
Hampir setengah jam berlalu, dan kini kelopak mata Marsha pun mulai mengerjap. Wanita itu perlahan-lahan terbangun, dan bersuara lirih, mencari sosok Abraham tentunya.
“Bram ….”
Marsha memanggil nama Abraham dengan lirih, tetapi sosok yang dia cari sejak tadi ada di sampingnya. Ya, Abraham bahkan mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidurnya untuk menjaga Marsha. Kini, mendengar Marsha yang sudah sadar, Abraham merasa begitu lega.
“Sha, akhirnya kamu sadar Sha,” ucap Abraham dengan helaan nafas yang membuat pria itu sungguh merasa lega. “Sebentar, aku ambilkan Teh hangat dulu buat kamu yah,” ucap Abraham. Dia masih ingat pesan dari Dokter Patria untuk memberikan minuman manis untuk Marsha supaya kadar gulanya meningkat dan memberikan kekuatan kepada Marsha yang lemah.
“Bantu aku duduk dulu, Bram,” pinta Marsha kali ini.
Abraham menganggukkan kepalanya, dengan cekatan dia mulai membantu Marsha untuk duduk dan bersandar di headboard tempat tidurnya. Merasa bahwa Marsha sudah duduk dengan nyaman, kemudian Abraham mulai berjalan ke dapur membuatkan Teh hangat untuk Marsha.
“Diminum dulu, Sha,” ucap Abraham.
Begitu perhatiannya Abraham, bahkan kini pria itu masih memegangi gelas dan juga mendekatkan bibir gelas kaca berwarna cokelat itu ke bibir Marsha. “Hati-hati, aku buat agak panas,” ucap Abraham.
Marsha pun meminum Teh hangat itu perlahan. Rasa sepat dari Teh, berpadu dengan rasa gula yang manis, dan aroma melati yang semerbak membuat Teh hangat itu bisa memberikan ketenangan dan menguatkan dirinya yang saat ini lemah. Bahkan Marsha meminumnya hampir setengah gelas.
“Makasih … jam berapa ini Bram?” tanya Marsha kemudian.
“Hampir jam 13.00, Sha … kenapa, kamu lapar yah? Sebentar lagi aku antar pulang dan kita makan bersama yah,” ucap Abraham.
Marsha hanya diam, sesekali wanita itu memijit pelipisnya yang masih sedikit pening. Namun, tidak berselang lama, Marsha kemudian kembali berbicara, “Bram, lebih baik … aku pulang saja ya Bram. Mama tidak akan merestui kita. Jadi, tidak apa-apa, Bram. Tetaplah menjadi seorang anak yang baik untuk Mama kamu. Aku tidak akan memaksamu untuk memilih di antara aku dan Mamamu. Jadilah anak yang penurut dan membanggakan Mama kamu, Bram,” ucap Marsha dengan tulus.
__ADS_1
Rasanya Marsha akan menjadi begitu berdosa jika memaksa Abraham memilih di antara Mamanya dan dirinya. Jika memang ada orang yang harus berkorban, maka Marsha siap untuk berkorban. Biarkan Abraham tetap bersama Mamanya.
“ … tapi, Sha?” sahut Abraham dengan singkat.
“Tidak apa-apa, Bram … aku akan melahirkan dia, aku juga tidak akan menutup akses komunikasi antara kamu dan dia. Kita bisa mencari jalan tengah. Cinta memang tidak harus memiliki kan Bram? Namun, jika harus memilih, pilihlah Ibumu karena surga berada di bawah telapak kaki Ibu,” ucap Marsha.
Mendengar apa yang Marsha katakan, Abraham mengusap wajahnya dengan kasar. Wanita yang duduk di hadapannya ini memang luar biasa. Justru Abraham bisa melihat bahwa Marsha kian dewasa rasanya. Namun, bagaimana jika di dalam hatinya, Abraham juga menginginkan Marsha? Tidak bisakah dia memiliki Marsha dan mendapatkan restu serta kasih sayang dari Mamanya juga?
“Bagaimana dengan cintaku ini, Sha? Bagaimana, Sha? Baby kita juga membutuhkan keluarga yang utuh. Membutuhkan Ayah dan Ibunya,” balas Abraham.
