
Selang beberapa hari kemudian, merasa waktu untuk istirahat dan juga membersihkan apartemen beres. Marsha terpikir untuk mencari Dokter Kandungan. Sebab, dia membutuhkan Dokter Kandungan yang akan memeriksa perkembangan janinnya setiap bulan dan juga membantunya dalam proses persalinan nanti.
Bagaimanapun baby nya harus diperiksa secara rutin, sehingga Marsha juga mengetahui bagaimana perkembangan bayinya setiap minggu atau bulannya.
Sama seperti malam ini, Marsha yang tengah mengajak Abraham untuk berdiskusi bersama.
"Mas, ada yang perlu kita lakukan deh," ucap Marsha memulai obrolan malam itu.
"Iya, ada apa Shayang?" tanya Abraham yang langsung mengalihkan fokusnya kepada Marsha.
"Begini … aku kan baru hamil, aku butuh Dokter Kandungan untuk periksakan Adik Bayi setiap bulan," ucap Marsha.
Ya, bagaimana pun dia membutuhkan Obgyn yang bisa menolongnya dan memeriksa janinnya. Bukan hanya itu, Marsha juga membutuhkan vitamin dan beberapa obat seperti Kalsium dan Mineral yang dibutuhkan selama kehamilannya.
"Oh, iya Shayang … sampai lupa. Kamu pengen Obgyn yang kayak gimana?" tanya Abraham.
"Hmm, cowok atau cewek gak masalah, asalkan baik aja Mas. Ya kalau bisa ramah, dan juga memberikan penjelasan secara detail. Kalau di rumah Eyang dulu, aku cuma ke Bidan. Mikirnya kan yang deket dari rumahnya Eyang aja," cerita Marsha.
__ADS_1
Ya, di Semarang dulu, memang Marsha hanya memeriksakan kandungannya ke Bidan yang memang jaraknya tidak jauh dari rumah Eyangnya. Mau ke kota untuk mencari Dokter Spesialis Kandungan, Eyang Partinah tidak mengizinkan Marsha menyetir mobil untuk jarak jauh dengan medan perbukitan di area Semarang. Sekarang, begitu sudah di Jakarta, Marsha pun mengatakan keinginannya untuk mencari Obgyn yang bagus untuk memeriksakan buah hatinya.
“Keburu enggak Shayang? Aku tanya ke temen-temen dulu besok, Soalnya aku juga tidak terlalu tahu masalah Dokter Kandungan. Apa sekalian kita cari-cari di internet dulu, di aplikasi Halo itu kan ada beberapa rekomendasi Obgyn yang bagus. Nanti kita cari sama-sama,” balas Abraham.
“Boleh deh … aku coba sambil cari ya Mas … ya yang penting bagus dan kalau bisa menjelaskannya detail, soalnya aku kan masih awam banget,” balas Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya, “Iya … apalagi aku, Shayang. Mana tahu yang begituan. Cuma dulu, memang waktu tragedi di apartemen itu aku yakin aku bisa menghamili kamu aja,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Sontak Marsha mengernyitkan keningnya, dan menatap wajah suaminya itu, “Maksud kamu gimana Mas?”
Abraham menjawab dan memberikan penjelasan kepada Marsha. Memang tidak ada yang tahu, ada yang melakukan beberapa kali dan tidak hamil, sementara ada pula yang hanya sekali melakukan dan kemudian hamil.
“Aku juga heran sebenarnya, kenapa selama dua tahun aku tidak hamil yah? Padahal ya, dulu Melvin kalau pengen bisa membabi buta,” jawab Marsha dengan bergidik ngeri.
Hening sejenak. Banyak pikiran yang memenuhi Marsha sekarang ini, sampai di batas, semua masa lalu memang sebaiknya di lupakan. Namun, dengan ke Obgyn, Marsha bisa sekaligus bertanya kenapa selama dua tahun dirinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
“Maaf Mas, bukannya aku membawa-bawa masa lalu. Hanya saja, aku waktu di Semarang juga bingung. Kenapa aku bisa hamil dengan sekali saja berhubungan. Aku senang karena aku akhirnya menjadi seorang Ibu, merasakan kehidupan baru yang tumbuh di rahimku, tetapi sekaligus pilu … karena aku berniat untuk melahirkannya tanpa suami,” balas Marsha lagi.
__ADS_1
“Ini pikiran kamu, Shayang … bukan jalan yang sudah Allah ridhoi. Jadi, ya inilah jalan yang Allah ridhoi untuk aku, kamu, dan bayi kita,” balas Abraham dengan memberikan usapan di perut Marsha.
Marsha menganggukkan kepalanya, tetapi beberapa saat kemudian air mata menetes begitu saja dari sudut matanya.
“Aku dulu begitu senang sampai iri rasanya melihat Ibu Hamil yang datang pemeriksaan di bidan dengan ditemani suami mereka. Datang dan pulang naik sepeda motor berboncengan. Masuk ke ruangannya Bu Bidan, ada suami yang mendampingi. Jujur, aku iri rasanya. Sementara hanya aku yang datang periksa hanya seorang diri,” kenang Marsha kala itu.
Mendengar cerita Marsha, ada de-sahan nafas dari bibir Abraham, “Sudah, maaf yah … selama 12 minggu di Semarang kamu sendiri. Aku akan mengganti semua waktu itu. Nanti kalau periksa Adik Bayi lagi, Papa temenin yah,” balas Abraham yang mencoba menenangkan Marsha.
“Gak perlu minta maaf, aku hanya cerita kok, Mas … soalnya dulu itu, kan ya keputusanku yang memilih pergi ke Semarang tanpa memberi kabar kepadamu. Walau aku sangat rindu, tetapi gimana lagi, kala itu kita tidak mendapatkan restu,” balas Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya perlahan, “Itu akan jadi jalan cerita cinta kita, Shayang … siapa tahu nanti anak-anak kita memiliki jiwa berjuang yang tinggi. Sama seperti Papanya yang tidak menyerah dan berjuang untuk cintanya,” balas Abraham.
Marsha lantas menggenggam tangan Abraham, menelusupkan jari-jari tangannya di sela-sela jari Abraham, “Mas, dampingi aku yah? Temani aku periksa, dampingi aku sebagai suami dan calon Papa. Mau kan?” pinta Marsha.
“Pasti Shayang … tanpa kamu meminta pun, aku akan selalu mendampingi kamu. Tahu enggak Shayang? Kamu itu belahan jiwa aku. Aku sangat cinta sama kamu, sungguh,” balas Abraham.
Sebab, tak ada lagi kata yang bisa Abraham katakan selain betapa besarnya cintanya untuk Marsha. Mungkin secara finansial, dia tidak sekaya raya Melvin Andrian yang adalah aktor top Ibukota, tetapi untuk urusan cinta, Abraham menjamin bahwa cintanya begitu besar dan tak berkesudahan untuk Marsha.
__ADS_1