
Jika ada sesuatu yang merekah melebihi kelopak bunga yang bermekaran tentu itu adalah Marsha. Ya, wajah Marsha begitu merekah dan berseri-seri karena suaminya meluangkan waktu untuknya dan juga memberikan apa yang dia mau. Seharusnya hal seperti inilah yang begitu diinginkan Marsha, ketika dia ingin sesuatu, Abraham tanpa banyak memberi alasan mau memenuhinya.
"Seneng?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
"Seneng banget lah Mas … ini yang namanya membahagiakan istri," balasnya.
Ucapan Marsha seakan menjelaskan bahwa memang ada masa di mana Abraham tak bisa membahagiakan Marsha. Bahkan Bumil itu sampai merasakan kram di perutnya. Untuk semua kesalahannya, Abraham benar-benar menyesal.
"Panekuk ice creamnya dimakan. Dulu kamu suka banget sama ini kan?" balas Abraham.
Marsha pun tersenyum, "Iya, dulu … tapi kan Ibu hamil itu jadi aneh. Yang dulu suka, sekarang bisa menjadi tidak suka. Yang dulu tidak suka, sekarang bisa jadi suka. Yang tetap cuma satu," balas Marsha.
"Apa?" Abraham menyahut dengan cepat.
"Cintaku padamu nilainya tetap dan mutlak," balas Marsha.
Abraham yang duduk di depan Marsha pun mengulum senyuman di wajahnya dan kemudian memakan sedikit ice cream dengan masih tersenyum.
"Pinter banget bikin aku meleleh kayak es krim ini," balas Abraham.
"Aku bicara jujur," balas Marsha.
"Iya-iya, jujur. Makasih ya Shayang," balas Abraham.
Usai makan bersama di Toko Oen, Marsha kembali berbicara kepada suaminya. "Kamu duluan masuk mobil saja Mas ... aku mau beli Loenpia Mbak Lien dulu," ucapnya.
Memang di dekat Toko Oen itu ada Lumpia Semarang yang juga legendaris bernama Loenpia Mbak Lien, hanya perlu berjalan beberapa meter saja dari Toko Oen. Kali ini, tidak ingin menyusahkan suaminya, Marsha berniat untuk membeli sendiri saja.
"Kamu yang masuk ke dalam mobil saja, Shayang ... biar aku yang belikan. Ini masih gerimis juga. Trotoarnya licin, bahaya untuk ibu hamil," balas Abraham.
Tidak menunggu waktu lama, Abraham membukakan pintu mobil untuk Marsha terlebih dahulu dan kemudian dia menghidupkan mesin mobilnya. "Tunggu yah ... mau yang mentah atau yang matang?" tanya Abraham.
"Mentah ... digoreng nanti malam aja. Sapa tahu ujannya awet, jadi malam-malam bisa makan lumpia yang masih hangat," balasnya.
Abraham pun segera menuju ke tempat berjualan Lumpia itu, dan kemudian membeli 10 biji lumpia mentah yang bisa digoreng nanti malam di rumah. Kala membeli itu, Abraham juga kembali tersenyum, ada yang satu hal lagi yang tidak berubah, yaitu Marsha selalu menyukai Lumpia, dan sampai sekarang hal itu juga tidak berubah.
"Ada banyak yang tidak berubah, Shayang ... kamu juga masih begitu menyukai lumpia ini. Kamu memang unik," gumam Abraham dalam hati sembari berjalan menuju ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Sudah, mau ke mana lagi Nyonya Abraham?" tanyanya.
"Sudah Mas ... pulang. Sudah sore, nanti Mira nyariin kita," balas Marsha.
Akhirnya Abraham melajukan mobilnya kembali dan menuju ke kediaman Mama Diah. Tepat seperti perkiraan Marsha, Mira sudah mencari Mama dan Papanya, sehingga saat melihat Mama dan Papanya kembali, Mira pun langsung menghambur ke memeluk Mama dan Papanya bersamaan.
"Mira nyariin loh," ucapnya.
"Maaf yah, tadi Mama ajakin Papa dulu beli Lumpia," ucap Marsha.
"Iya Mama," balas Marsha.
Setelah itu, sepanjang sore hingga malam mereka habiskan waktu untuk bercengkerama bersama. Ada Mira yang tentu merasa bahagia karena ada Papanya, sehingga Mira begitu menempel dengan Papanya. Bahkan sampai tidur pun, Mira maunya di temani oleh Papanya. Sehingga Marsha menunggu di dalam kamar. Bersantai ria dengan handphone di tangannya dan mendengarkan rinai hujan yang justru kian deras malam itu.
Hampir setengah jam berlalu, sekarang barulah Abraham memasuki kamarnya, dan melihat Marsha di sana. "Belum bobok Shayang?" tanya Abraham secara perlahan.
"Belum, nungguin kamu," balas Marsha.
Pria itu tersenyum dan mulai menaiki ranjangnya, tampak banyak bicara, Abraham membuka pelukannya, memberikan kode kepada Marsha untuk masuk dalam pelukannya. Bak gayung bersambut, Marsha pun memeluk Abraham di sana, menghirup aroma Woody yang berpadu dengan Citrus yang memiliki kesan sporti dan maskulin, sungguh begitu kangen Marsha dengan aroma parfum suaminya itu.
"Enggak, kangen sama parfumnya," balasnya.
Abraham pun tertawa kecil di sana, "Aku kira kangen aku, ternyata kangen sama parfumku," balasnya.
Setelah itu, Abraham ternyata kembali berbicara kepada Marsha, "Shayang, aku kangen kamu ... kangen banget. Bolehkah aku menginginkanmu malam ini?"
