Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pelukan Hangat


__ADS_3

Untuk apa cinta tanpa kejujuran …


Untuk apa cinta tanpa perbuatan …


Tak ada artinya …


Dengan suara yang mendayu pilu, Sara menyanyikan sepenggal bait lagu tersebut. Rasanya lagu itu sangat mewakili isi hatinya sekarang ini. Untuk apa cinta, jika tidak ada kejujuran. Untuk apa mencintai, jika tidak terwujud nyatakan dalam perbuatan setiap hari. Untuk apa mencintai dan mempertahankan sebuah status, jika masih saja selalu menyakiti.


Semua rasa itu yang memenuhi dada Marsha hingga terasa begitu saja. Dengan menggenggam microphone di tangannya Marsha menyanyikan lagu tersebut, hingga tidak terasa air matanya berlinang begitu saja. Suara yang merdu, perlahan berubah pilu … ada rintihan dalam suara wanita yang berprofesi sebagai seorang model itu.


Menyadari perubahan suara Marsha, Abraham memilih berdiri. Pria itu menghela nafas, sebelum akhirnya mulai berjalan perlahan, sama sekali tidak menimbulkan suara jejak kaki, dan Abraham tanpa permisi, tanpa kata, tanpa bersuara, mulai mendekap tubuh Marsha. Memeluknya dari belakang.


Memberikan musik instrumen itu masih berjalan, menyadari isakan dari Marsha, dengan perlahan Abraham mengubah posisi Marsha menjadi berhadap-hadapan dengannya, dan Abraham segera memeluk tubuh Marsha.


Tubuh wanita itu terlihat begitu rapuh, dengan wajah yang basah karena air mata yang berlinang. Abraham menghela nafas sembari memejamkan matanya. Abraham memeluk Marsha, benar-benar tak bersuara sama sekali. Membiarkan suasana ruangan itu hanya dialuni musik instrumental dengan lirik yang mengharu biru itu.


Sementara Marsha sendiri juga mengharu biru dalam pelukan Abraham. Pelukan yang hangat dari mantan kekasihnya. Pelukan yang hangat yang sangat menenangkannya. Sejak dini hari, Marsha begitu merindukan pelukan seperti ini. Pelukan dari orang yang tidak banyak bicara, tetapi merengkuhnya, memberikannya tempat untuk bersandar walau sesaat. Pelukan yang bisa menghapus harinya yang pilu dan penuh duka.


Membiarkan beberapa saat berlalu, dan Abraham masih memeluk Marsha. Tidak ada yang pria itu lakukan selain memeluk tubuh Marsha dengan begitu eratnya.


Menyadari sudah terlalu lama mereka berdiri dan saling berpelukan, Abraham barulah kembali bersuara kali ini.


“Kita duduk dulu yah … capek kalau kamu berdiri terus,” ucapnya.


Marsha menganggukkan kepalanya, wanita itu bahkan rela saja saat Abraham menggandeng tangannya dan membawanya untuk duduk di sofa. Rupanya, di sofa … Abraham segera merangkul bahu Marsha dan membenamkan wajah wanita itu ke dadanya. Memberi dirinya sebagai tempat bersandar bagi Marsha. Membiarkan dadanya menampung tetesan demi tetesan air mata dari Marsha.


“Menangis saja … jika menangis bisa menenangkan dirimu, menangis saja,” ucap Abraham.

__ADS_1


Pria itu menggerakkan tangannya, memberikan usapan di lengan Marsha dengan gerakan naik dan turun yang begitu lembut. Sampai di batas, tak ada lagi tangisan dari Marsha. Wanita itu sudah bisa lebih tenang. Pelukan dan perhatian seperti ini yang Marsha inginkan.


“Bram,” ucap Marsha dengan lirih memanggil nama pria itu.


“Hmm, apa, Sha?” tanya Abraham.


“Makasih,” ucap Marsha lagi.


Wanita itu menarik wajahnya dari dada Abraham, dan beringsut sehingga kini keduanya bisa saling bertatapan satu sama.


“Makasih untuk pelukanmu,” ucap Marsha lagi.


Abraham menganggukkan kepalanya secara samar, dan tangannya bergerak menyeka sisa-sisa air mata di wajah Marsha.


“Sama-sama, Sha … ingat, kamu memiliki akses tidak terbatas untuk memanfaatkanku. Jadi, manfaatkanlah aku. Aku sama sekali tidak keberatan,” balas Abraham.


