
Pagi harinya di unit apartemen Marsha dan Abraham ….
“Mas, bangun Mas,” sapa Marsha yang sedang membangunkan Abraham pagi itu.
Abraham yang masih tidur, ketika mendengar istrinya membangunkannya pun segera bangun. Pria itu mengerjap dan kemudian membelai sisi wajah Marsha.
“Hmm, ada apa Shayangku?” tanyanya.
“Temenin belanja ke bawah yuk Mas … kok rasanya aku takut deh keluar sendiri hari ini,” pinta Marsha kepada suaminya itu.
Abraham pun berusaha untuk membuka kedua matanya, heran juga. Biasanya sehari-hari Marsha juga belanja sayur yang ada di bawah apartemen sendiri. Akan tetapi, kenapa sekarang Marsha ingin ditemani. Rasanya Abraham merasa ada sesuatu yang membuat istrinya itu merasa takut.
“Sebentar yah … aku cuci muka dulu kalau begitu, sama beri aku pelukan dulu dua menit,” pinta Abraham.
Permintaan yang terkesan aneh, tetapi mengawali hari rasanya memang Abraham sangat membutuhkan pelukan dari istrinya itu. Pelukan hangat dari wanita yang sangat dicintainya dan memberikan semangat untuk bekerja baginya.
Marsha pun segera memeluk tubuh suaminya yang masih rebahan itu, sehingga tampak Marsha seolah menindih tubuh Abraham sekarang. Keduanya berpelukan dengan begitu erat, Abraham memejamkan matanya dan menghirupi aroma tubuh Marsha yang tetap saja wangi walau pun baru bangun tidur.
“Sudah dua menit,” balas Marsha.
“Iya Shayangku … ya sudah, aku cuci muka dulu,” balas Abraham sembari mengurai pelukannya.
Sembari menunggu Abraham yang berada di kamar mandi, Marsha memilih untuk menguncir rambutnya terlebih dahulu dan berpikir sayur apa yang hendak dimasaknya hari ini. Hampir lima menit, Abraham sudah bersiap.
“Yuk,” ajak Abraham.
__ADS_1
Marsha pun berdiri dan menganggukkan kepalanya, “Makasih sudah mau anterin aku belanja … gak tahu nih, tiba-tiba aku kok merasa takut. Apalagi lewat koridor menuju ke lift seperti ini,” balas Marsha.
Abraham pun tersenyum dan segera menggandeng tangan istrinya itu, “Kamu tumben-tumbenan sih … aku jadi kepikiran loh apa yang sebenarnya membuat kamu takut. Jam berapa ini Shayang?” tanya Abraham.
“Masih jam 05.35 sih Mas … masih pagi banget. Iya, aku juga bingung kok. Aku juga merasa takut aja. Aneh ya Mas,” balasnya.
“Ya sudah, sekarang tiap pagi aku temenin kamu belanja sayur deh. Lagian aku juga khawatir tahu kalau kamu keluar-keluar dari unit sendirian,” balas Abraham.
Keduanya pun bergandengan tangan bersama turun ke bawah, di depan apartemen mereka memang ada tukang sayur yang berjualan dengan mobil dan berhenti di sana setiap paginya. Di tukang sayur itulah, Marsha hampir setiap pagi berbelanja sayur.
“Kamu mau dimasakin sesuatu?” tanya Marsha kepada Abraham.
“Pepes Ikan Mas enak kelihatannya Shayang … cuma kalau ribet ya enggak usah,” balas Abraham.
“Ya sudah … aku masakin deh kalau ada Ikan Mas dan daun pisangnya. Soalnya kadang kan daun pisang itu susah di dapat. Kalau di Semarang mudah banget didapat, minta ke tetangga juga boleh,” sahut Marsha dengan sedikit tertawa.
“Iya Mas … kadang kangen yah bisa interaksi sama tetangga,” balas Marsha.
Tidak terasa sembari mengobrol, keduanya sudah tiba di penjual sayur yang memang sudah mangkal di sana. Abraham juga menunggui Marsha dengan berdiri tidak jauh dari istrinya. Sebab, Abraham masih ingat bahwa Marsha mengatakan dirinya yang merasa takut. Oleh karena itu, Abraham memilih tidak jauh-jauh dari Marsha.
Marsha sendiri cukup beruntung karena menemukan Ikan Mas dan daun pisang, berarti hari ini dia akan memasak Pepes Ikan Mas request dari suami tercintanya itu. Marsha sedikit tersenyum, kala beberapa ibu-ibu yang turut berbelanja pagi itu sedikit membicarakan Abraham dan dinilai Ibu-Ibu itu tampan. Tentu Marsha merasa bangga karena memang suaminya itu begitu tampan.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit bagi Marsha untuk belanja, dan segera membayar semua barang belanjaannya. “Sudah Bu?” tanya tukang sayur itu.
“Iya sudah,” balas Marsha.
__ADS_1
“Semuanya Rp. 70.000 ribu,” balas tukang sayur itu usai menghitung semua belanjaan Marsha dan memasukkannya ke reusable bag yang dibawa sendiri oleh Marsha.
Usai membayar belanjaannya, Marsha pun kembali menghampiri suaminya itu, “Sudah Mas,” balasnya.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, dan segera meminta reusable bag itu dari tangan Marsha. Abraham sendiri yang membawanya di tangan kiri, sementara tangan kanannya segera menggenggam tangan Marsha.
“Shayang, jalan ke ujung itu dulu yuk, mau enggak?” ajak Abraham kepada istrinya itu.
“Boleh … mau ngapain Mas?” tanyanya.
“Mau beli Bubur Kacang Ijo itu sebentar,” jawab Abraham.
Akhirnya Abraham dan Marsha pun berjalan menuju ujung jalan sebelum sampai di jalan utama, dan membeli Bubur Kacang Ijo dari penjual yang ada di ujung jalan. “Tumben banget sih Mas?” tanya Marsha.
“Iya, mendadak pengen saja sih. Bangun pagi banyak manfaatnya yah. Fixed deh, aku akan selalu temenin kamu belanja sayur mulai pagi ini,” balas Abraham dengan terkekeh dalam tawanya.
Akan tetapi, dari arah berlawanan terlihat mobil Ferrari berwarna merah yang berjalan sedikit pelan, seolah sedang melihat Abraham dan Marsha yang sedang berjalan bersama. Baik Abraham dan Marsha cukup kaget melihat nomor polisi yang terlihat di nomor plat mobil itu B XXXX MA. MA adalah inisial untuk semua mobil yang dimiliki oleh Melvin Andrian.
“Kayaknya plat itu aku tahu deh,” gumam Marsha dengan tiba-tiba dengan melirik suaminya.
“Iya … kan wanitanya satu unit dengan kita Shayang … lantai 14 kan?” tanya Abraham kepada Marsha.
“Oh, iya … benar. Si Lista kan di lantai 14, jadi mungkinkah dia semalam tidur di sana?” tanya Marsha.
“Mungkin saja Shayang … kan dia sudah bebas,” balas Abraham.
__ADS_1
Marsha kemudian memilih diam dan meremas tangan suaminya yang sedang menggenggamnya itu, “Pindah saja dari unit kita ini yuk Mas … aku ada tabungan pribadi untuk mencari rumah,” balas Marsha.
Kali ini Marsha pun seolah tidak ingin memiliki masalah lagi dengan Melvin Andrian. Jujur saja, kemungkinan yang buruk bisa terjadi, terlebih memang Lista dan dia tinggal di satu tower apartemen yang sama yang berbeda lantai saja. Pindah ke rumah rasanya lebih aman.