Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Playdate dengan Duo E 2


__ADS_3

Dari sekian banyak mainan yang ada di Dufan, hanya ada dua mainan yang menarik perhatian Mira yaitu Istana Boneka dan Caravan atau Komidi Putar. Namun, karena mereka bermain bersama memang ada kalanya Abraham dan Mira mengikuti Evan dan Elkan yang menaiki Kincir-Kincir, Kora-Kora, dan Halilintar. Akan tetapi, Papa Abraham dan Mira hanya menunggu di bawah saja.


“Itu serem banget Papa … kenapa semuanya teriak?” tanya Marsha dengan sesekali menutup telinganya.


“Iya, karena ini permainan yang memacu adrenalin, Sayang … sensasinya luar biasa. Jadi, ya mereka berteriak. Seru kok,” balas Papa Abraham.


"Oh gitu ya Papa ... nanti kalau Mira sudah besar, boleh yah naik kayak gitu?" tanyanya.


"Iya, kalau sudah besar yah ... soalnya ada permainan yang anak-anak tidak boleh naik, tinggi badannya kurang. Jadi ya sabar ya Sayang," balas Papa Abraham.


"Iya Papa," balasnya.


Kemudian ketika Pak Belva dan dua putranya sudah turun, kemudian giliran Abraham dan Mira yang akan menaiki Caravan. Kali ini, Evan memilih menunggu, sementara Elkan ikut dengan Mira menaiki Komidi Putra.


"Kamu suka kudanya yang mana Mira?" tanya Elkan.


"Yang cantik Kak ... ini lucu ya Kak, kayak kuda poni," balas Mira.


Elkan pun tersenyum di sana, "Kamu lebih cantik, Mira," balasnya.


Papa Abraham yang mendengarkan pembicaraan Elkan dan Mira, hanya tertawa dalam hati. Benar ini adalah perasaan yang tumbuh dengan alamiah dan sangat natural. Semoga saja, ketika mereka sama-sama dewasa, keduanya bisa saling menyayangi satu sama lain.


"Papa naik yang itu ya Mira," ucap Abraham.


"Iya, Mira naik yang ini ya Pa," balasnya.


"Boleh ... hati-hati yah ... pegangan Sayang," ucap Papa Abraham mengingatkan kepada Mira untuk pegangan.


"Elkan di sini kok Om Abraham ... biar jagain Mira," balasnya.

__ADS_1


Akhirnya, Mira dan Elkan menaiki Komidi Putra itu sampai empat kali, sementara Papa Abraham hanya menaikinya satu kali saja. Setelahnya Papa Abraham memotret Elkan dan Mira, ada juga video yang dia abadikan. Setidaknya nanti ketika mereka sudah sama-sama besar, ada kenangan bahwa di masa kecil dulu baik Elkan dan Mira sama-sama sayang.


"Sudah puas Mira?" tanya Elkan kemudian.


"Iya, sudah ... makasih Kak El," balasnya yang turun dari komidi putar dengan digandeng Elkan.


"Sudah Sayang?" tanya Papa Abraham.


"Sudah Pa," balasnya.


"Kita temenin Papa Belva dan Kakak-kakaknya main dulu yah? nanti gantian," ucap Papa Abraham.


"Iya Pa ... kan ganti-gantian," balas Mira.


"Benar Sayang ... ganti-gantian. Kalau main berdua memang harus ganti-gantian," balasnya.


Menunggu Duo E dan Pak Belva yang menaiki wahana lainnya, kemudian mereka menuju Istana Boneka. Ini adalah wahana yang paling disukai Mira, karena biasanya anak perempuan menyukai boneka. Menaiki perahu dan melihat aneka boneka yang ada di kanan dan kirinya.


"Iya Sayang ... ini namanya Istana Boneka. Mira suka enggak?" tanya Papa Abraham lagi.


"Suka Papa ... suka banget. Makasih Papa sudah diajakin main di sini," balas Mira.


"Nanti ucapkan terima kasih juga kepada Papa Belva yah ... yang mengajak kita kan Papa Belva," balas Abraham,


Mira pun menganggukkan kepalanya, "Iya, nanti Mira bilang terima kasih kepada Papa Belva."


Puas bermain-main, mereka memilih makan siang bersama yang ada di Dufan. Pilihan Evan dan Elkan jatuh pada Beef Teriyaki yang memang dijual di Dufan. Kali ini juga Papa Belva yang membayari makan mereka semua. Bahkan Pak Belva menolak ketika Abraham yang hendak membayar makan siangnya.


"Biar minumnya saya aja yang bayar Bos," ucap Abraham.

__ADS_1


"Oke boleh ... aku minta tolong air mineral saja ya Bram." balasnya.


Abraham pun membelikan Teh dalam kemasan botol dan air mineral untuk mereka berlima. Kali ini Abraham merasa senang karena dibiarkan mengeluarkan uang. Sebab, jika semuanya yang mengeluarkan uang adalah Pak Belva, Abraham merasa senang.


"Papa, kapan-kapan ke Dufan lagi yah ... ajakin Mira lagi," ucap Elkan sembari mengunyah makanannya.


"Boleh ... kalau liburan sekolah yah," balas Papa Belva.


"Kalau Mama tidak bisa diajak ke sini ya Pa?" tanya Evan kemudian.


"Belum bisa Kak Evan ... ada adik Eiffel yang masih bayi. Jadi, Mama dan Adik Eiffel di rumah saja dulu," balas Papa Belva.


Kemudian Papa Belva berbicara kepada Abraham, "Kapan-kapan lagi ya Bram ... pasti suntuk juga kan Mira kalau di dalam rumah terus? Sesekali aktivitas di luar kan boleh, bagus untuk anak-anak juga," ucap Pak Belva.


"Iya Bos ... yang penting dapat izin dari Istri," jawab Abraham.


"Kalau perginya sama aku masak enggak percaya sih?" tanya Belva lagi.


"Percaya Bos ... cuma enggak boleh lirak-lirik, nanti kepelet wanita lain," balas Abraham yang tentunya hanya sekadar bercanda.


"Gak bakalan lirik ya Bram ... Nyonya di rumah lebih mempesona. Jangan sampailah bunga di tepi jalan lebih menggoda daripada bunga di dalam rumah," balas Pak Belva.


"Benar Bos ... sudah gak akan tertarik sama yang lain. Punya Marsha dalam hidup saja, saya sudah bahagia pakai banget," balasnya.


Belva pun tertawa, "Kamu bisa saja ... pastilah ... aku juga, punya Sara juga sudah bahagia banget. Ditambah dia memberikanku tiga anak, luar biasa. Sepanjang hari selalu indah."


"Luar biasa Bos ... menikmati hidup dan juga bersyukur itu kuncinya Bos. Saya doakan Bos Belva bahagia selalu bersama keluarga," balas Abraham.


"Kamu juga ya Bram ... kamu juga bahagia dan semakin sukses studio fotonya."

__ADS_1


Papa muda itu terlibat obrolan yang menarik satu sama lain dan juga saling mendoakan yang terbaik untuk keduanya. Pertemanan yang positif dan saling membangun. Seperti inilah yang membuat persahabatan Abraham dan Belva bisa bertahan lama.


__ADS_2