
Sudah dua hari, Marsha tinggal di rumah Mama Diah. Menikmati tinggal di rumah mertua sebelum nanti kembali ke Jakarta dan hidup bersama Abraham. Selama dua hari Mama Diah juga merupakan Ibu mertua yang sangat baik, bahkan Marsha pun bisa akrab dengan mertuanya itu.
“Mama, esok Marsha dan Mas Bram akan kembali ke Jakarta ya Ma,” pamit Marsha kali ini kepada Mama Diah.
“Iya Sha … tidak apa-apa. Penting pesannya Mama, jaga kesehatan, jaga kehamilan, rukun dan bahagia dengan Bram yah,” balas Mama Diah.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Pasti Mama … terima kasih banyak ya Ma, Marsha sangat bahagia memiliki Mama dan juga Mas Bram,” balasnya.
Memang tidak dipungkiri mendapatkan mertua dan suami yang baik membuat Marsha begitu bahagia. Mungkin dulu Marsha tidak beruntung karena mertuanya tidak baik, suaminya pun memperlakukannya dengan buruk juga sehingga banyak kesedihan dalam rumah tangga Marsha.
“Sering telepon Mama ya, Sha … telepon gak harus karena butuh sesuatu. Mama dengar kabar anak-anak baik saja sudah sangat senang,” balas Mama Diah.
“Iya Ma … nanti Marsha akan sering telponan sama Mama,” jawab Marsha.
***
Keesokan harinya ….
Abraham dan Marsha pun dalam perjalanan ke stasiun, dan kali ini Mama Diah sendiri yang mengantarkan putra dan menantunya itu ke stasiun. Jika dulu Marsha pulang hanya dengan satu koper saja, kini bahkan koper mereka menjadi empat dan ada satu koper khusus yang berisi aneka oleh-oleh yang bisa Marsha makan saat di Jakarta nanti. Menurut Mama Diah sapa tahu nanti di Jakarta, Marsha merindukan berbagai makanan khas Semarang seperti Kue Mochi, Lanting, bahkan ada Tahu Baxo, Bandeng Presto khas Juwana, dan juga Lumpia Gang Lombok.
“Nanti, makanan yang basah langsung dimasukkan kulkas dulu ya Sha … bandengnya bisa sampai satu minggu. Nasi bandeng dan sambal saja sudah enak,” ucap Mama Diah memberitahu menantunya itu.
“Iya Ma … makasih banyak ya Ma, malahan kami dibawain oleh-oleh sebanyak ini,” balas Marsha.
“Tidak apa-apa. Nanti kalau kamu ngidam, pengen apa dari Semarang, bilang saja yah … nanti Mama kirimkan paket buat kamu,” balas Mama Diah.
“Mama baik banget, Marsha sampai terharu,” jawab Marsha dengan mengusapi perutnya. “Eyang baik banget ya Dik … nanti pasti Adik senang banget memiliki Eyang yang cantik dan baik hati,” balas Marsha.
Melihat Marsha, Mama Diah pun tersenyum, “Nanti Adik Bayi main sama Eyang Putri,” balasnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya mobil itu sampai di Stasiun dan Abraham serta Marsha berpamitan kepada Mama Diah. Perpisahan yang penuh haru, tetapi memang Marsha ingin ke Jakarta bersama dengan Abraham. Mencetak tiket, dan kemudian tidak berselang lama mereka memasuki kereta eksekutif tujuan Semarang - Jakarta itu.
“Sudah nangisnya,” ucap Abraham yang mengambil tissue dan memberikannya untuk Marsha.
“Terharu … diantar Mama, rasanya sedih banget,” jawab Marsha sambil terisak.
Abraham pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala Marsha, “Nanti kan ketemu Mama lagi. Kalau ada liburan, kita bisa pulang ke Semarang lagi. Mau aku peluk?” tawar Abraham.
“Enggak malu,” sahut Marsha.
Tentu saja Marsha malu, berpelukan di kereta tentu membuat para penumpang lain akan menatap tajam ke arah mereka. Ini adalah tempat yang masih tinggi budaya Jawanya, di mana tidak boleh bermesra-mesraan dengan lawan jenis sesuka hati. Menjaga jarak dan tidak mengumbar kemesraan.
“Ya sudah, pegang tangan kamu aja yah … jangan menangis Shayang. Ada aku,” ucap Abraham.
