
Resepsi pernikahan itu berjalan kurang lebih tiga jama lamanya. Sekarang, keduanya tinggal beristirahat memulihkan energinya. Terlebih kaki yang cukup pegal karena harus berdiri sekian waktu lamanya.
"Kami pulang dulu ya Marsha," pamit Mama Ria dan Papa Budiman.
"Iya Mama dan Papa ... terima kasih banyak untuk semuanya," balas Marsha.
"Istirahat ... jangan kecapekan, tadi sudah berdiri lama kan. Kami kembali ke rumah masing-masing," ucap Mama Ria lagi.
"Iya Ma," sahut Marsha dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian pandangan Papa Budiman ini beralih kepada Abraham, terlihat Papa Budiman membawa tangannya untuk menepuk bahu menantunya itu.
"Papa titipkan Marsha padamu ya Bram ... semoga ini menjadi yang terakhir untuk Marsha. Langgeng, saling mengerti dan memahami satu sama lain." Papa Budiman menasihatkan semua itu kepada Abraham.
Walaupun dirinya sendiri gagal dalam membina rumah tangga, tetapi semua orang tua tidak menginginkan kegagalan bagi rumah tangga anaknya. Itulah yang dirasakan Papa Budiman itu.
"Baik Pa ... Bram akan menjaga dan mencintai Marsha," jawab Abraham dengan tulus.
Setelah kedua orang tua Marsha berpamitan, giliran Mama Diah yang berpamitan kepada Marsha dan Abraham.
"Mama juga pamit yah ... kalian istirahat saja," ucap Mama Diah.
Marsha pun mengambil langkah dan segera memeluk Mama mertuanya itu. "Mama, terima kasih banyak ya Ma ... Marsha sampai tidak bisa berbicara yang lain, selain terima kasih," ucap Marsha.
Mengingat peliknya kisah asmaranya dengan Abraham, dan kini sudah mendapatkan restu yang bisa Marsha ucapkan hanyalah rasa terima kasih kepada Mama Diah.
"Mama juga berterima kasih, Sha ... Mama juga serahkan Bram kepadamu. Saling mencintai dan bertahan dalam setiap ujian rumah tangga yang bisa datang kapan pun. Kalian di sini untuk tiga hari kan?" tanya Mama Diah.
"Iya Ma," jawab Marsha dengan menunduk malu.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Dinikmati dulu momen pernikahannya. Apalagi kalian berdua juga usai dipingit, jadi pengen kangen-kangenan," balas Mama Diah.
__ADS_1
Setelahnya Mama Diah menatap ke wajah putranya, "Bram, hati-hati yah ... kalian memang sudah menikah. Halal bagi satu sama lain, hanya saja ingat ada si baby," pesan Mama Diah kepada putranya.
"Iya-iya Mama," sahut Abraham dengan menyipitkan kedua matanya kepada Mamanya itu.
Setelahnya, Marsha dan Abraham saling bergandengan tangan. Mereka menaiki lift bersama dan menuju ke kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh keluarga Marsha. Menginap tiga hari di hotel bintang lima di kota Semarang ini dipesankan khusus oleh Mama Ria bagi Marsha dan Abraham.
Keluar dari lift, mereka berjalan menyusuri koridor dan memasuki kamar mereka di lantai 12. Kamar presidential suite dengan buket bunga Mawar segar yang sudah tersedia di ranjang dengan sprei dan selimut putih itu. Atensi Marsha kini teralihkan pada bunga mawar itu, karena Marsha memang menyukai bunga Mawar. Marsha mengambil bunga itu dan menciumnya, mendekatkannya ke hidungnya, kemudian Marsha tersenyum.
"Ini dari kamu ya Bram?" tanya Marsha.
Abraham berjalan dan mendekap tubuh Marsha dari belakang, semerbak aroma melati dari reroncean bunga yang menghiasi kepala Marsha langsung menyapa indera penciuman Abraham.
"Iya, Shayangku ... suka?" tanyanya.
"Suka," balas Marsha.
Rasanya begitu aneh, sekadar dipeluk Abraham dari belakang saja sudah membuat Marsha berdebar-debar. Marsha sampai menghela nafas karenanya.
