Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menjelang Waktunya


__ADS_3

Kehamilan yang kian bertambah setiap harinya membuat aktivitas Marsha pun terkendala. Mulai ada rasa tidak nyaman. Terlalu lama duduk di pinggang sakit, terlalu lama berbaring pun juga sakit, terasa begah, dan juga kecemasan di hati karena menunggu sinyal-sinyal gelombang cinta dari si baby yang rasanya juga tak kunjung datang.


"Gimana perut kamu Shayang?" tanya Abraham malam itu. Pria itu menggerakkan tangannya dan memberikan usapan di perut Marsha.


"Ya, kadang kenceng sih, Mas ... cuma rasanya tendangannya adik bayi lebih kenceng banget sih. Kira-kira kapan kontraksinya ya Mas? Aku nungguin loh," balas Marsha.


"Sabar Shayang ... aku juga enggak tahu harus gimana. Kalau persalinan normal ya harus peka dengan gejala persalinan yang muncul, Shayang. Kalau persalinan caesar kan kita bisa bersiap dan menentukan tanggalnya. Apa kamu pengen caesar aja gimana? Besok sudah hari ketiga," ucap Abraham.


Seakan tidak ingin istrinya terlalu lama cemas, Abraham menawarkan untuk melakukan persalinan caesar. Terlebih dengan pengakuan Marsha bahwa baby nya juga adem-ayem sekarang. Si calon Mama sudah cemas, tetapi gelombang cinta dari baby tak kunjung datang. Oleh karena itulah, Abraham menawarkan alternatif persalinan secara caesar.


"Uhm, kalau lusa belum ada tanda-tanda kayaknya Caesar aja ya Mas? Soalnya aku juga cemas banget. Seharian aku udah senam kegel dan melakukan jongkok berdiri untuk menambah pembukaan. Setidaknya aku kan berusaha dan juga menginginkan bisa segera bertemu dengan adik bayi," balas Marsha.


"Oke ... kalau lusa sekiranya tidak ada tanda-tanda persalinan, kita minta caesar aja yah. Yang penting tuh aku tidak banyak pikiran, terus si baby bisa segera lahir ke dunia," balas Abraham.


Marsha mengganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... oke," balasnya.


Melihat jam yang baru jam 20.00 malam, Marsha merasakan matanya yang begitu berat. Beberapa kali juga dia merasa menguap. Sehingga Marsha pun berpamitan untuk bisa tidur terlebih dahulu.


"Mas, aku bobok dulu boleh enggak? Tumben nih, kok aku ngantuk banget yah," balas Marsha.


"Iya, tidur saja ... aku temenin di sini. Istirahat yang cukup Shayang," balas Abraham.


Pria itu membantu Marsha untuk berbaring dan kemudian menarik selimut untuk menyelimuti istrinya itu. Tidak lupa sebuah kecupan Abraham sematkan di kening Marsha.


Chup!


"Selamat bobok Istriku ... aku cinta kamu," ucap Abraham.

__ADS_1


Itu adalah ucapan yang selalu Abraham ucapkan setiap malamnya. Memberikan kecupan dan mengatakan kata cinta kepada istrinya itu. Marsha pun yang sudah memejamkan matanya pun tersenyum, "Aku juga cinta kamu, Mas," balas Marsha dengan menggenggam tangan Abraham dan membawa tangan Abraham itu dekat ke wajahnya.


Abraham tersenyum, Marsha memang semanja itu dengannya. Bahkan ketika tidur pun, Marsha bisa menempel sepanjang malam padanya. Seolah wanita itu tidak bergerak saat tertidur karena hanya memeluknya saja sepanjang malam.


Begitu Marsha tertidur, Abraham menggerakkan kepalanya dan memberikan usapan di sisi wajah Marsha. Sungguh, Abraham sebenarnya kasihan dengan Marsha. Abraham tahu bahwa Marsha merasa cemas, hanya saja Marsha tidak mengeluh. Selain itu, Abraham juga tidak ingin istrinya berpikiran berat mengenai kapan persalinan akan tiba. Usai itu, Abraham membawa tangannya dan membelai perut Marsha.


