
Malam itu di ruang tamu di unit apartemen Abraham terlihat Mama Diah sudah menyiapkan tiga cangkir Teh hangat dengan martabak telor dan martabak manis di atas meja. Sementara, Marsha memang memilih untuk mandi terlebih dahulu. Rasanya setelah seharian beraktivitas di luar, mengguyur tubuh lebih dahulu dan memastikan tubuh sudah bersih menjadi pilihan bagi Marsha.
“Udah mandi?” tanya Mama Diah begitu melihat Marsha yang keluar dari kamar dengan rambut yang setengah basah.
“Iya Ma … bau keringat soalnya, Ma … kalau sudah mandi kan udah segar,” balas Marsha.
“Gimana tadi pemotretannya? Lancar?” tanya Mama Diah lagi.
“Lumayan Ma … cuma Mas Bram tadi grogi. Katanya karena enggak pernah foto. Lucu ya Ma … kerjaannya di depan kamera, tetapi saat difoto malahan grogi,” balas Marsha dengan terkekeh geli. Teringat bagaimana ekspresi suaminya yang begitu tegang ketika difoto.
“Bram memang tidak suka foto sejak kecil … dia bisa kepikiran ngajak kamu foto maternity saja sudah hebat banget,” balas Mama Diah.
__ADS_1
Marsha kemudian menatap wajah Mama Diah dengan tatapan yang seakan membutuhkan penjelasan kenapa suaminya itu tidak suka difoto sejak kecil. Rasanya, pasti Abraham memiliki alasan tersendiri kenapa dirinya tidak suka difoto.
“Iya … dulu, foto terakhirnya saat dia berusia 2 tahun. Di hari ulang tahunnya itu, justru keesokan harinya Papanya pergi ke Jakarta. Kesengsem sama model Ibukota, dan kemudian meninggalkan Mama dan Bram yang masih kecil begitu saja,” cerita Mama Diah dengan menghela nafas.
Helaan nafas yang terasa begitu berat, sampai rasanya untuk sekadar menceritakan kembali bagaimana masa kecil Abraham pun rasanya begitu berat untuk Mama Diah. Hanya saja, dengan Marsha, Mama Diah bisa bercerita. Mama Diah menganggap bahwa Marsha pun berhak tahu masa kecil Abraham.
“Setelah itu, apakah Mas Bram pernah bertemu dengan Papanya?” tanya Marsha.
“Pernah … saat Abraham berusia 7 tahun. Papanya datang dengan mengajak serta Mama tirinya. Abraham masih kecil saat itu, melihat Papanya datang dan menggendong seorang anak yang usianya masih kecil, Abraham seolah protes … tidak mau menemui Papanya. Mama hanya berpikiran mungkin saja kenangan Abraham bersama Papanya memang tidak banyak. Selain itu, ada rasa iri dari seorang Abraham yang saat itu masih kecil kepada adik tirinya,” cerita Mama Diah lagi.
Dulu, saat perceraian kedua orang tuanya saat Marsha masih kuliah saja sudah membuat Marsha begitu hancur. Bagaimana dengan Abraham yang tidak memiliki kenangan masa kecil dengan Papanya sendiri. Dulu, Marsha mengira dirinya yang sangat kesakitan saat orang tuanya berpisah. Rupanya Abraham mengalami hal yang jauh lebih menyakitkan dibanding dirinya. Setidaknya di masa kecilnya, Marsha merasakan bahwa dirinya memiliki orang tua, Mama dan Papanya hidup bersama. Walaupun sering kali cek-cok, tetapi Marsha merasakan pengasuhan dari Mama dan Papa.
__ADS_1
“Itu hanya masa kecil, Sha … sekarang Abraham sudah dewasa. Waktu pun sudah berubah. Abraham menjadi kuat setelah mengenal kamu,” balas Mama Diah lagi.
“Dulu, Marsha pikir … Marsha lah yang paling menderita saat Mama dan Papa Marsha memutuskan untuk bercerai. Akan tetapi, setelah mendengar cerita masa kecil Mas Abraham, Marsha merasa bahwa Marsha lebih beruntung. Walau pun Papa dan Mama sering cek-cok, tetapi Marsha memiliki kenangan masa kecil bersama Mama dan Papa. Terima kasih sudah mengasuh dan membesarkan Mas Bram hingga Mas Bram menjadi sosok yang tangguh, dewasa, dan sekarang bisa mengayomi Marsha. Terima kasih banyak, Ma ….”
Marsha mengucapkan semuanya itu dengan sungguh-sungguh, tanpa Mama Diah yang mengasuh Abraham dengan baik, mustahil Abraham bisa menjadi sosok seperti sekarang ini. Marsha sepenuhnya percaya bahwa semua itu karena Mama Diah yang mengasuh Abraham.
Mama Diah tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Sama-sama … maafkan Mama juga untuk kesalahan Mama di masa lalu. Mungkin karena Mama terlalu takut dengan model, seakan memori dengan Papanya Bram dulu kembali begitu saja. Kamu gadis yang baik sejak dulu, Sha … tetapi dulu, Mama tidak suka dan mencari berbagai alasan untuk memisahkan kamu dan Abraham. Maafkan Mama,” ucap Mama Diah.
Cukup lama keduanya bercerita bersama, sampai akhirnya Abraham pun keluar dari kamarnya, dan bergabung dengan istri dan juga Mamanya.
“Seru banget ngobrolin apa sih?” tanya Abraham.
__ADS_1
Baik Marsha dan Mama Diah sama-sama tersenyum pias, tetapi Marsha yang langsung membuka tangan dan ingin memeluk suaminya itu. Ada rasa bangga di dalam hati kepada Abraham. Sebagai seorang pria yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, Abraham justru tumbuh menjadi pria yang sangat baik dan juga penyayang.