Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Cerita Persalinan Caesar


__ADS_3

Sementara itu di Rumah Sakit ….


Mengabaikan momen persalinan baru kali ini dilakukan oleh Abraham. Kendati demikian, Abraham sudah belajar sebelumnya bagaimana bisa membuat video persalinan yang bagus. Video itulah yang akan dia persembahkan untuk Sara dan Belva. Untuk izin pengambilan gambar dan video sudah diizinkan pihak Rumah Sakit. Sehingga Abraham juga berangkat terlebih dahulu dan mulai mensetting kamera dan juga melihat kamar yang akan digunakan untuk persalinan nanti.


"Siang Bu Bos dan Pak Bos," sapa Abraham ketika bertemu dengan Sara dan Belva.


"Ya, Bram … gimana sudah siap?" tanya Belva.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Untuk kamera untuk shoot sudah saya setting di kamar operasi, Bos. Tinggal nanti beberapa foto saja. Bos tidak perlu berpose, candid lebih bagus," ucap Abraham.


Berbeda dengan fotografi untuk model dan brand, fotografi untuk persalinan biasanya dilakukan secara candid sehingga menunjukkan kejadian yang alamiah. Hasil jepretan pun akan lebih natural.


"Siap … kami nurut aja. Pasti kamu yang lebih jago di bidang ini," balas Belva lagi.


"Kalau Caesar bisa dilahirkan di minggu ke berapa Bos?" tanya Abraham kepada Belva.


"Ni Ibu Negara di usia 39 minggu. Ini juga Caesar yang kedua kali. Dulu waktu melahirkan Evan itu normal, terus waktu melahirkan Elkan itu Caesar, dan sekarang Caesar lagi. Walau sebenarnya Ibu Negara mau normal, tapi aku bilang senyamannya saja, penting Ibu dan bayinya selamat. Dulu memangnya Mira lahirnya normal atau Caesar?" tanya Pak Belva kemudian.


"Normal dan pembukaan dari 2 ke pembukaan selanjutnya seminggu. Kasihan Marsha, saya yang lihat sendiri sampai bener-bener gak tega," balas Abraham.


Pak Belva pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Normal memang seseram itu. Aku pun kalau kebayang Ibu Negara melahirkan Evan, benar-benar ngilu. Serem banget," balasnya.


"Nanti kalau udah pulih, ajak Marsha dan calon mantu ke rumah yah," ucap Belva lagi.


"Oke, siap Besan … sekaligus nengokin baby girl nanti," balas Abraham.


Belva pun turut tertawa di sana, “Bener yah … aku masih muda dan sudah memiliki calon menantu. Oh, iya … babynya ini nanti kan cewek, ajakin main ya Bram sama Mira. Secara kakaknya dua cowok semua,” balas Pak Belva.


“Siap Bos … aman,” balasnya.


Setelah itu, Belva kembali fokus pada Sara, dan Abraham bersiap dengan tugas. Kini Abraham bisa melihat lebih dekat bahwa keharmonisan yang ditunjukkan Sara dan Belva adalah real. Dia melihat bagaimana Belva menenangkan Sara, bagaimana Belva mendorong sendiri kursi roda Sara. Ketika tindakan medis dilakukan, tangan Belva selalu menggenggam Sara. Sang Mr. CEO yang pada kenyataannya hanya pria biasa, tetapi adalah suami yang sangat luar biasa untuk istrinya. Bukan hanya dengan mata kepalanya sendiri, tetapi jepretan dan sorot lensa kamera bisa mengabadikan momen itu.

__ADS_1


“Aku takut Mas,” ucap Sara dengan berlinang air mata.


“Ada aku, Sayang … i’ll always beside you,” balas Belva dengan terus menggenggam tangan istrinya.


Abraham yang turut merekam momen demi momen itu merasa bersyukur dan senang bahwa keharmonisan dalam keluarga itu masih ada. Pun ketika Dokter Indri berhasil membantu persalinan dengan mengangkat tubuh bayi perempuan dengan kulitnya yang bersih dengan masih ada darah di hidung dan bibirnya, dan juga tubuhnya yang bermandikan air ketuban. Suara tangisan si baby yang membuat Abraham turut meneteskan air mata.


Sungguh, ini adalah momen yang indah untuk Abraham. Pun, dia akan bersiap beberapa bulan lagi untuk menemani proses persalinan Marsha. Begitu semuanya sudah selesai, dan Belva juga sudah bertemu dengan bayi kecilnya. Abraham pun berpamitan saja dengan Belva.


“Bos, semuanya sudah selesai … saya pamit dulu yah. Segera saya edit dan buatkan yang terbaik untuk Pak Bos dan Bu Bos,” pamit Abraham.


“Oke Bram … thanks yah. Gak usah buru-buru. Salam buat anak mantu di rumah yah,” balas Belva.


