Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Waktunya Ngeteh


__ADS_3

Begitu pulang dari Agastya Properti, Abraham pun sesuai dengan apa yang dia perbincangkan dengan Belva segera memberitahu Marsha perihal jual beli apartemen. Suami dan istri secara finansial pun sebaiknya sama-sama terbuka. Sebab, sering kali pertengkaran antara suami dan istri terjadi karena masalah finansial yang sama-sama tidak terbuka. Kali ini, Abraham pun memilih untuk bisa terbuka dengan Marsha. Namun, Abraham menunggu. Setidaknya sampai Mira sudah tertidur dan keduanya sudah sama-sama di kamar, supaya pembicaraan mengenai finansial dalam rumah tangga lebih privasi.


Benar, Mama Diah adalah Ibu kandung Abraham, tetapi dalam permasalahan finansial keluarga, sebaiknya hanya diketahui suami dan istri tanpa adanya intervensi dari mertua. Sebab, ada kalanya mertua justru menjadi pemicu lahirnya masalah baru. Pun demikian dengan Abraham yang menunggu sampai malam tiba.


Setelah Baby Mira tertidur, dan Mama Diah untuk masuk ke dalam kamarnya. Sekarang waktunya bagi Abraham untuk berbicara dengan Marsha. Banyak yang harus dia bicarakan dengan Marsha terkait rumah yang akan mereka tempati bersama.


"Shayang, ngobrol dulu yuk," ajak Abraham kepada istrinya itu.


"Iya, boleh Mas ... mau sambil minum teh?" tawar Marsha kepada suaminya.


"Boleh ... waktunya ngeteh, waktunya berbicara ya Shayang?" balas Abraham dengan sedikit terkekeh geli.


"Ish, kamu bisa saja sih ... kayak di-endorse teh celup saja sih Mas," balas Marsha.


Marsha pun berlalu menuju ke dapur dan membuat dua cangkir teh, tidak lupa dia membawa kue kering yang dia miliki sebagai teman minum teh. Setelahnya, Marsha kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh dan sedikit camilan. Wanita itu duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya, karena di sanalah suaminya sudah menunggu.


"Mas," sapa Marsha dengan tersenyum manis kepada suaminya itu.


"Sini duduk Shayang ... mau aku pangku," tawar Abraham dengan menggerakkan alisnya dan membuka tangannya, mengisyaratkan kepada Marsha untuk duduk di pangkuannya.


Akan tetapi, dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Jangan Mas ... aku masih belum selesai. Enggak nyaman kalau duduk di pangkuanmu," balas Marsha dengan menunduk malu.

__ADS_1


Ya, Marsha masih belum selesai dari masa nifasnya. Oleh karena itu, Marsha merasa tidak nyaman duduk di pangkuan Abraham. Lebih baik untuk duduk sendiri saja. Lain waktu, jika sudah selesai, pasti Marsha juga mau-mau saja duduk di pangkuan suaminya sendiri.


"Ya sudah ... masih lama ya Shayang?" tanya Abraham.


"40 hari biasanya, Mas ... sementara aku melahirkan dan jaraknya sampai sekarang baru kurang lebih 3 minggu saja," balasnya.


"Oh, ya sudah ... masih lama yah berarti," balas Abraham dengan tersenyum.


Marsha merespons dengan menganggukkan kepalanya, kemudian dia kembali menatap suaminya itu, "Mau bicara apa Mas?"


"Oh, gini Shayang ... tadi aku sudah ketemu sama Pak Belva. Terus, kita justru ditawarin sebuah perumahan yang dekat dengan rumah dia. Seberapa dekat aku juga tidak tahu, cuma akhir pekan nanti kita diminta lihat perumahannya dulu," ucap Abraham.


Marsha tampak menatap suaminya itu dan menganggukkan kepalanya secara samar, "Secepat itu?" Tentu Marsha bertanya karena memang mencari rumah baru itu tidak mudah, dan sekarang Pak Belva justru langsung meminta mereka untuk melihat perumahan di akhir pekan nanti.


