Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Mengikuti Suami Bekerja


__ADS_3

Hari yang ditentukan pun sudah tiba, kali ini untuk kali pertama Marsha akan mengikuti Abraham mengambil pekerjaan di luar studio. Mengingat job kali ini dilakukan di sebuah perusahaan property yang besar di Jakarta, Marsha pun memantaskan diri. Tampil dengan sopan, dan juga membawa sebuah kado ulang tahun untuk anak yang akan berulang tahun hari ini.


“Begini sopan enggak Mas?” tanya Marsha kepada suaminya itu.


Celana hamil dipadukan dengan kemeja ibu hamil berwarna pink muda yang begitu lembut menjadi pilihan Marsha kali ini. Sementara untuk rambutnya, Marsha memilih menguncir ala ponytail. Pikirnya jika, di sana gerah, maka Marsha tak perlu mempermasalahkan rambut panjangnya.


“Cantik kok Shayang … apa baby kita cewek yah, kok kamu cantik banget kayak gini. Malahan tambah cantik, tambah sexy, mempesona,” puji Abraham kepada istrinya itu.


Marsha tersenyum, kedua pipinya merona merah mendengar jawaban dari suaminya itu, “Aku serius tanya … soalnya acaranya di aula perusahaan, jadi aku takut saja kalau tidak sopan. Apalagi yang ulang tahun anak CEO,” balas Marsha.


“Sopan kok Shayang, cantik juga. Udah tepat kok pilihan busana kamu. Lagian sekarang, semenjak jadi istriku, kamu jarang berpakaian seksi ya Shayang?” tanya Abraham dengan tiba-tiba.


Marsha pun terkekeh geli mendengar pertanyaan dari suaminya itu. “Pakaian seksi hanya untuk pemotretan saja kok Mas … aku kalau rumah sejak dulu cuma pakai piyama saja. Malahan enggak pernah berpakaian seksi,” akunya.


“Gak usah berpakaian seksi lagi Shayang … kamu kayak gini saja udah seksi banget kok,” balas Abraham dengan memeluk istrinya itu dari belakang. Kedua tangannya melingkari pinggang hingga perut Marsha yang sudah membuncit, menempelkan sisi pipinya dengan sisi pipi Marsha.


“Ya sudah, berangkat sekarang yuk Shayang? Kan Fotografer harus datang duluan, harus setting beberapa lighting juga,” ajak Abraham.


Yang dikatakan Abraham sepenuhnya tepat. Seorang fotografer jika menerima job di luar, mereka harus datang terlebih dahulu. Melihat tempat acara, mengatur lighting, dan juga melihat angle serta pencahayaan untuk mendapatkan gambar terbaik. Bahkan jika memungkinkan para fotografer bisa bekerja sana dengan event organizer untuk sedikit menggeser dekorasi untuk mendapatkan hasil gambar yang maksimal.

__ADS_1


Sehingga usai makan siang, Abraham mengajak Marsha menuju ke Agastya Property. Di salah satu aula di perusahaan itu yang akan digunakan sebagai pesta ulang tahun. Berkendara kurang lebih setengah jam, kini keduanya sudah tiba di tempat acara. Beberapa kru dari Studio Foto milik Abraham pun sudah bersiap dan mengatur lighting yang tepat.


“Gimana, sudah oke?” tanya Abraham kepada kru-nya.


“Sudah Bos … ini hasil gambar ruangan yang aku abadikan, untuk promosi juga bisa nanti,” jawab kru tersebut.


“Oke … nanti aku fotografer dan satu kameramen kan? Pastikan untuk back-up fotonya,” instruksi dari Abraham.


“Siap Bos,” jawab krunya yang berjumlah hampir lima orang itu.


Marsha pun berjalan dan mengekori Abraham, “Keren banget sih ngasih instruksi dan membagi jobdesk masing-masing kru,” ucap Marsha dengan tersenyum.


“Kerja di lapangan harus kayak gini Shayang … demi hasil yang terbaik,” balas Abraham lagi.


“Kok ada Coffee Bay di sini sih Mas?” tanya Marsha.


“Istrinya CEO ini yang punya Coffee Bay itu Shayang … kenapa yang menjual Americano Ice kesukaanmu yah?” tanya Abraham.


“Oh … jadi yang punya Coffee Bay, istrinya pemilik perusahaan ini yah? Dua-duanya pebisnis dong yah? Bener banget, aku suka rasa Americano-nya yang autentik. Cuma sudah 7 bulan enggak minum Americano. Nahan banget selama hamil ini,” balas Marsha.

__ADS_1


“Iya, istrinya Pak Bos ini pemilik Coffee Bay. Yang ulang tahun sekarang kan anak keduanya, namanya Elkan. Bagus yah namanya, kayak nama pemain sepakbola tim nasional Indonesia namanya Elkan,” balas Abraham.


“Emang iya, ada pemain sepakbola namanya Elkan?” tanya Marsha lagi.


“Iya, ada … sekarang bermain di Gillingham F.C., di Inggris,” balas Abraham.


Tentu saja Abraham tahu karena pria itu adalah penonton sepakbola dan pendukung Tim Nasional Indonesia. Sehingga, dia tahu ada pemain sepakbola yang masih berusia muda bernama Elkan.


“Oh, mungkin Mama dan Papanya suka sama pemain sepakbola itu,” balas Marsha.


Abraham pun mengangguk setuju, “Iya … mungkin saja. Soalnya yang namanya Elkan itu juga cakep banget. Harapannya anaknya nanti cakep mungkin,” balas Abraham dengan tertawa.


Membicarakan nama anak, Marsha pun berpikir lagi apa nama yang akan mereka sematkan untuk anaknya nanti. Mengingat dua bulan lagi hari perkiraan lahir akan tiba, tetapi keduanya belum memiliki nama yang pasti untuk buah hatinya.


“Bagus sih namanya Elkan, aku menebak anaknya Pak CEO ini juga cakep,” balas Marsha.


“Cakep kok Shayang … kalau nanti lihat dia cakep, jangan dijadikan menantu yah,” balas Abraham dengan bercanda.


Marsha pun turut tertawa, “Gimana jadiin mantu, anak kita cewek atau cowok saja kita tidak tahu. Masih rahasia sampai waktunya bersalin nanti. Launching dedek bayi sekalian gender reveal,” balas Marsha.

__ADS_1


“Benar Shayang … malahan seru kok. Gimana seru kan ngikutin suami bekerja? Cuma nanti aku sambil kerja ya Shayang? Kamu duduk saja, nanti aku kenalin juga sama Pak Belva,” balas Abraham.


Marsha menganggukkan kepalanya. Kali pertama mengikuti suami bekerja, ternyata sangat menyenangkan. Terlebih melihat anak-anak yang lucu, rasanya Marsha pun tak sabar untuk bertemu dengan janinnya, mengetahui jenis kelaminnya, dan juga menyematkan nama indah untuk bayinya itu.


__ADS_2