang harus cuti dulu hanya demi istrinya," balas Marsha.


"Tidak apa-apa, Sha ... itu berarti suami kamu sangat cinta kepadamu. Ya sudah, besok kalian jalan-jalan saja. Mau menginap di hotel juga boleh. Mira biar sama Mama saja. Sekali-kali menikmati waktu berdua, mumpun ada Mama yang bisa membantu kalian," balas Mama Diah.


Abraham agaknya menyetujui ide ini, tetapi tidak dengan Marsha. Bagaimana pun Marsha tidak pernah meninggalkan Mira sehingga susah untuk meninggalkan Mira dan harus menginap.


"Ada yang tidak bisa jauh dari Mira, Ma," balas Abraham dengan tertawa.


"Naluriah seorang Ibu," balas Marsha dengan menatap suaminya.


"Ya sudah ... main ke Ungaran sana. Merasakan udara yang dingin dan sejuk biar lebih adem, merasakan ketenangan. Seharian tidak masalah. Jangan memikirkan Mira, ada Eyangnya kok," balasnya.

__ADS_1


"Baik Ma," balas Abraham.


Ya, sedikit refreshing dan menenangkan pikiran sejenak tidak ada salahnya. Semoga saja memang kali ini Marsha bisa menjadi lebih baik.


***


Keesokan harinya ....


Abraham dan Marsha kembali mengunjungi Ungaran. Hanya saja yang mereka kunjungi bukan tempat rekreasi, melainkan ke rumah Eyangnya Marsha yang dulu menjadi tempat tinggal Marsha ketika pergi dari Jakarta.


"Ke rumah Eyang?" tanya Abraham.


"Iya ... kangen sama Eyang. Walau sedih, seharusnya Mira bisa ketemu sama Eyang Buyutnya," balas Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Oh, iya ... ini jadinya Eyang Buyut yah? Ya, sudah ... lain kali bisa mengajak Mira ke sini," balas Abraham.


"Permisi," sapa Marsha begitu memasuki rumah Eyangnya.


"Ya, masuk ... sapa?" tanya Eyang yang sudah sepuh itu.


"Eyang ... ini Marsha dan suami Marsha, Mas Bram," balas Marsha yang langsung memeluk Eyangnya.


"Ya ampun ... Marsha tow ... sini masuk sini," balas sang Eyang.


Benar-benar seolah kembali nostalgia. Rumah lama dengan hawa yang sejuk, juga masih banyak anak-anak kecil yang bermain bola di salah satu pekarangan rumah tetangga yang tempatnya di depan rumah milik Eyang.

__ADS_1


"Kabarnya gimana Sha?" tanya sang Eyang.


"Baik dan sehat, Yang ... Eyang bagaimana sehat?"


"Sehat ... yuh, akhirnya ke sini juga, menjenguk Eyang," balasnya.


Hingga akhirnya, Eyang menyuguhkan kopi dan singkong goreng. Teman yang sering kali menemani di daerah pegunungan. Abraham pun tentu sangat menyukainya.


"Anakmu mana Sha? Tidak dibawa kemari?" tanya Eyang lagi.


"Di Semarang, Eyang ... sama Eyangnya di sana, Mamanya Mas Abraham," balas Marsha.


Seharian itu benar-benar dihabiskan Marsha dan Abraham di kediaman Eyang Buyut. Mendengar cerita Eyangnya. Melihat anak-anak kecil yang asyik bermain sepakbola, dan juga menikmati udara dingin di pegunungan Ungaran. Semua seolah membuat Marsha dan Abraham merasakan refreshing dan pikiran mereka lebih jernih.


Walau hanya sehari, tetapi semuanya itu terasa begitu menyenangkan. Hingga menjelang sore, Marsha dan Abraham berpamitan kepada Eyang.


"Kami pamit ya Eyang," pamitnya.


"Ya, hati-hati. Lain kali kalau main itu nginep. Anaknya dibawa ke sini," balas Eyang.


"Nggih Eyang ... nanti dibawa ke sini," balas Abraham.


"Eyang doakan kalian berdua yang berumahtangga adem ayem, langgeng yah sampai Kakek-Nenek," doa dari sang Eyang.


"Amin ... amin."

__ADS_1


Mendapatkan doa yang begitu tulus dari Eyangnya membuat Marsha mengaminkannya dalam hati. Keinginannya memang ingin bersama Abraham sampai tua nanti. Menghabiskan hari-harinya bersama pria yang sangat dicintainya itu, Abraham Narawangsa.


__ADS_2