
Selang tiga hari berlalu pasca liburan bersama di Villa, kali ini Bu Sara dan Pak Belva bersiap untuk datang ke rumah Marsha dan Abraham. Untuk itu, sebagai tuan rumah, Marsha dan Abraham pun menyiapkan jamuan untuk tamunya yang juga sekaligus adalah tetangganya. Walau Marsha sedang mengandung, tetapi dia tetap berusaha untuk memasak dan juga bisa menyambut tetangganya itu dengan baik.
“Padahal sudah dikunjungi mereka, tapi kok juga rasanya deg-degan ya Mas … apa karena kali ini mereka bukan hanya sekadar bermain saja,” ucap Marsha kepada suaminya itu.
“Santai saja, Shayang … kan juga Bu Sara dan Pak Belva juga santai. Jadi, kita juga lebih santai saja,” balas Abraham.
Hingga akhirnya kurang lebih jam 19.00 malam, ada sebuah mobil Mercedes-Benz yang berhenti di depan rumah Marsha dan Abraham. Mereka sudah hafal bahwa mobil mewah dengan kesan luxury itu adalah milik tetangganya yang seorang Crazy Rich, siapa lagi jika bukan keluarga Agastya yang datang.
"Permisi," sapa Mama Sara dan Papa Belva dengan senyuman lebar di wajahnya.
Pasangan itu kompak mengenakan batik senada, dan juga ada Elkan yang turut serta. Sementara Marsha dan Abraham tentu menyambut mereka dan mempersilakan tetangganya itu untuk masuk.
"Mari, silakan ... kok Kak Evannya tidak ikutan?" tanya Marsha kepada mereka.
"Kak Evan ada ujian besok Tante ... makanya tidak ikutan," balas Elkan.
"Oh, makanya ... biasanya kan Kak Evan juga selalu ikut. Sekarang, silakan duduk dulu," ucap Marsha.
"Sha, gak usah repot-repot loh ... kayak sama siapa saja," ucap Bu Sara yang melihat di meja sudah tersaji makanan dan juga ada Tanghulu. Ya, Tanghulu adalah buah yang dicelupkan ke dalam gula manis cair. Makanan khas China ini sengaja direquest oleh Mira karena Mira berkata bahwa Elkan menyukai Tanghulu.
"Tanghulu ya Tante?" tanya Elkan dengan senyam-senyum wajahnya.
"Iya, katanya Mira, Kakak El suka Tanghulu yah?" tanya Marsha.
__ADS_1
"Iya ... suka. Kan Elkan pertama makan Tanghulu karena dikasih Mira dulu itu Tante," balasnya.
Hingga akhirnya Mira turun dari kamarnya. Sengaja, Mira hanya mengenakan dress rumahan saja, karena memang Marsha dan Abraham sudah mengatakan bahwa pertemuan ini tidak akan mempengaruhi Mira. Mereka akan membiarkan anak-anak tumbuh dengan alamiah. Kesepakatan ini hanya antara kedua orang tua saja, dan memang mengikat, tetapi di kemudian hari jika memang keduanya menemukan cinta masing-masing maka kesepakatan ini bisa diubah dan dibatalkan.
"Kak El," sapa Mira yang tentunya senang melihat Elkan di sana.
"Halo Mira ... baru ngapain?" tanya Elkan.
"Lihat televisi, Kak ... terus nyusulin Mama dan Papa deh," balasnya.
Marsha pun tersenyum, "Itu orang tuanya Kak El tidak disapa?"
Mira pun segera memberikan salim berupa jabat tangan dan mencium punggung tangan Mama Sara dan Papa Belva di sana. "Mama Sara dan Papa Belva," sapanya dengan begitu manis.
Abraham pun tersenyum kemudian dia mempersilakan tamunya untuk makan. "Yuk, silakan dimakan ... santai saja. Ini bukan acara formal kan? Jadi, santai saja," ucap Abraham.
"Ya, Bos ... saya mengerti," balas Abraham.
Sebelum makan, Bu Sara mendekat ke Marsha dan memberikan sebuah kotak beludru berwarna merah kepada Marsha dengan disaksikan Abraham dan Belva.
"Marsha dan Abraham ... ini dariku dan Mas Belva, hanya sebagai tanda bahwa kalian akan menjaga Mira dengan baik-baik dan nanti ketika dia dewasa, kita bisa membicarakan hal yang lebih serius untuk kedua anak-anak kita. Calon menantuku yang cantik ... dijaga dengan baik-baik. Semoga beberapa puluh tahun lagi mereka berdua berjodoh," ucap Bu Sara.
Menerima kotak merah beludur itu membuat Marsha juga bingung. Ya, dia pikir hanya kesepakatan verbal saja antara kedua orang tua. Rupanya justru ada tanda pengikat yang diberikan keluarga Agastya untuk Mira. Itu berarti bisa saja kesepakatan ini sangat serius.
__ADS_1
"Bu Sara," ucap Marsha dengan menghela nafas.
"Iya, kan tanda pengikat saja ... kita sebagai orang tua di kemudian hari harus berusaha mempersatukan mereka ya. Aku akan menunggu persahabatan kita berubah menjadi kekeluargaan, Sha," ucap Bu Sara lagi.
Tidak sampai di situ, Bu Sara juga mempersilakan Marsha untuk membuka kotak itu. "Bisa kalian lihat, tidak muluk-muluk kok," ucapnya.
Abraham menganggukkan kepalanya dan menyuruh Marsha untuk membuka kotak merah itu, perlahan-lahan Marsha membukanya dan ternyata yang ada di sana adalah sebuah cincin kecil yang mungkin seukuran jari Mira, dan sebuah kalung dengan liontin dengan huruf E.
"Huruf E, untuk Elkan," ucap Bu Sara dengan tersenyum.
"Semoga nanti Mira akan ingat bahwa Liontin yang saat dia kenakan akan dekat di hatinya itu akan bisa membuatnya dekat dengan Elkan. Anakku akan dekat di hati anakmu," ucap Bu Sara.
"Terima kasih Bu Sara," ucap Marsha dan Abraham bersamaan.
"Sama-sama ... aku dan Papanya anak-anak sengaja memilih hari ini karena aku sudah bersiap untuk persalinan Marsha, lebih baik niat yang sangat baik ini didahulukan terlebih dahulu," ucap Bu Sara lagi.
Setelahnya kedua belah pihak keluarga saling berjabat tangan tanda bahwa sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Kemudian Bu Sara pun memeluk Marsha.
"Dijaga baik-baik Miranya ya Sha ... aku sangat berharap Mira akan menjadi menantu masa depanku untuk El," ucap Bu Sara.
"Iya Bu ... pasti," balas Marsha.
Pun Pak Belva dan Papa Abraham yang saling memeluk, "Dijaga ya Bram ... dan aku akan menjaga Elkan. Semoga keduanya bisa bersatu saat mereka besar nanti," ucap Papa Belva.
__ADS_1
"Terima kasih Bos ... kami justru tidak enak. Padahal tidak perlu ada pengikat," balas Abraham.
Belva dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Harus ada ... bagaimana pun ini adalah lamaran, nanti kami akan datang dan melamar Mira lagi dengan lebih layak saat mereka sudah sama-sama dewasa," ucap Belva.