Setiap anak membutuhkan figur orang tua yang utuh. Ada Ayah dan Ibu. Dua orang yang akan menjadi cermin bagi si anak. Mendapatkan cinta, kasih sayang, dan juga perhatian dari Ayah dan Ibunya, teladan utama dan pertama dalam hidupnya. Abraham merasa bahwa anaknya nanti juga merasakan hal yang sama.
“Kamu bisa terus menemuinya nanti,” balas Marsha dengan sungguh-sungguh.
“Sekarang, minta tolong antar aku kembali pulang ya Bram … tidak apa-apa. Kita akan kuat menjalani semua ini,” ucap Marsha.
Sebelum berdiri, rupanya Abraham mendekat. Pria itu tanpa banyak berbicara segera mendekap tubuh Marsha dengan begitu erat.
“Marsha … Marsha,” ucapnya dengan kian mengeratkan pelukannya. “Aku cinta kamu, Sha … sangat cinta kamu. Baiklah aku turuti perkataanmu. Kita besarkan putra kita bersama. Maafkan aku, Sha,” balas Abraham dengan menitikkan air mata.
Merasa perjuangannya kali ini pun buntu. Tidak mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan. Pun sama dengan Marsha, yang kali ini menangis di pelukan Abraham.
“Aku cinta kamu, Bram … beberapa waktu lalu, aku mulai merasakan cintaku bersemi lagi. Aku cinta kamu. Hanya saja kita harus menjalani semua ini,” sahut Marsha dengan terisak.
__ADS_1
Beberapa saat lamanya mereka berdua saling berpelukan dengan hati yang hancur. Hati yang remuk dan benar-benar patah. Dua hati yang saling mencintai, tetapi tidak bisa bersatu karena tidak adanya restu. Setelah tenang, Abraham pun menggandeng tangan Marsha untuk keluar dari kamarnya dan akan mengantarnya pulang.
Rumah terlihat sepi, seolah tidak ada Mama Diah di sana. Marsha ingin berpamitan dengan Ibu dari Abraham itu. Akan tetapi, agaknya tidak ada orang di rumah itu.
Saat akan keluar dari rumah, rupanya Mama Diah keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Abraham dan Marsha yang saling bergandengan.
“Bram,” panggil Mama Diah kepada putranya itu.
Merasa namanya dipanggil, Abraham pun menengok dan melihat ke arah Mamanya. “Ya Ma, apa lagi Ma?” tanya Abraham dengan ketus.
“Marsha diajak makan siang dulu,” ucap Mama Diah.
“Tidak perlu Ma, Mama menolak ….” Abraham menyahut, tetapi di saat yang sama Mama Diah bersuara.
“Ajak menantu Mama makan siang dulu,” ucap Mama Diah.
Mendengar apa yang diucapkan Mama Diah, baik Marsha dan Abraham sama-sama terperanjat. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mata Marsha sudah kembali berkaca-kaca, sudah hampir saja dia menangis.
Mama Diah mendekat dan berjalan mendekat ke arah Marsha. Wanita paruh baya itu membuka kedua tangannya, dan mengisyaratkan kepada Marsha untuk memeluknya. “Sini, Marsha … maafkan Mama. Mama menerimamu sebagai menantu Mama. Dampingilah putra Mama,” ucap Mama Diah yang kali ini pun turut menangis.
Marsha mengurai tangan Abraham yang menggenggam tangannya, dan memeluk Mama Diah. “Mama ….”
Tidak ada lagi yang bisa Marsha ucapkan. Di saat dirinya memutuskan untuk melepaskan Abraham dan tidak akan membuat pria itu memilih antara dirinya atau Ibunya, justru Tuhan anugerahkan berkah yang tak terkira baginya.
__ADS_1
Usaha mereka meruntuhkan batu karang akhirnya berhasil. Abraham pun turut menitikkan air mata, pria itu turut menghambur untuk memeluk Mamanya dan juga Marsha yang tengah berpelukan. Begitu haru, sampai air mata berderai dengan sendirinya.