"Iya, boleh ... mau barengan enggak?" tanya Abraham kini.
Marsha tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Sendiri saja, sama merendam kakiku dengan air hangat biar enggak pegal. Jangan ngintip loh, jangan macam-macam," gertak Marsha kali ini kepada suaminya.
Abraham hanya tertawa, tentu dia juga akan memberi waktu bagi Marsha. Membersihkan badan terlebih dahulu, karena Abraham tahu Marsha juga membutuhkan waktu untuk menghilangkan capeknya setelah mengikuti acara akad dan resepsi pernikahan mereka.
***
Ketika malam tiba ....
Setelah sama-sama bersih, dengan mengenakan piyama tidur yang sama yang disiapkan oleh Mama Diah. Kini mereka duduk di sofa dan menikmati kerlip lampu yang terlihat dari jendela kaca besar di kamar hotelnya.
"Sini duduknya jangan jauh-jauh Shayang," ucap Abraham.
__ADS_1
Marsha beringsut, dan dia duduk mendekat kepada suaminya. Malu-malu rasanya. Dulu saat belum menikah dan sering bersama di apartemen, rasanya tidak begitu canggung. Begitu sudah sah dan halal bagi satu sama lain, justru Marsha merasa begitu canggung.
Abraham membawa tangannya merangkul bahu Marsha, lantas membawa kepala Marsha untuk tenggelam di dadanya. Membiarkan Marsha mendengarkan detak jantungnya yang bertalu-talu.
"Gimana perasaan kamu Shayang?" tanya Abraham kali ini.
"Hmm, senang," balas Marsha.
Abraham tersenyum, pria itu menundukkan wajahnya dan memberikan kecupan di puncak kepala Marsha. Tangannya meraba dan memberikan usapan di telapak tangan Marsha.
"Aku seneng banget, Shayang ... jadi, malam ini aku milikmu, dan kamu milikku," ucap Abraham.
Usai mengakhiri ucapannya itu, Abraham menundukkan wajahnya, tetapi pria itu membawa wajah Marsha sedikit menengadah dan tanpa ragu Abraham mulai memagut lembut bibir Marsha. Ciuman yang dalam, pria itu memejamkan matanya disertai dengan lu-matan yang seakan tiada henti. Saat kedua bibir beradu, jantung yang berdetak kian bertalu-talu, dan mata yang saling terpejam. Pasangan yang sudah sah dan halal bagi satu sama lain itu mencecap indahnya ciuman pernikahan. Tidak ada kata dosa, tidak ada kata terlarang, yang ada adalah kata cinta yang bertabur bubuk candu!
Kian dalam Abraham melu-mat dan menghisap dua belah bibir Marsha, kian kuat pula Marsha menekan dada Abraham. Penjelajahan bibir Abraham kini mulai beralih dari bibir Marsha dan menyisir leher Marsha yang jenjang. Jejak-jejak hangat nan basah, Abraham ciptakan di sepanjang garis leher Marsha. Oh, itu adalah cumbuan yang membuat Marsha berdesir.
"Bram," de-sahan Marsha dengan menyebutkan nama suaminya itu.
"Iya Shayang," sahut Abraham yang masih menjatuhkan kecupan demi kecupan yang basah di leher Marsha.
Abraham menarik wajahnya, kemudian menatap wajah Marsha dengan kedua mata yang masih terpejam. Pria itu membawa telapak tangan Marsha untuk membelai sisi wajahnya.
"Shayang, boleh aku meminta hakku sebagai suamimu?" tanya Abraham kali ini. Ini adalah permintaan pertama Abraham yang meminta haknya sebagai suaminya.
Mata Marsha perlahan membuka, Marsha menatap wajah Abraham yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Lantas, Marsha pun menganggukkan kepalanya secara sama.
"Boleh, silakan," sahut Marsha dengan memeluk Abraham.
Dia mempersilakan, tetapi sekaligus Marsha begitu malu dan juga berdebar-debar. Tak pernah terbayangkan, bahwa dia akan bersama Abraham di dalam satu kamar hotel dengan hubungan yang sah antara satu sama lain.
Lanjut tidak nih? Wkwkwk ....
__ADS_1
Yang suka, like, komentar, dan vote boleh loh ... :"D