Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Alibi Andalan


__ADS_3

Menjelang siang barulah terdengar sebuah mobil yang memasuki kediaman Marsha. Dari kamarnya, Marsha mengintip dari jendela kamarnya rupanya itu adalah mobil Alphard berwarna putih yang merupakan mobil dari Melvin. 


Marsha yang berdiri di balik jendela kaca itu tampak mengernyitkan keningnya. Sebab, tak biasanya Melvin pulang ke rumah di siang hari seperti ini. Biasanya Melvin pulang jam 02.00 dini hari. Sehingga hari ini cukup mengejutkan saat Melvin pulang menjelang waktu makan siang seperti ini. 


Hanya berselang beberapa menit, terdengar pintu kamar Marsha dibuka dari luar. Rupanya Melvin lah yang membuka pintu itu. Pria itu bersikap begitu biasa, kemudian berjalan ke arah Marsha dan memeluk istrinya itu. 


"Kemarin kamu sampai di rumah jam berapa? Sorry, aku baru selesai syuting," ucap Melvin kali ini. 


Mendengarkan ucapan Melvin dan tubuh Melvin yang masih memeluknya, Marsha hanya diam. Wanita itu seolah tak bergeming sama sekali. Terlebih di saat perasaannya tengah kacau seperti ini, hanya bisa Marsha lakukan hanyalah diam. Benar dia merindukan Melvin, tetapi saat mendengarkan bahwa Melvin baru bisa pulang karena baru selesai syuting, bagi Marsha ucapan itu layaknya alibi andalan dari Melvin. 


"Kok diem aja sih Ayang? Kamu marah yah?" tanya Melvin kemudian. 


Marsha menggelengkan kepalanya dengan samar, kemudian mendorong dada Melvin yang berakibat pada terurainya pelukan Melvin. Pria itu mengambil satu langkah mundur ke belakang kemudian menatap wajah Marsha. 


"Kenapa? Aku baru saja pulang dan kamu ngambek seperti ini?" tanya Melvin lagi. 


Seakan Melvin ingin menegaskan bahwa di saat dirinya pulang, yang terlihat justru sikap enggan yang ditunjukkan Marsha. Oleh karena itulah, Melvin merasa bahwa Marsha tengah mengambek saat ini. 


Perlahan Marsha membawa tatapan matanya untuk memandang wajah Melvin yang berada di hadapannya. 


"Kamu beneran syuting kan? Enggak main api dengan wanita lain kan?" tanya Marsha kali ini. 


"Iyalah Ayang … aku syuting. Kamu enggak percaya? Atau kamu ikutan aku syuting," respons Melvin kali ini. 


"Lalu, kenapa kamu tiga hingga empat hari ini enggak pulang?" tanya Marsha dengan pandangan menyelidiki. 


Entah, rasanya hatinya begitu gamang dan tidak serta merta mendengar jawaban dari suaminya itu. Bagi Marsha, kenapa syuting seolah-olah menjadi alibi andalan bagi Melvin. 


Melvin membawa kedua tangannya memegangi kedua bahu Marsha, "Aku kan sudah bilang sama kamu sebelumnya kalau aku pulang ke apartemen Rido. Terlalu jauh sama ke sini, sementara di apartemen aku bisa lebih santai berangkat ke lokasi," balas Melvin. 

__ADS_1


"Lalu, sepupu kamu itu?" tanya Marsha. 


Terdengar dengkusan dari Melvin, kemudian pria itu mencapit dagu Marsha dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya membawa pandangan dan wajah Marsha untuk menatap kepadanya. 


"Dia sudah kembali ke Bogor, Yang. Curigaan banget sih. Lain kali aku kenalin sama Lista," ucap Melvin kemudian. 


Melvin tersenyum menatap wajah Marsha hang masih belum yakin di sana, kemudian Melvin mengikis jarak wajahnya. Memberi pagutan di bibir Marsha, menyesap lipatan bawah bibir Marsha yang lembut dan kenyal itu dengan bibirnya sendiri. Pergerakan bibir yang lembut dan berusaha bahwa ciumannya bisa meredakan sikap cemburu yang ditunjukkan Marsha sekarang ini. 


Beberapa saat berlalu dan Melvin masih mencumbu bibir Marsha. Menghisapnya, melu-matnya, tetapi seolah Marsha enggan membalas ciuman Melvin. Masih ada rasa tidak percaya yang singgah di hatinya. Rasa yang menggerogoti hatinya bahwa Melvin tak sepenuhnya jujur kepadanya. 


Hingga akhirnya Melvin menarik wajahnya, dan mendaratkan beberapa kali kecupan di bibir Marsha. 


"Sudah, jangan ngambek. Aku gak macem-macem di luar sana. Aku serius pulang ke apartemen Rido biar mobilitas aku lebih cepet. Sekarang, karena kamu udah di rumah. Jadi, aku akan pulang ke rumah. Jangan marah lagi ya Ayang," ucap Melvin saat ini. 


"Kamu bisa kupercaya?" tanya Marsha pada akhirnya. 


"Masih ragu padaku?" tanya Melvin kemudian. 


Entahlah, ini perasaan yang sukar didefinisikan bagi Marsha. Keraguan, ketidakpercayaan, bahkan rasa bersalah semuanya campur menjadi satu. Menyebabkan kebingungan dan ketidaknyamanan bagi Marsha. 


"Trust me, Ayang! Aku enggak bakalan bohong sama kamu," balas Melvin. 


Kali ini Melvin terlihat tidak menggebu-gebu emosinya. Biasanya setiap kali Marsha mengambek, Melvin dengan mudahnya terpancing emosinya. Akan tetapi, kali ini terlihat bahwa Melvin bisa mengendalikan dirinya. Bahkan Melvin berusaha menenangkan Marsha. 


Di saat perasaan Marsha berkecamuk, Melvin justru bersikap manis dan tidak naik darah. Apakah keanehan ini benar-benar menunjukkan Melvin yang ingin meyakinkan Marsha? Atau hanya sebatas sikap manis untuk menyembunyikan sesuatu dari hadapan Marsha? 


...🍃🍃🍃...


Dear My Bestie,

__ADS_1


Supaya menghalunya lebih indah, author berikan nih visual para tokoh di novel ini. 🤭


Ingat ini hanya visual yah...


Dukung selalu yuk, ditunggu like, komentar, dan votenya.


1. Melvin Andrian - Aktor



2. Marsha Valentina - Model



3. Abraham Narawangsa - Fotographer



4. Lista



Sekian yah visualnya semoga cocok dengan para tokoh di novel ini. Ikuti terus yah, banyak yang seru di Novel ini.


"Yang terlarang, lebih menantang" 😅


Love U All,


Kirana🧡

__ADS_1


__ADS_2