
Selang tiga hari berlalu, kini Abraham hendak membawa pulang Marsha dan bayinya. Kehadiran baby Marvel yang kian akan menyemarakkan rumahnya. Terlebih dahulu, pria itu menyelesaikan semua administrasi dan juga mengambil obat yang harus Marsha minum selama proses pemulihan.
"Pulang sekarang ya Shayang?"
Marsha tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Mas ... aku juga sudah kangen Mira. Biasanya banyak ngabisin waktu setiap hari dengan Mira, sekarang di Rumah Sakit," balas Marsha.
Ya, dia merasa sudah begitu rindu dengan Mira. Biasanya di siang hari, banyak Marsha habiskan untuk mengasuh Mira, menemani putrinya itu bermain dan juga belajar.
"Iya, nanti juga sudah bisa bertemu dengan Mira kok. Mamanya Mira sudah kangen sama anak menantu Sultan," balas Abraham dengan tertawa.
Ini hanya sekadar candaan karena Marsha terlihat mellow di sana. Memang begitulah seorang ibu, ketika usai melahirkan ada rasa kangen kepada anak sulungnya. Merasa rindu dan juga takut bahwa Mira juga merindukannya.
"Kangen Mas ... biasanya kan sehari-hari sama Mira. Ya, sekarang sudah ada adiknya sih. Cuma ya masih aja kangen. Jadi, nanti mau peluk Mira dulu," balas Marsha.
Akhirnya, siang itu juga Abraham mengajak Marsha untuk pulang ke rumah bersama dengan babynya. Pria itu tampak begitu bahagia dengan membawa sang istri pulang ke rumah. Juga, dengan Marvel yang tangisannya akan kian menyemarakkan kehidupan rumah tangga mereka.
Menembus kemacetan di Ibukota, hingga akhirnya mereka sudah tiba di rumah. Dengan hati-hati, Abraham membukakan pintu untuk Marsha dan kemudian membantu Marsha untuk berhati-hati dalam berjalan.
"Sakit enggak Shayang buat berjalan?" tanyanya.
"Perutnya yang sakit Mas ... kalau dulu kan waktu melahirkan Mira kan yang sakit pangkal pahanya," jawab Marsha.
Ya, ketika melahirkan normal dulu, yang dirasakan Marsha adalah nyeri dan ngilu di pangkal pahanya dengan bekas jahitan yang ada di sana. Sementara, sekarang yang sakit adalah di bawah pusarnya yang terasa ngilu.
"Perutku juga kadang kayak kram juga Mas ... sakit juga sih. Kalau ada yang bilang melahirkan caesar tidak sakit itu salah loh. Caesar pasca operasi begini juga sakit kok," balasnya.
__ADS_1
Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Dulu orang selalu bilang kalau melahirkan normal itu menjadi ibu yang sempurna. Padahal normal atau caesar itu hanya sebuah metode persalinan saja. Di mataku, kamu tetap adalah seorang ibu yang sangat sempurna. Pelan-pelan yah, nanti sakitnya juga akan berkurang kok," balasnya.
"Iya, penting kamu peka saja sih Mas ... kalau gak peka, nanti aku marah lagi," balas Marsha.
"Iya-iya Shayang ... maafin yang dulu yah. Gak lagi," balas Abraham dengan yakin.
Akhirnya Abraham mengetuk pintu rumahnya, dan sudah ada Mama Diah dan Mira yang membukakan pintu untuk Papa Abraham, Mama Marsha, dan baby Marvel.
"Welcome Home Mama, Papa, dan Adik Bayi," sambut Mira dengan begitu senang bisa melihat Mama, Papa, dan Adiknya yang sekarang sudah pulang ke rumah.
"Senang bisa bertemu Kak Mira lagi," balas Marsha yang sekarang sudah meneteskan air matanya.
"Mira kangen Mama," balasnya dengan memeluk Marsha, kepala gadis kecil itu berada di perut dekat pinggang Marsha.
"Mama sakit apa?" tanya Mira dengan mengurai pelukannya.
"Sakit habis melahirkan adik bayi, Kak Mira," balas Marsha.
"Ayo, ke kamar Ma ... istirahat Ma," ajak Mira kepada Mamanya.
Akhirnya Mira yang berjalan di depan dan meminta Marsha untuk masuk ke dalam kamar untuk bisa beristirahat. Tampak Abraham membantu Marsha, "Hati-hati Sayang," ucapnya.
"Iya Mas," balas Marsha.
Begitu sudah sampai di kamar, dengan pelan-pelan Marsha menidurkan Marvel di dalam box bayi dan kemudian dia mengambil duduk yang ada di sofa. Mama Diah pun tersenyum lebar melihat Marsha yang sudah berada di rumah.
__ADS_1
"Selamat ya Sha," ucap Mama Diah dengan memeluk Marsha.
"Makasih Mama ... terima kasih sudah menjaga Mira dengan baik. Terima kasih sudah selalu bantuin Marsha," balasnya.
"Sama-sama Sha ... Mama juga senang bisa bantuin anak-anak Mama. Oh, iya ... Mama sudah masakkan Sup Sayuran untuk kamu. Nanti makan yah, biar diambilkan Abraham," ucap Mama Diah.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Siap Mama ... Bram siap melayani anak kesayangannya Mama," balasnya dengan tertawa.
"Harus dong ... kalau kamu nakal, Mama yang akan jewer kamu. Sekarang anaknya sudah dua, Bram ... makin disayang istrinya karena dia yang sudah berjuang dengan darah dan air mata untuk melahirkan buah hati kalian berdua," nasihat dari Mama Diah.
"Siap Ma ... sudah pasti Bram akan selalu sayang dan cinta kepada Marsha. Seumur hidup Bram," balasnya dengan yakin.
"Makasih Papa, sudah selalu nemenin waktu melahirkan Marvel kemarin. Terima kasih banyak," balas Marsha.
"Sama-sama Sayang ... aku akan selalu menjadi support sistem terbaik untuk kamu."
***
Dear My Bestie,
Dalam satu minggu ini novel Hasrat Terlarang Sang Istri akan tamat yah. Kemudian, akan berlanjut ke kisahnya Elkan dan Mira. So, jangan lupa dukung untuk karya baru yang akan terbit minggu depan yah. Jangan lupa untuk berikan like dan komentar agar authornya semakin semangat.
Love U All,
Kirana
__ADS_1