"Adik bayi ... Papa mau bicara sama kamu. Adik bayi mau lahir kapan sih? Kalau mau lahir, berikan sinyal ke Mama yah. Kasihan Mama kamu yang sudah berusaha dan menunggu kapan waktu itu tiba. Kita berjuang bertiga yuk Sayangnya Papa ... Papa akan dampingi Mama kamu untuk menyambutmu," ucap Abraham.


Abraham berharap bahwa ucapannya akan direspons oleh si baby. Dalam hatinya, Abraham juga berharap bahwa waktunya bersalin tidak lama lagi. Sebab, jika lusa juga masih tidak ada tanda-tanda persalinan, Abraham meminta Marsha melakukan operasi caesar saja.


Rasanya, baru kurang lebih satu jam, Marsha tertidur, tetapi wanita sudah terbangun. Tangannya bergerak dan mencari di mana suaminya, rupanya dia bisa merasakan tangan Abraham yang berada tidak jauh darinya.


"Mas," panggil Marsha dengan suaranya yang lirih.


"Hmm, ya Shayang ... kok bangun? Masih jam 21.00 malam loh," jawab Abraham.


Marsha menggelengkan kepalanya, "Perut aku sakit. Kok mules gini ya Mas," keluhnya dengan sedikit mendesis. Rasanya mules yang melebihi ketika seseorang terasa sakit perut.


"Mau ke Rumah Sakit sekarang?" tanya Abraham.


"Sebentar ... aku ke kamar mandi dulu, Mas ... mau buang urine," balas Marsha.


Abraham pun turut berdiri, pria itu menggandeng tangan Marsha dan mengantarnya ke dalam kamar mandi. Bahkan Abraham menunggui di depan pintu kamar mandi.


"Mas, ambilkan satu pemba-lut dong," pinta Marsha dari dalam kamar mandi.


"Kenapa Shayang berdarah?" tanya Abraham.

__ADS_1


"Iya, ambilkan dulu ya Mas ... maaf, tolong," balasnya.


"No problem, Shayang," balas Abraham.


Pria itu segera mencari benda yang diminta istrinya itu, kemudian menyerahkannya kepada Marsha. Beberapa menit Marsha di dalam kamar mandi, wanita itu keluar dengan wajah yang tampak pucat dan keningnya mengeluarkan keringat dingin.


"Kayaknya ke Rumah Sakit sekarang deh Mas," ucap Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya, oke ... aku ganti celana panjang dulu," ucapnya.


Abraham mengganti celananya terlebih dahulu, kemudian dia menggandeng tangan Marsha untuk keluar dari kamar. Tujuannya sekarang adalah hendak membawa Marsha ke Rumah Sakit segera mungkin.


"Mama, Bram dan Marsha ke Rumah Sakit dulu yah?" pamit Abraham dengan berlalu keluar dari unitnya.


Sementara Mama Diah yang berada di dalam kamarnya, tidak begitu mendengar ucapan Abraham.


"Sakit Mas," keluh Marsha. Wanita itu sudah menunjukkan mata yang berkaca-kaca.


"Tahan dulu ya Shayang ... kita ke Rumah Sakit dulu," ucap Abraham.


Dengan kecepatan sedang Abraham memacu mobilnya, menembus jalanan Ibukota di malam itu, berharap lalu lintas tidak macet dan dia bisa segera tiba di Rumah Sakit.


"Sakit banget Mas ... sekujur tubuhku sakit," keluh Marsha lagi dengan berlinangan air mata.


Abraham menggenggam tangan Marsha, satu tangannya mengemudikan stir mobil, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Marsha di sana.


"Sabar yah ... sebentar lagi akan sampai di Rumah Sakit," balas Abraham dengan lembut.

__ADS_1


Dalam hatinya, Marsha bisa bertahan dan begitu sampai di Rumah Sakit, Marsha bisa segera ditangani dengan baik.


__ADS_2