Setelahnya, Abraham pun pulang dan dia ingin menceritakan pengalaman pertamanya untuk melakukan projek persalinan bayi ini. Setidaknya, dia sudah memiliki gambaran bagaimana persalinan secara caesar itu, sehingga jika nanti Marsha ingin melakukan persalinan Caesar, setidaknya Abraham sendiri tidak begitu tegang.


“Mama Shayang … Mira, Papa sudah pulang,” sapa Abraham begitu dia sudah sampai di rumah.


Mira pun berlari menuju ke arah pintu masuk dan kemudian tersenyum melihat Papanya. “Yeay! Papa pulang … Papa dari bekerja yah? Mandi dulu ya Pa,” balas Mira.


“Mama ada di kamar, Pa … memang Mira bilang supaya Mama di kamar saja kok,” balasnya.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, dia menutup pintu dan menguncinya, setelahnya dia menaiki anak tangga menuju ke lantai dua, ke kamarnya dengan Mira yang sudah berjalan mendahuluinya.


“Mama,” sapa Abraham begitu memasuki kamarnya dan melihat Marsha di sana.


“Sudah pulang Pa? Lancar tadi jobnya?” tanyanya.


“Lancar … ya sudah, aku mandi dulu yah … dari Rumah Sakit, takut bawa kuman dan penyakit,” balasnya.


Ketika Papanya sedang mandi, Mira pun mengajak Mamanya, untuk bisa memanaskan Spaghetti yang sore tadi mereka buat bersama. Oleh karena itu, Marsha dan Mira sama-sama menuju dapur dan memanaskan Spaghetti untuk Papa Abraham. Begitu Papa Abraham selesai mandi, pria itu tahu kemana tempat yang harus dia tuju, yaitu dapur karena di dalam kamar tidak ada istri dan anaknya.


“Kalian baru ngapain?” tanyanya.

__ADS_1


“Spaghetti untuk Papa … bon appétit!”


Mira dengan begitu semangatnya mengucapkan Selamat Makan dalam bahasa Prancis. Abraham pun tersenyum dan menatap sepiring Spaghetti yang terlihat begitu menggugah selera itu.


“Terima kasih … yang memasak ini siapa sih?” tanya Abraham.


“Mama dan Mira dong Pa … selamat makan, Papa … Mira nonton kartun dulu yah,” ucapnya dengan berlari menuju ruang keluarga untuk menonton kartun.


Sementara Marsha masih duduk di meja makan dan menemani suaminya itu. Tidak lupa Marsha juga mengambilkan segelas air putih untuk suaminya.


“Dimakan Mas … tadi aku berkreasi dengan Mira, dia mau Spaghetti,” ceritanya.


“Akhir pekan yang produktif ya Shayang … maaf yah, aku ada kerjaan di akhir pekan. Jadi tidak bisa quality time dengan Mira,” ucap Abraham.


“Tidak apa-apa, Mas … enggak setiap akhir pekan juga kan mengambil kerjaan,” balasnya.


Abraham tampak menganggukkan kepalanya sembari menikmati Spaghetti Bolognese yang dibuatkan oleh Marsha dan Mira. “Terharu aku tadi melihat Bu Sara melahirkan, caesar kan … kalau kamu dulu kan normal. Duh, serem … mau normal atau caesar menurutku sama-sama seremnya,” ucap Abraham.


“Kodrat seorang wanita memang harus melahirkan, Mas … walau serem, sakit, dan ngilu, babynya kan tetap harus dilahirkan,” balasnya.


“Iya Shayang … ini projekku pertama kali untuk dokumentasi persalinan. Aku ikut terharu tadi, dan Besan kita benar-benar keren. Pak Belva memang suami yang enggak kaleng-kaleng, terlihat cinta dan perhatian banget sama Bu Sara. Dia aja manggilnya Ibu Negara, luar biasa banget,” ceritanya kepada Marsha.


Marsha kemudian tersenyum dan menatap suaminya, “Bagiku … kamu juga bukan suami kaleng-kaleng kok Mas … kamu yang terhebat dan terbaik untukku. Pak Belva memang yang terbaik untuk Bu Sara … tetapi, kamu yang terbaik untuk Marsha … untukku,” balas Marsha.


Mendengar perkataan dari istrinya, Abraham menghentikan sejenak makannya, dan kemudian menatap Marsha di sana. “Sweet banget My Wifey  … malam ini, kangen-kangenan yuk Shayang,” ajaknya dengan menaruh tangannya di atas tangan Marsha dan mengusapnya perlahan.


“Modus pasti,” balasnya.


“Bukan modus … kangen sama kamu,” balas Abraham.


Marsha hanya bisa mengulum senyuman, memperhatikan Abraham yang kembali fokus dengan makanannya. Di dalam hatinya, Marsha pun juga sebenarnya kangen dengan Abraham, tetapi dia kali ini merasa gengsi untuk mengakui bahwa dia juga rindu dengan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2