Perlahan Marsha pun menganggukkan kepalanya, menenangkan dirinya sendiri dan kemudian kereta pun perlahan berjalan. Melintasi area kota Semarang menuju jalur utara dan perjalanan akan berlangsung sampai lima jam ke depan untuk tiba di Jakarta.
“Jadi, waktu itu kamu naik kereta?” tanya Abraham dengan cukup kaget.
“Iya, kereta jam 08.00 pagi dari Stasiun Gambir,” balas Marsha.
“Aku mencarimu kemana-mana Sha … sampai seperti orang gila aku mencarimu. Syukurlah, kamu selamat di Semarang, dan lebih bersyukur karena sekarang kamu adalah milikku,” balas Abraham.
Marsha menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … kembali ke Jakarta lagi, ke apartemen kamu lagi,” balasnya dengan tersenyum.
Beberapa jam perjalanan dengan kereta berlangsung. Siang yang terik, tetapi justru menyenangkan bagi Marsha karena dia sangat suka melihat pemandangan dari aneka sawah, sungai, bahkan perbukitan yang terlihat dari jendela kereta api. Lebih menyenangkan karena ada Abraham di sisinya dan sering kali menggenggam tangannya.
“Pinggang kamu sakit enggak Shayang? Pegel misalnya, aku bisa sewakan bantal untuk pinggang kamu,” ucap Abraham dan bergerak dan memberikan sedikit usapan di pinggang Marsha.
“Enggak … enggak capek kok Mas. Mungkin juga baru tiga bulan, kalau hamil perut, sudah pasti pegel banget,” balasnya.
__ADS_1
Abraham tersenyum, “Kalau pegel bilang yah, minimal nanti aku bisa pijitin di apartemen,” balasnya.
“Hmm, iya,” balas Marsha dengan singkat.
Menjelang sore hari, begitu sudah lebih dari lima jam perjalanan dengan kereta, sekarang mereka sudah tiba di Stasiun Gambir. Kembali menginjakkan kaki di Ibukota setelah tiga bulan lamanya. Begitu sudah di Ibukota, Marsha mengenakan masker dan kacamata hitam, hanya sekadar berjaga-jaga saja jika ada awak media atau netizen yang mengenalinya.
“Maaf ya Mas, aku masih harus sembunyi-sembunyi,” ucap Marsha.
“Tidak apa-apa, aku sepenuhnya paham,” balas Abraham yang juga tidak keberatan.
Sekarang, mereka telah tiba di apartemen Abraham. Pria itu membuka pintu apartemennya dan mempersilakan Marsha untuk masuk.
“Masuk Shayang … ini akan jadi rumah kita,” ucapnya.
“Makasih Mas,” balas Marsha.
Wanita itu melepaskan kacamata dan masker yang dia kenakan, kemudian segera memeluk Abraham. Menyandarkan wajahnya di dada Abraham, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang suaminya itu.
“Maaf ya Shayang, aku cuma bisa berikan apartemen saja untuk tempat tinggal kita. Ini apartemenku sendiri, bukan sewa kok. Aku tidak bisa memberikanmu rumah mewah,” ucap Abraham.
Marsha melepaskan pelukannya sesaat kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak butuh rumah mewah kok Mas … karena … kamu adalah rumahku. Dulu kamu berkata saat mengajakku menikah kamu ingin aku menjadi rumahku, dan kamu pun akan menjadi rumah bagiku. Jadi, jangan merasa begitu, aku bahagia bersamamu. Tanpa kemewahan, kita bisa hadirkan kebahagiaan bersama,” balas Marsha.
Dulu memang bersama Melvin semua kemewahan bisa Marsha dapatkan. Rumah besar fasilitas mewah, berbagai kemudahan lainnya. Namun, apa arti semua kemewahan itu, jika berujung luka. Bersama dengan Abraham, Marsha tidak mempedulikan kemewahan. Abraham dan cintanya jauh lebih besar dan berarti bagi Marsha.
“Mau jadi rumahku?” tanya Marsha kemudian.
“Mau, aku mau jadi rumah buat kamu. Masuk, tinggal, dan bernaunglah di dalamku,” balas Abraham dengan memeluk Marsha.
Sebab, tak ada lagi yang mereka perlukan selain rumah yang bisa mereka datangi, tinggali, dan naungi. Pasangannya adalah rumah bagi mereka. Menerima mereka apa adanya, menyayangi mereka, dan memberikan perlindungan untuk mereka. Sebab rumah yang sesungguhnya adalah di mana ada cinta!
__ADS_1