
Marsha kini sudah menempati unit apartemen yang akan dia sewa untuk tiga bulan. Abraham sendiri yang menguruskan semua untuk Marsha, sehingga Marsha tinggal menempatinya saja. Kali ini, Marsha juga tinggal dan hanya membawa sebuah koper besar miliknya. Tidak ada hal lain yang Marsha bawa, selain beberapa potong pakaian dari kopernya itu.
Kini wanita itu berdiri di depan jendela kaca besar di apartemen yang baru saja dia tempati. Melihat ke jalanan Ibukota yang meriap, dan juga gedung-gedung pencakar langit yang berdiri dengan megah di langit Ibukota. Marsha menghela nafas sepenuh dada dan kemudian membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada.
Jika dulu aku menangis saat pernikahan Mama dan Papaku berakhir. Kini, aku menangis lagi karena nyatanya pernikahanku juga berakhir. Pernikahan yang hanya berjalan dua tahun. Andai saja, Melvin tidak melakukan kekerasan kepadaku, aku masih bisa bertahan. Akan tetapi, luka yang dia goreskan sangat melukaiku. Meninggalkan trauma di hatiku.
Di dunia yang begitu besar dan luas ini, lagi-lagi aku harus sendiri. Setelah Mama dan Papa berpisah, aku menjadi anak yang ditinggalkan dan tidak banyak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuaku. Waktu itu, aku memiliki Abraham, tetapi aku yang sudah meninggalkannya. Selang beberapa waktu kemudian, aku bertemu Melvin dan kami saling mencintai. Akan tetapi, sekarang hubunganku dengannya juga akan berakhir. Sekali lagi, aku harus sendirian di dunia ini.
Marsha berbicara pada dirinya sendiri. Rasanya begitu sesak saat harus menerima fakta bahwa dalam beberapa momen di hidupnya, Marsha justru harus menjalaninya seorang diri. Tanpa ada sosok yang benar-benar peduli dan mengasihinya. Sekarang, mungkin saja ada Abraham yang begitu peduli padanya, tetapi hubungan keduanya hanya hubungan terlarang saja.
Entah sudah berapa lama Marsha berdiri dan menatap kosong pada pemandangan yang ada di depannya. Tidak terasa langit yang semula masih biru dengan gumpalan awan putih di atas sana, berubah menjadi gelap. Marsha akhirnya beranjak dari tempat itu, dan berniat menuju dapur, mencari minuman mungkin yang bisa dia minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Namun, tidak ada apa-apa di dapur itu. Lemari es yang kosong, sama sekali tidak ada makanannya. Padahal sekarang, perut Marsha rasanya juga berbunyi. Menandakan bahwa perutnya harus segera diisi.
Pilihan terakhir, Marsha berniat membeli makanan pesan antar. Wanita itu men-scroll layar handphonenya dan melihat-lihat makanan yang ingin dia makan untuk bisa mengisi perutnya malam ini. Akan tetapi, saat Marsha ingin memesan rupanya bel di pintu unitnya berbunyi. Melalui interkom yang terpasang di sana, Marsha pun melihat siapa yang datang malam-malam begini.
“Abraham, Sha,” ucap Abraham saat Marsha melihat di interkom itu.
Marsha pun segera membukakan pintu bagi Abraham. Cukup kaget karena Abraham datang ke unitnya malam itu.
__ADS_1
“Ada apa, Bram?” tanyanya.
Abraham menentang kantong plastik berwarna putih dan sedikit mengangkatnya, “Makan malam dulu, Sha … aku tahu pasti kamu belum makan malam,” ucap Abraham dengan tersenyum kepada Marsha.
“Bram, tapi …”
“Sudah … ayo, makan dulu. Aku temani makan, usai ini aku akan pulang,” balas Abraham.
Marsha menatap Abraham dengan rasa bersalah di dalam hatinya. Benar Abraham memberinya izin untuk memanfaatkan pria itu. Akan tetapi, memanfaatkan orang lain adalah tindakan yang tidak benar bukan?
Abraham terlihat membuka kotak makanan yang berisikan Nasi dan Ayam Geprek itu. Aroma Ayam dan sambal menguar begitu saja. Membuat Marsha kian ingin menikmati makanan itu. Namun, Marsha masih enggan memakannya karena merasa tidak enak hati kepada Abraham.
