Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ngidamnya Bumil


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu, pun dengan minggu berganti minggu. Sampai kini usia kehamilan Marsha tidak terasa sudah hampir tujuh bulan. Perut yang kian membuncit sempurna, dan juga kenaikan berat badan yang dialami oleh Marsha. Kendati demikian, Marsha justru terlihat cantik. Kulit wajahnya sama sekali tidak kusam, tanpa polesan make up saja, wajah Marsha sudah begitu cantik. Sampai Abraham tak henti-hentinya untuk memuji, sampai mencium wajah istrinya itu. Sebab, dengan pipi Marsha yang kian chubby justru membuat kecantikan Marsha kian bertambah saja di mata Abraham.


“Perut kamu sudah buncit banget Shayang,” ucap Abraham sembari mengusapi perut Marsha yang sudah begitu membuncit. Layaknya semangka yang begitu bulat.


“Iya Mas … Dedeknya kan kian besar di dalam sini. Udah mau tujuh bulan saja, enggak lama lagi Dedek bayi bisa launching deh,” balas Marsha.


Abraham pun mengangguk setuju, “Benar Shayang … dua bulan lagi. Sementara, kita masih menebak, bayi kita ini laki-laki atau perempuan karena kesepakatan kita yang tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi kita. Cuma, aku merasa kok kamu ini tambah cantik ya Shayang. Mungkin saja, baby kita cewek deh,” balas Abraham.


Ya, Marsha dan Abraham memang menolak untuk mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Saat Marsha memeriksakan kehamilannya di usia 20 minggu, keduanya sepakat untuk tidak bertanya jenis kelamin bayi mereka. Keduanya memilih menunggu sampai waktu bersalin. Sebenarnya keduanya deg-degan juga. Hanya saja, Marsha dan Abraham akan menyiapkan nama untuk bayinya andai laki-laki atau perempuan, selain itu saat belanja keperluan baby nanti, keduanya akan memilih warna yang netral saja.


“Cewek atau cowok tidak masalah kan Mas … cuma kalau cewek nanti aku yang beri namanya yah … kalau cowok kamu yah yang memberi namanya,” pinta Marsha.


“Emang kamu mau kasih nama siapa?” tanya Abraham.


“Ada deh … rahasia. Nanti aku kasih nama yang bagus,” balas Marsha.


Marsha yang sedang berpikir mengenai nama untuk bayinya kelak, tiba-tiba saja menginginkan sesuatu. Sehingga kali ini dia ingin mengajak suaminya untuk sekadar berjalan-jalan.

__ADS_1


“Mas, jalan-jalan yuk ke Mall … mau beli gelato,” ajak Marsha kepada suaminya.


“Boleh, yuk … kamu ganti baju dulu yah,” balasnya.


Senyuman di wajah Marsha mengembang, begitu senang karena suaminya gercep untuk mengajaknya jalan-jalan ke Mall. Lagipula, Marsha memang jarang keluar. Jadi, ketika ingin keluar dan Abraham menurutinya, rasanya begitu senang.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, Marsha sudah bersiap, dan Abraham segera mengajak Bumil kesayangannya itu untuk jalan-jalan ke Mall. Membelikan gelato dan juga membelikan makanan enak untuk istrinya itu.


“Mau beli gelato sama apa Shayang? Persiapan baby kita bisa dibeli kapan sih?” tanya Abraham kepada istrinya itu.


“Oke, baiklah,” sahut Abraham.


Kini mereka menuju kedai gelato, dan Abraham pun membebaskan Marsha untuk membeli gelato favoritnya. Tidak tanggung-tanggung Marsha pun memilih tiga rasa yaitu Dark Chocolate, Mint, dan juga Rasberry. Marsha begitu menikmati gelato miliknya itu, sesekali dia pun menyuapi Abraham dengan gelato yang dingin dan lembut, serta rasanya manis itu.


“Mau lagi Mas?” tawar Marsha masih menyuapi Abraham dengan gelato miliknya.


“Sudah Shayang … buat kamu saja. Kan tadi Mama dan Dedek bayi yang pengen. Sekarang dihabiskan. Nanti kalau kurang, aku beliin lagi,” balas Abraham.

__ADS_1


Dengan cepat Marsha pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … ini saja sudah banyak banget. Scoop es krimnya besar ini Mas, jadi makan tiga saja ini sudah kenyang banget,” balas Marsha.


Tangan Abraham terulur dan mengacak gemas puncak kepala Marsha, “Lucu banget sih … kamu tidak berubah. Selalu sesuka dan sebahagia ini makan es krim,” balas Abraham.


Rasanya Abraham masih ingat bagaimana Marsha yang selalu terlihat happy saat menikmati es krim. Pemandangan seperti ini seolah masih membekas dalam ingatan Abraham. Bagaimana istrinya itu, sangat menyukai olahan susu dan bertekstur lembut itu. 


"Apaan sih Mas, bikin aku malu aja … malu tahu," balas Marsha dengan menundukkan wajahnya sembari memakan lagi gelato miliknya. 


"Gak usah malu, aku sudah kenal kamu luar dalam. Jadi, ya ngapain malu-malu lagi," balas Abraham. "Sekarang, kamu mau makan apa lagi? Yuk, aku belikan. Seharian ini kamu apa aja, aku beliin," balas Abraham. 


Marsha pun tersenyum, "Senangnya, lihat Nak … Papa sayang banget sama Mama dan kamu," balas Marsha dengan terkekeh geli dan mengusapi perutnya. 


Namun senyuman itu perlahan hilang, saat seorang paruh baya berjalan mendekati ke arah Marsha. 


Wanita paruh baya yang masih cantik di usianya, mendekat ke arah Marsha. 


"Marsha … kamu Marsha kan?"

__ADS_1


__ADS_2