Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Curhat dengan Mertua


__ADS_3

Kehamilan yang terus bertambah bulan, bahkan sudah mendekati persalinan membuat Marsha harus bersiap. Sebab, sebagaimana yang disampaikan oleh Dokter Indri pada pemeriksaan terakhir, bahwa persalinan bisa datang kapan saja. Pun demikian dengan kontraksi yang bisa datang kapan saja. Seakan tak ingin panik saat kontraksi itu datang, hari ini Marsha memilih untuk menyiapkan berbagai barang yang akan dia bawa ke Rumah Sakit nanti.


Biasanya, para wanita yang sudah mendapatkan gelombang cinta dari si baby, pikirannya akan terpusat pada rasa sakit yang dialami. Mumpung Marsha masih sehat, sehingga hari ini Marsha memilih untuk menyiapkan koper yang berisi perlengkapan baby, perlengkapan Abraham, dan juga perlengkapannya sendiri.


"Baju bayi, diapers, peralatan mandi si baby, handuk, kain bedong, sarung tangan dan sarung kaki, penutup kepala, .... apa lagi yah?"


Marsha bergumam sendiri sembari mengingat-ingat lagi perlengkapan untuk bayi apa saja yang harus dia bawa. Saking asyiknya berkemas, sampai Marsha tidak mengetahui apa Mama Diah yang sudah berdiri di belakangnya.


"Baru ngapain Sha?" tanya Mama Diah.


"Ini Ma ... persiapan untuk bersalin nanti. Sudah 38 minggu Ma, takutnya nanti kontraksi bisa datang kapan saja. Terus takutnya belum persiapan, udah panik dan kesakitan duluan," balasnya.


Mama Diah pun menganggukkan kepalanya, "Sini ... Mama bantuin. Enggak terasa yah, sudah tiba waktunya bersalin," ucap Mama Diah.


"Benar Ma ... rasanya seperti baru kemarin Marsha mendapatkan diri Marsha positif, dan sekarang sudah mau launching si baby saja," balas Marsha dengan terkekeh geli.


"Dulu, waktu ketahuan hamil kamu masih di Semarang ya Sha?" tanya Mama Diah lagi.


"Iya Ma ... setelah Marsha memutuskan pergi dari Mas Abraham. Baru seminggu di Semarang, Marsha sakit dan mual-mual, akhirnya test dengan testpack, ternyata Marsha positif, dua garis merah," ceritanya lagi kepada Mama mertuanya.


Mama Diah tersenyum, kendati demikian Mama Diah tahu wanita yang hamil muda sangat membutuhkan sosok suaminya, sementara itu Marsha harus menjalani kehamilan muda seorang diri.


"Maaf ya Sha ... harusnya kala itu Abraham sudah mendampingi kamu. Maafkan Mama," ucap Mama Diah yang lagi-lagi merasa bersalah.


Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Sudah Ma ... semuanya hanyalah masa lalu. Marsha sudah melupakannya. Dalam hati kecil Marsha sendiri pun, Marsha ikhlas. Kalaupun Marsha harus menjadi Ibu tunggal untuk si baby, Marsha ikhlas," jawabnya.

__ADS_1


Begitulah Marsha, sejak kehamilannya yang kala itu memang tanpa Abraham di sisinya, Marsha tetap akan membulatkan tekadnya untuk mengandung dan melahirkan bayinya. Apa pun yang terjadi, Marsha akan membesarkan anaknya. Sebelumnya, Marsha pernah gagal dalam hidup, gagal membina rumah tangganya sebelumnya, tetapi untuk anaknya, Marsha tidak akan gagal, walau dia harus jatuh dan bangun, Marsha akan selalu mencoba.


"Hati kamu tulus sekali, Sha ... beruntung kamu menjadi istri Abraham dan menjadi Mama untuk bayimu. Mama berharap, kebaikan hatimu ini akan dimiliki juga oleh cucu Mama nanti," balas Mama Diah.


"Marsha juga beruntung memiliki Mas Abraham, Ma ... sangat beruntung," balas Marsha.


Mama Diah kemudian menatap wajah menantunya itu, "Sha, boleh Mama bertanya, ini terkait masa lalumu dulu," tanya Mama Diah dengan lirih.


"Boleh Ma ... jika Marsha bisa menjawab, Marsha akan menjawabnya," balasnya.


"Seberapa sakit kamu menjalani rumah tanggamu dulu? Kenapa ada kalanya kamu bisa terlihat begitu tenang?" tanya Mama Diah.


Ya Tuhan, kembali ditanyai mengenai masa lalunya dulu, tentu saja kenangan demi kenangan pahit seolah-olah muncul kembali di dalam pikirannya. Akan tetapi, Marsha menguatkan hatinya dan berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Mama mertuanya itu.


