
Setibanya di rumah, Marsha sudah disambut oleh Mama Saraswati dan juga Papa Wisesa. Pasangan yang baru saja beradu mulut dengan hebatnya itu, kini bersama-sama untuk berbaikan dan menunjukkan bahwa hubungannya baik-baik saja kepada Melvin. Terlihat senyuman merekah dari Mama Saraswati saat menyambut putra tercintanya itu.
“Welcome home … anak Mama,” ucapnya sembari membuka kedua tangannya dan memeluk Melvin.
Bagaimanapun pertemuan kembali Mama dan anak setelah beberapa waktu lamanya tak bertemu tentu saja menjadi pertemuan yang dramatis. Senyuman merekah Mama Saras pun sirna berganti dengan air mata. Hatinya begitu senang dan lega karena putranya sudah kembali berada di rumah.
“Makasih Ma,” balas Melvin yang masih memeluk Mamanya itu.
Beberapa saat dengan Mamanya, sekarang giliran Melvin yang memeluk dan menyapa Papanya. “Pa,” sapanya.
Sama seperti Mama Saraswati, Papa Wisesa pun memeluk putranya itu. Tangan pria paruh baya itu tampak menepuk bahu dan punggung Melvin berkali-kali.
__ADS_1
“Akhirnya, Vin ….”
Papa Wisesa pun tak dipungkiri merasa begitu bahagia dan juga merasa terharu memeluk putranya itu. Bagaimanapun perasaan seorang Papa pasti juga bahagia saat mendapati anaknya sudah bebas usai menjalani hukuman kurungan penjara.
“Makan Vin … Mama udah meminta Bibi Tina untuk memasak semua menu kesukaan kamu,” balas sang Mama.
Sehingga siang hari ini, Melvin untuk kali pertama kembali merasakan lezatnya masakan rumahan yang hampir satu tahun ini tak pernah Melvin rasakan. Rasanya benar-benar enak dan lezat. Tidak seperti katering di tahanan yang ada kalanya nasinya begitu keras sampai susah untuk ditelan. Sayur dan lauk yang diberikan kepada para tahanan pun rasanya seringkali hanya didominasi oleh rasa asin saja, sehingga membuat rasanya kadang kala tidak layak untuk dimakan. Namun, bagaimana lagi hanya dengan makanan seperti itulah para tahanan bisa bertahan hidup. Walau dalam penjara hidupnya tidak berguna, tetapi mereka harus tetap bertahan dan menunggu waktunya untuk menghirup kebebasan.
“Ini dulu kamar kita Sha … kamar yang menjadi saksi untuk apa yang sudah kita lewati bersama. Belum ada yang berubah sejak aku masuk ke dalam Lapas. Foto pernikahan kita pun masih tergantung di dinding, dan masih ada di atas nakas. Kamu sekarang di mana Marsha? Mungkinkah kita bisa bertemu lagi? Kenapa selama aku berada di dalam Lapas, kamu tidak pernah menjengukku, Sha?”
Melvin kemudian merebahkan dirinya, hingga tubuhnya terpantul di atas ranjangnya yang memang empuk. Kemudian dia menggapai fotonya bersama Marsha yang ada di atas nakas. Foto kala resepsi pernikahannya yang dilangsungkan di kawasan Seminyak - Bali. Di foto itu, tampak senyum pasangan baru yang begitu bahagia. Dilanjutkan dengan bulan madu selama seminggu penuh di area Seminyak.
__ADS_1
Melvin mendengkus dan menatap foto dengan pigura persegi itu. “Aku terkejut, Sha … kupikir tanpa hidup bersamaku, tanpa mendapatkan finansial yang melimpah dariku, kamu tidak bisa bertahan hidup. Rupanya kamu justru berhasil menjadi seorang Brand Ambassador. Haruskah aku merusak reputasimu lagi supaya kamu hancur? Melebihi kehancuranmu yang sebelumnya? Aku tak ingin jika aku yang hancur, Sha … jika aku hancur, maka kamu pun juga harus hancur. Kamu tahu, kenapa aku menjadi pria yang melakukan hubungan badan dengan begitu keras bersamamu? Itu semua karena aku pernah mendapati fotomu dengan pacarmu dulu yang masih ada di dompetmu, Sha … Kamu bersamamu, tubuhmu untukku, tetapi aku yakin hatimu hanya kekasih yang fotonya masih tersimpan di dompetmu itu. Oleh karena itu, sembari menggapai kepuasan, aku pun berusaha menyakiti kamu. Tidak kukira justru dia menjadi kesenangan tersendiri dan aku bahagia kala kamu merintih kesakitan di bawah kungkunganku.”
Sisi lain seorang Melvin dan juga bagaimana bisa dia menjadi sosok pria yang begitu menyukai kekerasan kala melakukan hubungan badan, rupanya ada pemicunya. Namun, itu hanya pemicu saja, karena lambat laun semuanya berubah menjadi hal yang menyenangkan baginya kala menyakiti orang yang sedang bersamanya.
Melihat orang yang merintih, kesakitan, ada lebam di tubuhnya karena aksinya memberikan kepuasan tersendiri bagi Melvin. Pria itu memejamkan matanya dan menaruh kembali foto pernikahannya bersama Marsha di atas nakas.
“Harusnya kamu jujur padaku, Sha … harusnya kamu jujur kalau di hatimu masih ada pria yang ada di foto itu. Untuk apa kamu mempertahankan foto pacaran, jika sudah menikah denganku?”
Usai berbicara sendiri, melamun, dan mengingat lagi kisahnya dengan Marsha. Melvin pun menghela nafas panjang dan kemudian mengusapi wajahnya dengan kasar beberapa kali. Semua rasa yang berubah menjadi kebencian untuk Marsha, membuat Melvin ingin bertemu dengan Marsha.
“Mari kita bertemu Marsha … aku ingin lihat bagaimana kamu sekarang? Bahkan sangat mengasyikkan bisa memakaimu dan membuat luka lagi di tubuhmu,” gumamnya lirih.
__ADS_1
Melvin yang sedari tadi diam akhirnya pun tertawa sendiri. Mungkin benar dia sudah gila sekarang. Sehingga hanya melihat fotonya bersama Marsha dan kamar mewah miliknya yang dulu ditempatinya bersama Marsha membuat Melvin tertawa terbahak. Tertawa sendiri. Entah apa yang dia tawakan, tetapi seolah Melvin bertransformasi menjadi orang gila sekarang ini.