Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Rekonsiliasi Suami dan Istri


__ADS_3

Abraham sebenarnya merasa sangat terganggu ketika pulang ke rumah dan tidak ada Marsha serta Mira di rumah. Rumahnya dengan tipe dua lantai itu terasa begitu sepi, tetapi waktu dua malam di rumah bisa dimanfaatkan Abraham untuk menyelami pikirannya sendiri dan juga kesalahannya. Sepenuhnya, Abraham sadar, mungkin yang dia lakukan juga sudah keterlaluan. Dia terlalu banyak beralasan, ketika Marsha meenginginkan Roti Gambang dan Dodol Betawi, sebenarnya kala itu Abraham bisa langsung berangkat, tetapi justru dia menunda-nunda. Mood dan emosi Marsha yang sedang naik turun pun menjadi semakin kacau ketika terjadi kram di perutnya.


Untung hanya sekadar kram dan tidak terjadi flek di sana. Abraham bisa berpikir dengan jernih dan menyadari kesalahannya beberapa waktu terakhir.


"Aku tahu ... aku yang salah, Shayang. Aku yang menjadi abai. Maafkan aku. Maafkan aku yang sampai membuatmu pulang ke Semarang dalam kondisi berbadan dua. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau. Asalkan kamu tidak akan lagi pergi dari sisiku," gumam Abraham seorang diri.


Dengan terus berkomunikasi dengan Mama Diah, dan juga terus melihat foto-foto yang dikirimkan oleh Mama Diah. Hati Abraham menjadi begitu pedih, dan juga merasa begitu rindu rasanya. Tidak ingin menunda terlalu lama, Abraham pun segera mencari tiket kereta api untuk pulang ke Semarang. Pulang dengan berbekal rindu.


Hingga akhirnya, pria itu pulang ke Semarang dan segera menemui istrinya dan Mira tentunya.


"Aku juga kangen kamu, Shayang ...."


Tangisan Marsha pecah mana kala dia melihat kedatangan Abraham. Tadi, dia berpikir bahwa hanya dirinya saja yang merindukan suaminya. Namun, sosok yang dia rindukan sekarang sudah ada di depan mata. Air matanya terus berlinang ketika Abraham nenaruh ranselnya dan segera memeluk Marsha.


"Sangat kangen kamu, Shayang ... kangen kamu," ucap Abraham dengan menghela nafas.


Mama Diah pun tersenyum, "Rindu kamu terbalas, Sha ... kamu tidak memeluk rindu sendirian. Akan tetapi, suamimu juga sangat merindukan kamu. Bram, mandi dulu ... istrimu hamil dan Mira juga masih kecil. Bersih-bersih dulu sana," ucap Mama Diah.


Abraham kemudian mengecup kening Marsha di sana, "Aku mandi dulu yah ... jangan nangis lagi," ucap Abraham.


Marsha menganggukkan kepalanya perlahan. Dia menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh dan mandi terlebih dahulu. Mira pun mendekat ke Mamanya.


"Papa kangen kita ya Ma?" tanyanya.

__ADS_1


Marsha pun lantas menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, Papa kangen kita, dan kangen Mira tentunya," balas Marsha.


"Mira juga kangen Papa," balas Mira.


Hanya kurang lebih lima belas menit berlalu, dan Abraham pun keluar dari kamar mandi. Pria itu segera mendatangi Marsha yang masih berada ruang tamu.


Melihat Abraham yang sudah datang Mama Diah pun tersenyum, "Makanya jangan nakal sama istri yang baru hamil ... setelah ditinggal pulang ke Semarang baru tahu rasa kan," ucap Mama Diah.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ma ... maafkan Abraham," balasnya.


"Shayang, maafkan aku yah ... iya, aku akui, aku yang tidak peka dan mencari-cari alasan. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Ini janjiku," ucap Abraham.


"Aku gak mau janji ... aku maunya bukti," balas Marsha.


Marsha pun menatap suaminya itu, "Yang bikin aku ngambek siapa?" tanyanya.


Abraham pun tertawa kecil di sana, "Aku ... maaf yah," balas Abraham.


Iya, Abraham sangat tahu bahwa dirinya menjadi sumber ngambeknya istrinya itu. Abraham juga sangat tahu bahwa dirinya yang sudah membuat Marsha menangis.


"Gak lagi-lagi bikin kamu menangis," balas Abraham.


Kemudian Marsha menatap suaminya itu, "Mama saksinya yah ... kalau Mas kayak gitu itu, aku laporin kepada Mama,"sahut Marsha.

__ADS_1


Mama Diah pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, Mama saksinya ... kalau Bram kayak gitu lagi, biar Mama khitanin lagi, biar tahu rasa," balasnya.


Marsha tertawa mendengar jawaban dari Mamanya, sementara Abraham menatap horor kepada Mamanya itu.


"Kejem banget sih Ma," balas Abraham.


Mama Diah lantas menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, biar kamu lebih menghargai istri kamu, Bram ... yang dikatakan Marsha benar, yang minta anak kamu, setelah Marsha hamil, kamu justru abai kayak gini. Tidak boleh seperti itu, Bram," tegas Mama Diah.


"Anaknya Mama itu Marsha atau Bram sih Ma?" tanya Abraham.


Mama Diah lantas tertawa, "Ya, kalian berdua anaknya Mama lah."


Abraham lantas menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu, "Shayang, aku kangen kamu," balasnya dengan memejamkan matanya perlahan.


"Kangen tapi nyebelin," balas Marsha.


"Tapi kangen juga kan?"


Marsha melirik suaminya itu, "Jangan nyebelin kayak gitu Mas ... hamil kan juga tidak setiap hari. Hanya sembilan bulan saja, bersabar dulu," balas Marsha.


"Iya Shayang ... aku akan sabar. Sekali lagi maafkan aku yah," jawab Abraham.


Kini, keduanya saling melakukan rekonsiliasi. Saling meminta maaf, dan juga Marsha pun tentu sangat senang bisa bertemu dengan suaminya lagi. Bukan hanya dirinya yang memeluk rindu sendirian, tetapi rindunya bersambut ketika menyadari kedatangan suaminya ke Semarang.

__ADS_1


__ADS_2