
Beberapa jam lamanya Marsha, Abraham, dan Mira jalan-jalan di Farmhouse. Menjelang sore, Abraham mengajak istri dan anaknya untuk kembali ke Semarang lagi. Keseruan mereka harus berakhir karena hujan yang turun di area Ungaran.
"Pulang ya Shayang," ajak Abraham kepada istrinya.
"Iya Mas, gerimis juga. Itu mendungnya juga gelap. Jadi, ya lebih baik pulang aja. Mampir beli Tahu Baxo kesukaan kamu dulu ya Mas. Nanti bisa digoreng kalau di rumah," balas Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Oke Shayangku, nanti mampir beli Tahu Baxo dulu. Sama bikin sambal kecap enak, Yang," balas Abraham.
Marsha pun tersenyum, "Oke Mas, nanti aku bikinin sambel kecap juga. Buat kamu apa sih yang enggak," balasnya.
Abraham pun segera melajukan mobilnya menuju ke tempat penjual Tahu Baxo yang terkenal di Ungaran, bahkan Abraham membeli sampai lima kotak karena begitu sukanya dengan Taho Baxo itu. Usai membeli oleh-oleh, Abraham pun kembali mengemudikan mobilnya masuk via jalur tol, dan kembali pulang ke Semarang.
Jika di Ungaran gerimis sudah berganti dengan hujan yang begitu deras, di Semarang pun juga hujan, walau tidak sederas di Ungaran. Ketiganya tiba di rumah, dan Mira pun rewel kala itu.
"Sudah pulang? Kok rewel?" tanya Mama Diah.
"Iya Ma, gerah mungkin, Ma … langsung Marsha mandiin aja ya Ma," balas Marsha.
"Iya. Sana mandiin dulu saja," balas Mama Diah.
Kemudian Mama Diah melihat ke Tahu Baxo yang dibeli Abraham itu. "Malahan kamu beli? Ini tadi Mama juga beli loh, beli online tadi," balas Mama Diah.
"Iya Ma, mumpung di Ungaran. Jadi beli sekalian," balas Abraham.
"Mau Mama gorengin?" tanya Mama Diah.
"Nanti malam aja, Ma. Buat nyantai dan ngobrol-ngobrol sama Marsha," balasnya.
Mama Diah tersenyum melihat anaknya itu, "Ya sudah mandi sana. Abis dari luar, usahakan jaga kebersihan soalnya kalian juga punya anak kecil."
***
Malam harinya ….
Mungkin Mira memang kecapekan, usai seru-seruan di Farmhouse dan banyak mengenal hewan di sana, malam harinya Mira begitu cepat terlelap. Bahkan jam 18.30 saja, Mira sudah tidur dengan begitu lelap.
__ADS_1
Semarang yang hujan rintik-rintik dan angin malam yang cukup dingin agaknya membangkitkan hasrat pada diri Abraham. Pria itu menghampiri Marsha yang masih rebahan di ranjang dan melihat handphonenya.
"Shayang, Mira baik banget loh … tahu Papanya baru kangen Mamanya, jadi dia jam segini sudah tidur," balas Abraham.
Marsha yang tahu kode dari suaminya pun hanya tersenyum di sana. "Yakin di sini Mas? Mama belum tidur loh," balas Marsha.
"Sebentar yuk Yang … kilat atau express juga enggak masalah," balas Abraham.
Marsha tampak menggelengkan kepalanya di sana, "Aku gak bisa menikmati kalau buru-buru dan tidak tenang, Mas. Susah," akunya dengan jujur.
Dalam mencapai puncak asmara memang pria dan wanita itu berbeda. Wanita perlu merasakan tahapan demi tahapan tertentu, jika langsung diserang yang ada justru tidak ada kenikmatan sama sekali. Itu yang coba Marsha kemukakan kepada Abraham sekarang ini. Lebih baik jujur, daripada melakukan hubungan suami istri dan seolah ada rasa tidak lega di dalam hati.
"Sudah santai saja, sebentar aku kunci pintunya. Lampunya mau nyala atau dipadamkan?" tanya Abraham.
"Dipadamkan saja Mas," balas Marsha.
Abraham pun tidak menunggu waktu lama. Kesempatan ini harus dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya pun Abraham akan memanfaatkan waktu ini.