"Ya ... sakit, Ma. Kalau awal pernikahan, indah ... indah banget malahan. Cuma, setelah satu tahun pertama itu mulai deh ada kerikil-kerikil di antara kami. Mulai dari dia yang gak pernah pulang karena sibuk syuting stripping, terus banyak banjir job miniseries, Marsha sendiri juga sibuk menjalani pemotretan, mungkin kesibukan pemicunya. Hanya saja, hubungan yang dingin dan hambar itu tiba-tiba mengarah ke kekerasan fisik dan seksual. Sehingga, ya muncul kabar yang trending dulu itu Ma," cerita Marsha kepada Mama Diah.


"Iya Ma," sahut Marsha.


"Dia ngapain kamu?" tanya Mama Diah lagi.


"Pemaksaan, Ma ... Marsha yang tidur kemudian dia tanpa izin dia melakukan itu. Marsha yang belum siap, dan dia melakukannya dengan sangat kasar sampai keluar darah, lebam di leher, lengan, dan bahu karena cengkeraman tangannya," cerita Marsha lagi.


Oh, Tuhan ... menceritakan semuanya itu membuat Marsha terasa sesak. Kini, suaranya saja sudah bergetar karenanya. Sementara Mama Diah justru sudah menangis mendengar cerita dari Marsha itu.


"Astaga, Marsha ... kenapa bisa?" tanya Mama Diah.

__ADS_1


"Marsha enggak tahu, Ma ... sudah, jangan menangis, Ma ... semua itu hanya masa lalu. Marsha sudah bebas sekarang, dan Marsha kini mendapatkan pendamping yang tepat. Mas Abraham memperlakukan Marsha dengan sangat baik."


Marsha mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa Abraham telah menjadi sosok pendamping yang baik untuknya. Sosok suami yang mengerti dirinya, dan untuk masalah hubungan suami istri, Abraham juga tidak pernah memaksakan kehendaknya.


"Syukurlah, Sha ... pernikahan itu tidak hanya satu atau dua hari. Hanya saja, jika suatu saat Abraham memperlakukanmu dengan buruk, sampaikan ke Mama ... Mama akan memberi pelajaran kepada Abraham," balas Mama Diah.


Mama Diah kemudian memeluk Marsha, dan menangis saat memeluk menantunya itu, "Kamu sudah mengalami banyak hal yang pahit dalam hidup, Sha ... Mama berharap kamu tetap kuat. Menjadi istri yang baik untuk Abraham dan Mama yang hebat untuk si Baby," ucap Mama Diah.


Mendapatkan nasihat dan pelukan dari Mama Diah, air mata Marsha pun luruh juga. Dulu, di saat dia terluka dan kesakitan, Marsha merindukan pelukan dan penguatan seperti ini. Namun, tidak ada yang memeluknya, tidak ada yang mengucapkan kata-kata penyemangat untuknya. Sampai akhirnya, justru Abraham lah yang menemukannya dan memeluknya. Bahkan Abraham yang selalu diam mendengarkan keluh kesahnya.


Jauh di dalam hatinya, Marsha justru bisa merasa lega. Berbicara dengan Mama Diah sekan dia berbicara dengan mamanya sendiri. Bahkan bersama Mama Diah, luka lama yang dia simpan pun, bisa Marsha ceritakan.


"Kuat ya Sha ... syukurlah semua itu hanya masa lalu. Syukurlah, kamu berani mengambil keputusan yang tepat," ucap Mama Diah lagi.


"Ii ... iya, Ma," jawab Marsha dengan bibirnya yang bergetar.


Akan tetapi, baru beberapa saat terjadi, Marsha merasakan perutnya yang terasa begitu mulas, dan keringat dingin membanjiri tubuhnya begitu saja. Tangisan yang berubah menjadi rasa sakit yang begitu sangat.


"Mm ... Ma, perut Marsha sakit, Ma," ucapnya dengan terisak.


Paniklah sudah Mama Diah, baru juga koper milik Marsha ditata. Namun, Marsha sudah mengeluhkan sakit.


"Gimana rasanya Sha?" tanya Mama Diah.


"Perutnya kencang, Ma," jawab Marsha.

__ADS_1


Kemudian Mama Diah membantu Marsha pun duduk, bersandar di sofa. Mama Diah mengambil air putih untuk Marsha, supaya bisa diminum terlebih dahulu, dan juga kemudian Mama Diah mengambil handphonenya untuk memberitahu Abraham.


"Sabar ya Sha ... Mama akan telepon Abraham dulu," ucap Mama Diah.


__ADS_2