Marsha sejujurnya juga sangat terkejut saat Abraham bercerita bahwa Pak Belva ingin memberikan rumah. Tentu saja Marsha pun akan menolaknya. Syukurlah, Abraham sudah menolaknya dan juga berkeinginan untuk membeli rumah dengan uangnya sendiri.


"Jadi, begini Shayang ... rumah itu nanti kita ambil dulu, dan kemudian boleh kita bayar ketika apartemen ini sudah terjual. Katanya Pak Belva percaya sama kita. Toh, kita juga bekerja sama dengan dia dan Bu Sara, jadi Pak Belva percaya," cerita Abraham lagi.


Di sini, semua yang menjadi obrolan antara Abraham dan Pak Belva mengenai rumah dan apartemen semuanya diceritakan Abraham secara detail dan jujur kepada istrinya. Tidak ada yang dia tutupi. Marsha pun mendengarkannya dengan sebaik mungkin dan juga tentu akan memberikan respons sesuai cerita suaminya.


"Emang gak apa-apa tuh Mas? Kebaikan yang berlimpah patut dicurigai enggak sih?" tanya Marsha.

__ADS_1


"Dicurigai apanya Shayang? Pak Belva itu memang begitu. Dia pengusaha yang baik, namanya bersih, tidak pernah terkena kasus hukum. Bahkan Pak Belva juga menjadi donatur untuk beberapa panti asuhan. Mau apanya yang dicurigai Shayang?" tanya Abraham.


"Mungkinkah ada orang yang sebaik itu sih Mas?" tanya Marsha lagi.


"Ada ... Pak Belva dan Bu Sara sama-sama orang yang baik Shayang. Mereka orang kaya yang dermawan," balas Abraham.


"Yakin, tidak ada imbalannya sama sekali?" tanya Marsha lagi.


Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, "Enggak ... cuma tadi Pak Belva sempat bercanda, kalau kita jadi besanan dengannya di masa depan mungkin saja lucu," balas Abraham.


Marsha pun mengerucutkan bibirnya, "Ish, bisa saja sih. Kalian Bapak-Bapak udah main jodoh-jodohan saja. Sama siapa coba? Evan terlalu dewasa Mas. Sudah besar kalau Evan. Kalau Elkan ya bisa lah, selisih 2 tahun sama Mira," balas Marsha.


"Tuh, kamu juga pengen besanan sama Pak Belva?" tanya Abraham.


Marsha pun sedikit tertawa, "Enggak juga. Sebenarnya biar Mira menemukan cintanya sendiri. Cuma, jika suatu hari jodohnya dari anak Pak Belva ya tidak masalah," balas Marsha.


"Benar Shayang ... aku juga berpikir demikian. Jadi, bagaimana kamu setuju enggak? Kita ambil rumahnya dulu, dan ambil yang sesuai budget kita tentunya. Nanti ditaksir dulu apartemen kita akan terjual berapa, harga rumahnya berapa, selisihnya biar aku yang bayar," balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Oke, jika memang kamu percaya pada Pak Belva, aku tidak apa-apa," balas Marsha.


"Kalau aku percaya Shayang ... karena aku mengenal Pak Belva sudah beberapa tahun yang lalu. Sejak Bu Sara hamil Evan. Pak Belva sih memang baik. Lihat Shayang, di saat kita kesulitan dan harus segera melarikan diri, Tuhan berikan bantuannya. Ada pintu yang terbuka," balas Abraham.

__ADS_1


Ya, di dalam sudut pandang Abraham, dia lebih melihat bahwa semuanya ini adalah pertolongan tangan Tuhan. Kehadiran Belva mungkin saja adalah pertolongan dari Tuhan. Memang kondisi mereka dalam masa waspada dan harus senantiasa berjaga-jaga, dan di masa inilah ada Pak Belva yang tak segan untuk membantuk Marsha dan Abraham.


__ADS_2