Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Misi Berhasil


__ADS_3

Sungguh, malam ini menjadi malam yang bergelora untuk Marsha dan juga Abraham. Rasa rindu yang tertahan akhirnya benar-benar bisa diekspresikan secara nyata. Keduanya sama-sama merasakan indah percikan kembang api yang bisa dilihat dengan kedua mata yang terpejam.


Perlahan-lahan Abraham berguling ke sisi Marsha, dan segera menyelimuti tubuh keduanya. Abraham mendekap erat Marsha dan menyeka keringat di kening istrinya itu.


"Makasih Shayang ... akhirnya, rindu ini berlabuh ke muara juga," ucap Abraham.


"Modus," balas Marsha.


"Serius ... aku pusing Shayang. Sekarang sudah sepenuhnya pulih deh, semuanya karena kamu. Nikmat tiada terkira," balas Abraham lagi.


Marsha melirik kepada suaminya itu, "Gitu sukanya nyebelin ... kalau udah ketemu maunya yang ***-***," balas Marsha.


Abraham terkekeh di sana, "Enggak lagi nyebelin, Shayang ... janji," balas Abraham.


"Kalau bohong?" Marsha bertanya dengan cepat.


"Tidak akan bohong. Gak akan nyebelin lagi," balas Abraham.


Marsha kemudian sedikit beringsut dan menarik selimut untuk menutupi dadanya, dan kemudian berbicara kepada suaminya, "Mas, aku haus," ucapnya.


Abraham segera menganggukkan kepalanya, pria itu beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih kilat dan kemudian hendak keluar dari kamar untuk mengambilkan air minum untuk Marsha.


"Pakai baju dulu Shayang," ucap Abraham.


"Aku mau mandi dulu Mas," balas Marsha dengan singkat.


Abraham pun membantu istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi dan kemudian Abraham keluar perlahan dari kamarnya dan menuju ke dapur. Rupanya ada Mama Diah yang duduk di dapur, dan tengah membuat Teh jahe malam itu.

__ADS_1


"Ma, belum tidur?" sapa Abraham kepada Mamanya.


"Belum Bram ... pengen minum yang hangat-hangat. Hujannya awet," balas Mama Diah.


Abraham kemudian melihat ke luar jendela yang ada di dekat dapur memang hujan begitu deras. Memang sangat cocok untuk menikmati minuman hangat yang bisa menghangatkan badan.


"Mau teh jahe?" tawar Mama Diah kepada Abraham.


"Mau Ma ... teh biasa saja ada enggak Ma? Buat Marsha," balasnya.


"Ada ... di teko itu ada seduhan teh melati biasa," balas Mama Diah.


Abraham kemudian mengambil cangkir mug dan membuatkan minuman untuk Marsha terlebih dahulu, dan kemudian pamit kepada Mamanya dulu. "Bram, ke kamar sebentar berikan untuk Marsha, Ma," pamitnya.


"Nah, gitu ... istrinya sedang hamil itu lebih diperhatikan. Biar saling sayang, saling cinta," balas Mama Diah.


Abraham pun tertawa kecil, "Fixed, anak kandungnya Mama itu Marsha kok ... Bram jadi kayak anak pungut di sini. Namun, makasih Ma ... selama beberapa hari ini Mama sudah jagain Marsha untuk Bram. Makasih Ma," balasnya.


"Sama-sama ... jangan diulangi lagi. Membahagiakan istri itu pahalanya besar untuk suami," balas Mama Diah.


"Iya Ma ... Bram janji tidak akan mengulangi lagi," balasnya dengan berlalu ke dalam kamarnya.


Kemudian dia menaruh secangkir teh hangat itu di atas nakas, dan kemudian mengambil pakaian mereka yang masih berserakan di dekat ranjangnya. Abraham tersenyum menatap ranjangnya dan teringat dengan kegiatan panas mereka yang baru usai. Benar-benar bahagia rasakan bisa menyelami samudra cinta bersama dengan Marsha. Hingga akhirnya Marsha keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.


"Kamu keramas Shayang?" tanya Abraham dengan bingung.


"Iya Mas ... gerah banget. Rambutku juga lepek, berkeringat," balasnya.

__ADS_1


"Ya ampun, hujan deras kayak gini, kamu malahan keramas. Sini, aku yang keringkan," ucap Abraham yang meminta handuk kecil dari tangan Marsha.


Pria itu menyuruh Marsha untuk duduk dan kemudian mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil, bahkan Abraham menggunakan hair dryer dan menyisiri helai-helai rambut Marsha yang panjang itu.


"Perhatian banget sih," ucapnya.


"Sejak dulu juga perhatian kok Yang," balas Abraham.


"Seneng deh diperhatiin gini," balas Marsha.


"Iya, Shayang ... sambil diminum tehnya. Aku buatin Teh hangat," balasnya.


Marsha pun menikmati teh yang dibuat oleh suaminya itu dan tersenyum dalam hati. Perlakuan seperti ini yang dia inginkan. Suami yang peka, istri pun sudah begitu bahagia.


"Sudah kering rambutnya, tadi basah banget. Kamu bisa masuk angin, malam-malam mandi," balas Abraham.


"Abis lengket, Mas," balas Marsha.


"Sebentar aku ambil Teh jahe untuk aku dulu yah, Mama membuat teh jahe," balas Abraham.


Hanya tiga menit Abraham keluar dan sekarang Abraham sudah kembali ke dalam kamarnya, "Sudah, hangat deh. Tadi sudah dapat kehangatan dari kamu, sekarang dapat kehangatan dari Jahe," balas Abraham.


"Bisa saja sih," balas Marsha.


Marsha menjeda sejenak ucapannya dan kemudian menatap suaminya itu, "Mas, mumpung di Semarang. Besok aku boleh pulang ke rumahku enggak Mas? Pengen ketemu Mama dan Papa walau cuma sebentar," balasnya.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Tentu boleh, Shayang ... besok aku anterin yah. Kita ke rumah Mama dan Papa kamu. Penting jangan sedih yah," balas Abraham.

__ADS_1


Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... sekadar bertemu saja kok. Sejak menikah, aku tidak bertemu Mama dan Papa," balas Marsha.


Mumpung berada di Semarang, Marsha ingin sekaligus memanfaatkan waktu untuk bertemu dengan Mama dan Papanya. Memang sejak menikah dengan Abraham, Marsha tidak lagi bertemu dengan Mama dan Papanya. Untuk itu, kali ini Marsha ingin menemui orang tuanya.


__ADS_2