Abraham dengan jujur mengatakan keinginannya. Terlebih beberapa minggu tidak disentuh sudah pasti hasrat Abraham kian menggebu. Melihat mood dan suasana hati Marsha sedang baik, Abraham berusaha untuk mengatakan niatannya.
"Takut kedengaran Mama, Mas," ucapnya.
"Santai saja," balas Abraham.
Tak ingin menunggu waktu lama, Abraham segera beranjak dari ranjang, dan menutup pintu kamarnya dengan rapat bahkan dia mengunci kamar itu. Tidak hanya itu, Abraham juga mematikan lampu utama di kamarnya, hanya lampu tidur di sisi nakas saja yang menyala. Setelahnya, Abraham segera melepaskan kaos yang dia kenakan, dan kemudian tampil shirtless di hadapan istrinya.
"Aku sudah mendamba, Shayang," ucap Abraham.
Sungguh Marsha merasa berdebar-debar sekarang. Memang sudah berkali-kali mereka bercinta, tetapi mendengar Abraham mengatakan bahwa dirinya sudah mendamba, membuat Marsha merasakan detak jantungnya yang berpacu kian cepat.
__ADS_1
Abraham yang sudah mengakui bahwa dirinya sudah begitu mendamba segera mendorong Marsha untuk rebah dan lantas melabuhkan bibirnya di bibir Marsha, pria itu berusaha tidak menindih tubuh Marsha yang tengah hamil, tetapi dengan nafas yang begitu memburu Abraham mengecupi bibir Marsha, mengulumnya dengan begitu cepat dan kuat, mengusap lipatan dua belah bibir itu atas dan bawah bergantian. Abraham benar-benar haus sekarang, sehingga bibir itu kian bergerak, kian memagut, dan kian menghisap.
Tak ingin berlama-lama, Abraham menarik ke atas kaos yang dikenakan Marsha. Pria itu tersenyum mengamati kain berenda berwarna hitam yang membungkus area dada istrinya. Agaknya Abraham dalam mode mendamba sehingga semua benang di tubuh Marsha, dia lucuti perlahan. Ingin melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah itu di hadapannya.
Abraham dengan perlahan memberikan remasan di buah persik yang ranum itu, memutarnya, dan memilin puncaknya, dan satu buah persik yang lain dia tenggelamkan dalam rongga mulutnya. Menghisapnya, mencumbunya, bahkan memberikan gigitan-gigitan kecil hingga puncak itu menegang.
"Mas ... hhh," de-sah Marsha ketika merasakan tubuhnya tersengat. Bahkan dia memekik kala gigitan Abraham kian keras. "Jangan digigit," pekik Marsha perlahan.
Abraham justru tersenyum di sana, ketika sudah merasakan buah persik itu rasanya Abraham begitu gemas dan ingin menggigitnya dengan gigi-giginya.
"Nikmati saja, Shayang ... malam ini, kamu ratunya," ucap Abraham.
Penyelusuran Abraham kian turun, hingga akhirnya dia menyapa lembah di bawah sana. Tidak perlu diragukan lagi, lidah dan bibirnya menari-nari di dalam lembah itu. Tusukan demi tusukan dengan ujung lidahnya sukses membuat tubuh Marsha menggeliat. Bahkan Marsha menggigit bibirnya sendiri lantaran merasa pelepasan yang begitu dahsyat.
Cukup lama Abraham membuai lembah di bawah sana, hingga benar-benar basah. Abraham lantas melepas sisa-sisa benang yang menempel di tubuhnya dan perlahan dia memegang pusakanya yang berdiri tegak menggoda di sekitar bibir cawan surgawi ini. Hingga Marsha menahan nafas merasakan ujung benda tumpul itu.
"Mas ... aku mau," pinta Marsha.
"Oke Shayang," balas Abraham.
Kini, Abraham dengan sangat yakin mulai menghunuskan pusakanya memasuki cawan surgawi milik istrinya. Kesan hangat berpadu basah seketika menyambut Abraham, juga dengan otot-otot kewanitaan yang seolah meremas pusakanya hingga Abraham melenguh kenikmatan.
"Wow, nikmat," ucap Abraham dengan disertai hujaman demi hujaman di dalam cawan surgawi itu.
Benar-benar nikmat, pusakanya disambut dengan sempurna. Remasan yang memabukkan sampai Abraham benar-benar memejamkan matanya. Hujaman demi hujaman dia lakukan dengan memejangi pinggul Marsha. Jujur, Marsha kian seksi saat ini. Bulatan indah yang tampak bergerak dengan sensual membuat Abraham terpukau dan kian terlecut untuk menapaki samudera cinta bersama dengan Marsha.
Kian dalam Abraham menghujam, kian kuat Marsha menahan nafasnya.
"Oh, Mas Bram ... Mas," de-sah Marsha dengan kian memejamkan matanya.
Pun dengan Abraham yang seolah dirinya menyelami samudera cinta. Samudera yang membuatnya mabuk kepalang. Kenikmatan dan juga desiran di tubuhnya membangkit sejuta sel di dalam tubuhnya. Nikmat.
Hujaman dan juga lecutan Abraham kian cepat, cepat, dan cepat. Sampai di batas Abraham menggeram dan tubuh di atas tubuh Marsha.
"I Love U Shayang ... Love U More," ucap Abraham dengan berusaha menahan bobot tubuhnya untuk tidak menekan perut Marsha.
Dalam naungan malam dengan rinai hujan di luar sana, keduanya sama-sama menyelami samudra. Keduanya merasa kehujanan setelah beberapa musim mengalami kekeringan. Sungguh nikmat, hingga tidak ada kata lagi yang bisa keluar dari kedua bibir mereka.
__ADS_1