Pria itu meraih dagu Marsha dan mulai melabuhkan bibirnya di sana. Jika sebatas berlabuh dan menempel saja tidak akan cukup, Abraham pun mulai membuka bibirnya dan mencecap bibir Marsha di sana. Memagutnya dengan begitu lembut. Abraham sedikit menenglengkan wajahnya dan menahan tengkuk Marsha untuk memperdalam ciumannya. Dalam pagutannya yang lembut, dua bibir yang bertemu pun menghasilkan decakan. Akan tetapi, Abraham segera menarik wajahnya sesaat dan menaruh jari telunjuknya di depan bibir Marsha, "Sstts, jangan keras-keras Shayang," ucap Abraham.
Tangan Abraham pun mulai menyusuri lekuk feminist di sana. Meraba buah persiknya dan meremaanya perlahan.
"Mas," de-sah Marsha dengan suara perlahan.
Abraham tersenyum di sana, "Jangan keras-keras Shayang," bisik Abraham dengan lirih.
Abraham kemudian hanya mengangkat kaos yang dikenakan Marsha saja, dan kemudian menggoda buah persik yang ada di sana. Menenggelamkan buah persik itu dalam rongga mulutnya yang hangat. Sapuan lidah Abraham yang basah begitu menggoda hingga Marsha kian membusungkan dadanya.
"Mas," de-sah disertai pekikan.
Ketika Abraham melihat istrinya itu, Marsha segera menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. Astaga, benar-benar ingin mende-sah, tetapi apa daya. Hari masih jam segini dan berada di rumah mertua, tidak mungkin untuk bisa bersuara dengan leluasa.
Invansi Abraham kian turun, hingga dia melepaskan celana Marsha di dalam sana. Pria itu dengan sengaja menyelimuti Marsha, dan melakukan sesuatu dari balik selimut. Satu kegiatan yang membuat Marsha kalang-kabut dan kembang kempis. Sungguh luar biasa, lembah di bawah sana sudah di porak-porandakan oleh Abraham.
Ketika Marsha ingin mendapatkan pelepasannya, terdengar ketukan di pintu. Sudah pasti itu Mama Diah.
__ADS_1
"Sha, tahunya Mama goreng yah?"
Astaga, Marsha yang terengah-engah pun berusaha menyahut.
"Iya Ma," balasnya.
"Mama bikinkan sambal kecap sekalian ya Sha?"
Ya Tuhan, rasanya Marsha ingin menjauhkan Abraham dari bawah sana. Akan tetapi, sekarang Abraham justru menyatukan dirinya dengan Marsha. Pusakanya telah berhasil masuk dalam cawan sorgawi. Tangan Abraham bergerak dan mengisyaratkan Marsha untuk bersuara.
"Ii … iya Ma, nanti Marsha keluar Ma," balas Marsha dengan keringat yang mengucur karena begitu grogi dan panik di saat bersamaan.
"Oke Sha, santai saja."
Bahkan terdengar suara telapak kaki Mama Diah yang kian menjauh, Abraham tersenyum dan mengangkut ibu jarinya kepada Marsha.
"Good, Shayang," balasnya.
"Ayo, Mas … aku takut sumpah. Takut ketahuan," balas Marsha.
Lagi-lagi Abraham tersenyum, pria itu justru kian menggoda Marsha dengan melakukan gerakan seduktif keluar dan masuk. Bahkan dengan sengaja Abraham menghentak, membuat Marsha menahan nafas sepenuh dada.
Beberapa menit berlalu, dan Abraham masih bermain-main di sana. Sensasinya memang luar biasa. Panik, nikmat, dan cemas bercampur menjadi satu.
"Marsha, Bram … tahunya sudah masak nih. Kalau sudah keluar yah," panggil Mama Diah lagi.
Astaga, Marsha yang memejamkan matanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Di saat dia sudah di langit ketujuh, dia harus menjawab suara Mama Diah lagi.
"Ya, Ma … sebentar ya Ma," balas Marsha.
Semoga saja nafasnya yang berat dan terengah-engah tak akan terdengar Mama Diah.
Abraham terkekeh tanpa suara, Marsha memukul lengan suaminya itu. Hingga Abraham pun menganggukkan kepalanya. Dia itu tanpa aba-aba menghujam begitu dalam, menghentak dalam harmoni dan tempo yang cepat. Hingga akhirnya keduanya sama-sama menahan nafas, bahkan Marsha menutup mulutnya rapat-rapat di sana.
"Love U Shayang, Love U," ucap Abraham dengan tubuh di atas tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Astaga, deru nafas yang memburu disertai panik menjadi sensasi yang luar biasa berbeda untuk Marsha dan Abraham kali ini.