Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Doa dan Ikhtiar


__ADS_3

Malam harinya, begitu Mira sudah tertidur pulas, Marsha dan Abraham sama-sama mengamati wajah Mira yang tertidur pulas, lantas keduanya sama-sama tersenyum. Lebih ke tidak mengira bahwa Mira yang sudah berusia 3 tahun, itu berarti memang banyak hal yang sudah mereka jalani bersama.


"Bisa-bisanya sih, Mira sekecil ini sudah bisa meminta adik," ucap Marsha dengan mengusapi kening Mira.


"Bisa Shayang ... mungkin dia melihat teman-teman, televisi, dan tentunya Kak Evan dan Kak Elkan yang mereka kakak adik dan juga akan memiliki adik lagi. Makanya itu, Mira bisa meminta adik," balas Abraham.


 Memang begitulah anak-anak, mereka bisa meminta dari melihat apa yang ada di sekitarnya. Bahkan hanya melihat Evan dan Elkan dan juga Mama Sara yang akan memiliki bayi saja, Mira bisa mengutarakan apa yang dia mau kepada Mama dan Papanya.


"Yuk, Shayang ... kita ke kamar kita," ajak Abraham dengan beringsut dari tempat tidur Mira.


Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Mas ... pelan-pelan jalannya nanti Mira bisa kebangun," balasnya.


Abraham terus dan menggandeng tangan istrinya itu melalui connecting door yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Mira. Lantas Abraham mengajak Marsha untuk menaiki ranjang mereka.


"Jadi, mau enggak buatin adik baby untuk Mira?" tanya Abraham kepada istrinya itu.


"Kamu siap enggak Mas, punya baby lagi?" tanya Marsha terlebih dahulu kepada suaminya.


Sebab, memiliki anak bukan sekadar membuat, tetapi juga mencakup kesiapan untuk bisa memberikan yang terbaik bagi si anak sejak mereka masih berada di dalam kandungan.


"Siap saja sih Shayang ... secara finansial sekarang kita lebih stabil daripada kamu hamil Mira dulu," aku Abraham dengan jujur.


Kala itu bisa dikatakan tabungan yang dimiliki Abraham belum seberapa. Akan tetapi, sekarang sering bekerja sama dengan Pak Belva, membuat Abraham dan Marsha juga menginvestasikan uang mereka dalam bentuk deposito untuk kuliah Mira nanti. Abraham juga mengakui dirinya lebih stabil secara finansial.


"Ya, bersyukur ya Mas ... stabil dan cukup saja, sudah bersyukur banget," balas Marsha.


Abraham kemudian menatap istrinya itu, "Justru aku berpikir, setelah sama kamu lebih banyak berkah yang kuterima, kita juga sudah beberapa kali kerja barengan untuk Bu Sara dan Pak Belva. Ya, itu berkah untuk kita berdua juga," ucap Abraham.


Lantas, Abraham membelai sisi wajah Marsha di sana, menatap manik mata yang begitu indah di hadapannya itu. "Mau untuk menambah satu baby lagi di rumah?" tanya Abraham.


Marsha pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, mau," balasnya.


Tidak akan menunda waktu lama, begitu Marsha sudah memberikan lampu hijau, maka Abraham pun segera beringsut dan pria itu kini dengan cepat mendaratkan bibirnya di atas bibir Marsha. Dengan sepenuh hati, Abraham memagut bibir itu, menghisapnya perlahan, ujung lidahnya sedikit menjulur keluar dan memberikan usapan demi usapan yang basah di permukaan bibir Marsha. Rasa manis dan hangat menjadi dua rasa yang menjadi candu bagi Abraham untuk kian menenglengkan wajahnya, dan memperdalam ciumannya.

__ADS_1


Ketika bibir bertemu dengan bibir, yang ada justru suara decakan yang seolah menjadi simfoni yang mengalun dengan indahnya. Ada lenguhan yang tertahan di pangkal tenggorokan kedua yang seolah membuat jantung kian berdetak dengan lebih cepat.


Sedikit menarik wajahnya perlahan, Abraham pun lantas bertanya kepada istrinya itu.


"Mau dinyalain?" tanyanya.


"Terserah kamu saja," balasnya.


Abraham pun tersenyum, kali ini dia mengubah posisi Marsha untuk duduk dalam pangkuannya. Kembali Abraham mencium bibir Marsha yang sepenuh hati. Ada misi yang hendak mereka berdua tuntaskan malam ini yaitu, misi untuk bisa mendapatkan keturunan lagi, sesuai permintaan Mira.


Abraham tersenyum, pria itu mengambil tempat di tengah-tengah Marsha, kemudian melabuhkan ciumannya di bibir Marsha. Kali ini, ciumannya begitu lembut. Dua bibir yang menyatu menyulut gairah yang tertahan di dalam jiwa. Entahlah, tiap kali suaminya menyentuhnya, Marsha laksana kelopak bunga yang bermekaran. Bermekaran dan menunjukkan pesonanya kepada sang suaminya. Decakan demi decakan seakan menjadi pengiring yang begitu romantis malam itu.


“I Love U,” ucap Abraham di sela-sela ciumannya.


Pria itu mengucapkan cinta tepat di bibir Marsha dan kemudian kembali mengecupi bibir Marsha. Tangan Abraham memberikan belaian di sisi wajah Marsha. Bibir Abraham kemudian berpindah tempat dan melabuhkan kecupan di kening, dua kelopak mata, ujung hidung, dagu, menyisir garis leher Marsha, tulang selangka, sampai ke tulang belikatnya. Marsha bergerak gelisah, mendapatkan kecupan hangat dan basah dari bibir suaminya membuat sekujur tubuhnya meremang.