Abraham pun refleks dan menatap Marsha yang duduk tidak jauh dari sampingnya itu.
“Maaf Bram … aku mengakui aku salah karena memanfaatkanmu. Ke depannya, lebih baik kita berteman saja, Bram … tidak perlu saling memanfaatkan untuk kepentingan satu sama lain. Kamu berhak bahagia, Bram.”
Marsha berkata dengan perasaan yang getir. Di hadapannya, ada mantan kekasihnya yang terlihat begitu peduli kepadanya. Hanya saja, Marsha sepenuhnya sadar bahwa dia lakukan ini adalah salah. Tidak elok terus-menerus memanfaatkan Abraham.
__ADS_1
“Bagaimana jika kebahagiaanku hanya bersamamu, Sha?” tanya Abraham.
Marsha menundukkan kepalanya. Tidak menyangka dengan jawaban yang Abraham berikan saat ini. Benarkah bahwa Abraham bahagia hanya jika bersamanya?
“Bram, beberapa tahun yang lalu aku meninggalkanmu … aku pergi dan menghancurkan kamu begitu saja. Kini, justru kamu yang menjadi penolongku. Maaf Bram, untuk semua luka yang sudah kuberikan di masa lalu,” ucap Marsha.
“Biarkan masa lalu tetap di tempatnya, Sha … lupakanlah semua itu. Sekarang, fokuslah pada kebahagiaanmu sendiri dan segera selesaikan masalah rumah tanggamu, Sha,” ucap Abraham kali ini.
Sungguh Abraham memang menginginkan biarkanlah semua masa lalu, kisah manis dan pahitnya bersama Marsha jauh sebelum Marsha menikah dengan Melvin. Yang Abraham sekarang ini adalah Marsha bisa segera menyelesaikan masalah rumah tangganya supaya tidak berlarut-larut.
“Setelah ini, kita tidak usah bertemu ya, Bram,” ucap Marsha dengan berat hati sebenarnya.
Abraham memejamkan matanya sesaat, dan kemudian menatap Marsha dengan sorot matanya yang tajam kali ini, “Baiklah Marsha, jika itu untuk kebahagiaanmu. Aku akan melakukannya,” balas Abraham. “Beri aku alasan terlebih dahulu kenapa kita tidak harus bertemu?” tanya Abraham kepada Marsha.
“Perselingkuhan itu seperti angin, Bram … tidak terlihat, tidak kelihatan, tetapi meninggalkan jejak. Sama seperti kebersamaan kita berdua, kita menyangka tidak akan ada yang melihat kita, tetapi nyatanya jejaknya bisa dilihat oleh Mamanya Melvin. Biarkan aku yang menyapu bersih jejak-jejak yang ditinggalkan oleh angin tersebut,” ungkap Marsha saat ini.
Ada satu hal yang Marsha sadari, ada pengakuan yang meluncur dari bibir Marsha bahwa dirinya mengakui berselingkuh dengan Abraham, bermain hati lagi dengan mantan kekasihnya itu. Mengira tidak akan ada orang yang mengetahuinya, tetapi jejaknya nyatanya bisa diketahui oleh Mama Sasmita sehingga akhirnya banyak orang yang mengetahui perselingkuhan Marsha dengan Abraham. Marsha menyadari tindakannya juga salah. Di saat rumah tangganya hambar, justru dirinya yang tersulut dan bermain hati dengan Abraham. Walau Abraham tidak keberatan, ada penyesalan karena semuanya menjadi kian runyam.
__ADS_1
“Yang kita lakukan juga salah, Bram … aku, aku yang bersalah. Jadi, mari kita hentikan bersama-sama sebelumnya semuanya menjadi semakin runyam,” ucap Marsha lagi.
Mungkin ini adalah caranya untuk melindungi Abraham. Marsha tidak ingin publik turut memberikan penghakiman dan komentar kebencian kepada Abraham. Cukup dirinya saja yang menjadi bulan-bulanan publik. Namun, Marsha tidak akan menyeret Abraham dalam masalah rumah tangganya dan Melvin yang begitu pelik ini. Jika ada korban dalam perkara ini, biarkanlah Marsha saja yang berkorban. Itu akan jauh lebih baik, daripada Abraham turut terseret dalam perkara ini.