Bak gayung bersambut, Abraham pun segera menegakkan punggungnya, dan memberikan usapan yang lembut di puncak kepala Marsha. Membiarkan Marsha untuk bersandar kepadanya. Rasanya, Abraham seolah kembali di masa lalu, di mana dirinya akan dengan sukarela menampung semua air mata Marsha. Kenangan seperti ini seolah terulang kembali, dan Abraham justru merasa beruntung bahwa di saat-saat terpuruknya, Abrahamlah yang menjadi orang yang berada di samping Marsha.


“Bram,” panggil Marsha lagi dengan suara yang lirih.


“Hmm, apa Sha?” jawabnya.


“Tadi pagi … aku mengakui kepadanya, kalau aku main hati dengan pria lain,” ucap Marsha kali ini kepada Abraham.


“Lalu?” tanya Abraham dengan singkat. Itu memang sebuah respons yang singkat, tetapi Abraham ingin mendengar cerita versi lengkap dari Marsha terlebih dahulu.


“Dia tidak percaya … dia tidak percaya jika aku main hati dengan pria lain,” jawab Marsha.

__ADS_1


Ada sebersit kepahitan yang menyeruak di dada Marsha. Sudah dua kali Marsha berusaha jujur kepada suaminya sendiri bahwa dia main hati dengan pria lain, tetapi dua kali pula Melvin tidak mengakui pengakuan Marsha.


“Aku ingin mengakhiri semua kisahku bersamanya,” ucap Marsha kini dengan yakin.


Keinginan yang dia pendam, akhirnya tersampaikan pula kepada Abraham.


“Kamu yakin, Sha?” ucap Abraham.


“Iya, yakin … sangat yakin,” balas Marsha.


“Aku akan mendukungmu apa pun itu Marsha … hanya saja pikirkan lagi dengan kepala dingin. Jangan memutuskan segala sesuatu hanya berdasarkan emosi saja, takutnya kamu justru akan menyesal di kemudian hari,” balas Abraham.


Itu adalah nasihat yang Abraham berikan kepada Marsha. Sekadar meminta supaya Marsha tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Jangan mengambil keputusan di saat emosi tengah mendidih. Hendaknya sebuah keputusan diambil harus sudah dipertimbangkan dengan matang-matang, tidak ada yang tersakiti dengan keputusan final yang akan diambil.


“Jadi, aku harus gimana Bram?” tanya Marsha kali ini.


“Pikirkan lagi … tanyakan lagi pada hatimu, apakah kamu masih mencintainya. Jika ada sedikit saja cinta, kalian bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama,” jawab Abraham.


Sungguh, Abraham pun juga tidak ingin membuat Marsha gegabah mengambil keputusan. Justru Abraham memberi nasihat, supaya Marsha menilik lagi pada hati dan perasaannya. Masalah ada untuk diselesaikan. Cobaan dalam rumah tangga ada untuk dicari solusinya bersama-sama. Lagipula, semua rumah tangga memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Pasangan suami dan istri bisa berseteru, tetapi keduanya juga harus menenangkan diri mereka dan mencari solusi untuk permasalah yang mereka hadapi. Sebab, masalah itu pasti ada di tiap-tiap kehidupan orang berumahtangga.


“Baik, aku akan memikirkannya lagi,” sahut Marsha.


Semula Marsha pikir Abraham akan mendukungnya dan menyuruh Marsha untuk segera mengakhiri pernikahannya dengan Melvin. Akan tetapi, Marsha salah. Justru Abraham dengan gentle mengatakan kepada Marsha untuk mengurai segala perkara dalam hatinya, mencari jalan keluarnya terlebih dahulu.


“Ingat Sha … jika kamu benar-benar tidak bisa bertahan. Perceraian itu adalah opsi terakhir. Jika bisa mendapatkan opsi-opsi lainnya, kenapa harus mengambil opsi terakhir secepat ini?” balas Abraham.


“Baik Bram, aku akan memikirkannya lagi. Namun, aku boleh memelukmu dulu Bram? Aku membutuhkan pelukan hangat,” aku Marsha dengan jujur.

__ADS_1


Ya, Marsha akan memikirkan kembali prahara rumah tangganya. Dia akan menimbang-nimbang lagi. Akan tetapi, untuk saat ini Marsha sangat membutuhkan pelukan hangat dari Abraham. Bahkan Marsha kali ini berkata jujur, ingin memeluk Abraham dan membutuhkan pelukannya. Biarlah dirinya mendapat ketenangan sesaat. Yang pasti ada tangan kokoh dan dada yang bidang yang menyambutnya dan memeluknya dengan begitu hangat.


__ADS_2