
"Emang sekali main sama Melvin, lo dapat berapa?" tanya teman Lista itu. Agaknya begitu banyak yang ingin diketahui temannya itu mengenai sosok Melvin Andrian.
"Bukan sekali main, tapi udah jatah bulanan. Apartemen gue aja dibelikan Melvin atas nama gue. Mungkin saat itu, uang bulanan ke bininya lebih sedikit, dia lebih banyak ngasih ke gue," jawab Lista dengan gamblang.
Marsha asyik menikmati makanannya. Spaghetti Carbonara yang begitu lezat, dan juga mendengarkan secara langsung kisah tentang mantan suaminya. Namun, ada kalanya Marsha tersenyum.
Seakan-akan hidup memang sedang menertawakan kamu. Sama seperti hari ini, ketika Marsha seolah menguping cerita dari wanita simpanan Melvin Andrian itu. Bagaimana dirinya dibandingkan, dianggap mandul, bahkan diam-diam diselingkuhi oleh suaminya sendiri.
"Cuma gue ngeri aja, kalau sampai main kasar gitu," balas temannya Lista.
"Asyik-asyik aja kok. Kalau udah, tinggal minum obat, minum pereda nyeri, dan tidur," balas Lista dengan terkekeh.
Seakan tidak ingin mendengar banyak cerita lagi, sementara makanan mereka sudah habis, Marsha mengajak Abraham untuk pulang. Bahkan Marsha yang kala itu mengenakan masker dan kacamatanya melenggang begitu saja melewati Lista dan temannya itu. Sama sekali tidak ambil pusing dengan semua yang dia dengar langsung dari mulut Lista itu.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Abraham yang sudah masuk ke dalam mobil dan hendak mengemudikan mobilnya.
“Enggak apa-apa kok Mas, aku baik-baik saja,” balas Marsha.
Pertanyaan Abraham memang terdengar klise, hanya saja Abraham berhak menanyakan itu karena semuanya berkaitan dengan masa lalu Marsha. Abraham hanya ingin Marsha bisa berbagi apa pun padanya, termasuk masa lalunya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, keduanya memilih sama-sama diam. Marsha yang sesekali mengusapi perutnya yang begitu membuncit dan pastinya terasa kenyang karena menyantap berbagai makanan Italia yang begitu lezat, sementara Abraham berkonsentrasi untuk mengemudikan mobilnya. Namun, Abraham sudah memikirkan bahwa begitu tiba di apartemen, dia akan menanyakan semuanya secara langsung kepada Marsha.
“Pelan-pelan turunnya Shayang,” ucap Abraham yang kini sedang membantu Marsha keluar dari mobil. Abraham mengulurkan tangannya untuk membantu Marsha. Tentu saja, Marsha dengan senang hati menerima uluran tangan dari Abraham.
Abraham pun menggandeng tangan Marsha dari parkiran, hingga memasuki unit mereka. Kemudian, begitu sampai di unit, Abraham pun masih menunggu. Membiarkan Marsha untuk mengganti bajunya, dan membersihkan dirinya sesaat. Sementara Abraham menunggu dengan duduk di sofa yang memang sengaja dia tempatkan di balkon apartemennya.
“Kok kamu di sini Mas?” tanya Marsha yang menyusul suaminya ke balkon itu.
“Iya, cari udara segar … menjelang sore juga,” balas Abraham.
“Tumben banget sih … biasanya selalu di dalam,” balas Marsha.
“Boleh … mau tanya apa?” sahut Marsha.
“Kamu beneran tidak apa-apa dengan apa yang baru saja kamu dengar di restoran tadi?” tanya Abraham.
Marsha menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku baik-baik saja. Semuanya hanya masa lalu, Mas … lagian, aku sekarang lebih bahagia,” ucap Marsha dengan jujur.
Ketika beberapa orang merasa terpuruk usai bercerai, Marsha justru merasakan hal yang sebaliknya. Dia merasa lebih bahagia usai bercerai dari Melvin. Entah itu karena dia merasa terbebas dari jerat sang aktor, merasakan kehamilan untuk kali pertama, atau karena Abraham yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Yakin kamu lebih bahagia?” tanya Abraham lagi.
“Aku bahagia hidup bersamamu, Mas … aku rasanya benar-benar terbebas dari belenggu,” balas Marsha.
Dengan jujur, Marsha pun mengakui bahwa bercerai dari Melvin membuatnya seolah terbebas dari belenggu. Belenggu yang sudah melukainya secara fisik, verbal, mental, dan juga seksual. Hidup bahagia tanpa ada rasa takut, itulah yang dirasakan Marsha sekarang ini.
Abraham menatap wajah Marsha dengan begitu lekatnya, pria itu akhirnya percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Marsha. Sepenuhnya Abraham yakin bahwa Marsha bahagia sekarang ini. Sebab, jika sampai Marsha tidak bahagia, Abraham akan berupaya untuk bisa membahagiakan Marsha.
Abraham tersenyum, pria itu memajukan sedikit wajahnya, dan tanpa permisi mengecup bibir Marsha. Bibir yang tipis, dan selalu meninggalkan rasa manis, setiap kali dia menciumnya.
Chup!
“Makasih Shayang … aku cuma takut, jika menikah denganku justru membuatmu tidak bahagia. Jadi, jika kamu merasa tidak bahagia, tolong katakan padaku … aku akan berusaha untuk selalu membahagiamu. Kebahagiaanmu itu prioritasku,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
Marsha pun tersenyum, wanita itu menunduk malu usai mendapatkan kecupan di bibirnya dari Abraham. Merespons kecupan dan perkataan yang begitu tulus dari Abraham, Marsha pun memeluk suaminya itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
“Makasih Mas … tentu, salah satu alasanku lebih berbahagia sekarang adalah kamu. Mungkin namaku masih buruk di luar sana. Sebab, aku hamil duluan. Aku menikah tidak lama setelah masa idahku selesai, banyak dosa yang aku perbuat. Hanya saja, aku bahagia bersamamu, sungguh,” ucap Marsha.
Dalam hidup ini ada banyak alasan untuk bahagia, dan bagi Marsha, salah satu alasannya bisa bahagia karena Abraham. Terluput dari semua kesalahan yang pernah dia buat, tetapi satu yang Marsha rasakan bahwa dirinya bahagia.
__ADS_1
Mengakhiri pernikahan yang berubah menjadi belenggu, membuat Marsha seolah memutus tali temali yang mengjerat dan mengekang lehernya. Tidak ada suami yang berkata kasar, suami yang mengangkat tangan, suami yang memaksakan berhubungan badan. Terlepas dari semua belenggu itu benar-benar membuat Marsha begitu bahagia.