Tangan pria itu menarik kaos yang dikenakan Marsha dengan cepat. Bibir itu kini memberikan kecupan demi kecupan di sembulan buah persik milik Marsha. Mengecupinya, bahkan Abraham menggigit bagian itu dan menghisapnya dalam-dalam. Rasa perih berpadu dengan gelenyar asing, hingga tidak membutuhkan waktu lama, warna merah menyala terlihat di area sembulan dada Marsha.


Abraham kemudian meloloskan pakaian keduanya, kini pria itu bergerak kian ke bawah dan memberikan sapaan dengan lidahnya di lembah milik Marsha. Kecupan, usapan, dan tusukan dari ujung lidah pria itu benar-benar membuat Marsha mende-sah berkali-kali.


Mendengar de-sahan, dan racauan dari bibir Marsha justru membuat Abraham kian bersemangat. Pria itu kini, menindih Marsha, mengusap wajah Marsha yang memerah usai merasakan pelepasannya.


“I Love U,” ucap Abraham lagi.


Pria itu kemudian kembali beringsut, menggodakan ujung pusakanya di bibir lembah yang sudah begitu basah itu. Hanya sebatas godaan yang justru membuat Marsha mende-sah dan berpegangan di leher suaminya itu.


Dengan perlahan, Abraham menghujamkan pusakanya untuk masuk, tenggelam dalam cawan surgawi milik Marsha. Perpaduan Lingga dan Yoni yang sempurna, sangat memabukkan. Kesan basah, hangat, dan erat seakan menjadi perpaduan yang benar-benar sempurna.


“Oh, Sayang … oh,” racau Abraham kali ini dengan kedua tangan yang memegangi pinggang Marsha. Pria itu mulai menghujam dan melesakkan pusakanya hingga menyentuh dinding rahim Marsha. Gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk yang benar-benar beritme.


“Mas … Mas.” Marsha mende-sah, wanita itu benar-benar kesadarannya.


Jika itu adalah cara yang ingin Abraham tunjukkan untuk menyentuhnya, untuk merasakan cintanya, maka Marsha akan dengan sukarela merasakan semua rasa ini. Menjabarkannya dalam beberapa diksi saja, rasanya sangat tidak mampu.

__ADS_1


“Dipangkuan lagi ya Sayang, tapi hadap ke depan,” instruksi Abraham kali ini.


Pria itu melepaskan pusakanya, dan setengah rebah dengan bersandar di headboard ranjangnya, dan kemudian membantu Marsha untuk duduk di pangkuannya, tetapi membelakanginya. Dengan hati-hati Abraham membantu Marsha, mendapatkan posisi yang tepat.


“Sshhss, Mas Abraham.” Marsha kian mende-sah. Posisi yang luar biasa.


Dengan kecupan yang Abraham berikan di punggungnya, tangan pria itu yang memberikan remasan, dan pilinan di puncak buah persiknya membuat Marsha kalang kabut.


Sungguh luar biasa, posisi bercinta yang keduanya coba kali ini. Sensasi gelenyar yang Marsha rasakan membuat wanita itu mendesis dan memekik. Namun, Abraham masih suka berlama-lama dalam posisi ini. Beberapa kali dia menggerakkan pinggul Marsha.


“Gantian lagi yah,” pinta Abraham kali ini.


Marsha menganggukkan kepalanya, perlahan dia turun dari pangkuan suaminya. Kali ini, Abraham kembali meminta Marsha untuk rebah, dan Abraham segera menindihnya. Pria itu melakukan gerakan seduktif yang kacau, ritmenya tak beraturan. Bahkan nafas yang Abraham hirup rasanya kian berat saja.


“Sha ... Yang ... Shayang,” racaunya lagi kali ini.


Abraham sadar, bahwa ini adalah batasnya. Ambang batas kesadaran dan kenikmatan yang siap memercik dan menghasilkan percikan kembang api di matanya. Abraham menggeram, pria itu kini menenggelamkan buah persik Marsha ke dalam rongga mulutnya, dan bergerak kian cepat.


Hingga akhirnya sesuatu berkedut di dalam sana. Sang Lingga dan Yoni bersatu padu, menghasilkan benih-benih cinta yang ditabur di dalam rahim Marsha.


“Shayang … I Love U, I Love U,” ucap Abraham disertai dengan rubuhnya Abraham di atas tubuh Marsha.


***


Setengah jam kemudian ….


Marsha bersandar di dada Abraham, dengan posisi pria itu yang memeluknya dari belakang. Pertarungan malam yang begitu sedap dan nikmat. Keduanya sama-sama diam. Abraham menarik selimutnya hingga sebatas dada Marsha. Bibir pria itu bisa dengan bebasnya mengecupi bahu Marsha yang tidak tercover oleh selimut.


“Semoga dedek bayi segera datang yah,” ucapnya.


“Iya Mas,” balas Marsha.


"Jangan ke belakang dulu, Sayang ... biarkan adik bayi segera otw di dalam sini. Bakalan punya baby lagi," balas Abraham.

__ADS_1


Marsha pun menoleh ke belakang guna melihat ekspresi wajah suaminya itu, "Semangat banget sih," balasnya.


Abraham pun terkekeh geli, "Ikhtiar Shayang ... tidak ada salahnya. Manusia berusaha, Tuhan yang mengabulkan."


__ADS_2