
Abraham adalah tipe pria yang dewasa dan bisa menyingkapi segala sesuatu dengan kepala dingin. Bahkan ketika Mama Saraswati membicarakan tentang Melvin, Abraham sama sekali tidak marah. Sebab, dia tahu bahwa semuanya adalah masa lalu. Justru dia senang karena bisa mendengar semuanya tentang Melvin.
"Bram doakan Melvin bisa kembali semangat dan menemukan kebugarannya lagi. Masih berapa lama Melvin di penjara, Tante?" tanya Abraham kemudian.
"Tiga tahun lagi, Bram ... masih begitu lama. Mungkin juga karena keinginannya untuk rehabilitasi di rumah sakit ketergantungan obat di tolak, sehingga memang Melvin kecewa. Penyembuhan obat terlarang di penjara itu tidak mudah, Bram ... mungkin saja Melvin juga banyak merasakan kekecewaan selama ini," balasnya.
Semua yang ada di sana pun terdiam. Jalan hidup Melvin memang tidak mudah. Namun, semua yang dijalani oleh manusia bukankah hasil dari perbuatannya sendiri. Dulu, Melvin ketika berada di puncak popularitasnya, dia berlaku semena-mena dan juga menganiaya Marsha. Membuat Marsha mengalami luka di tubuhnya. Hingga akhirnya, Marsha memilih mengajukan gugatan cerai kepada Melvin kala itu.
"Apakah kalian mau menyempatkan diri untuk mengunjungi Melvin?" pinta Mama Saraswati kepada Marsha dan Abraham.
Ketika Mama Saraswati mengucapkan semua itu, baik Marsha dan Abraham sama-sama tidak bisa memberikan jawaban. Bagaimana keduanya harus berdiskusi terlebih dahulu dan juga mengambil solusi terbaik. Pun dengan Mama Diah yang melirik Marsha dan Abraham.
"Agaknya itu tidak bisa Ma," balas Marsha kemudian.
Setidaknya Marsha berpikir bahwa dalam bertindak, dirinya juga harus memikirkan suaminya. Dia paham bahwa posisinya sekarang adalah istrinya Abraham, dan sebisa mungkin dia lepas dari Melvin Andrian.
"Pikirkan sekali lagi, Sha ... Mama tidak meminta banyak. Kasihanilah Melvin," ucap Mama Saraswati dengan terisak di sana.
__ADS_1
Dalam pemikiran Mama Saraswati mungkin saja jika Marsha dan Abraham mau menemui Melvin, siapa tahu bisa membangkitkan kembali semangat hidup Melvin. Setelah bertemu dengan Marsha dan juga meminta maaf secara langsung, Melvin bisa merasa lebih lega dan juga merasa bisa menata kembali hidupnya lagi.
"Bram, kamu sendiri bagaimana?" tanya Mama Saras kemudian kepada Abraham.
Abraham yang semula diam akhirnya membuka suaranya, "Kenapa kami harus mengunjungi Melvin, Tante?" tanyanya.
"Siapa tahu usai bertemu dengan kalian berdua, meminta maaf secara langsung, dan Melvin bisa menemukan semangatnya. Siapa tahu, Bram ... kita tidak pernah tahu," balas Mama Saraswati.
Setidaknya sekarang Mama Saraswati sedang berusaha meminta kepada Marsha dan Abraham. Dia sangat berharap bahwa usai ini, Melvin bisa lebih semangat, menata hidupnya, dan juga bangkit dari keterpurukannya. Mungkin ini adalah jalan yang bisa ditempuh.
"Tolonglah Bram ... Marsha, bagaimanapun kan Melvin adalah adik kamu, Bram ... kunjungilah sebagai seorang kakak yang mengunjungi adiknya," pinta Mama Saraswati lagi.
"Setelah ini Mama tidak akan meminta lagi, Sha," pinta Mama Saraswati meminta dan nada ucapannya terdengar begitu mengiba.
"Bagaimana Mas?" tanya Marsha kepada suaminya.
Sungguh, Marsha pun tidak ingin melangkahi keputusan Abraham. Bagaimanapun dia akan mengikuti apa yang diputuskan oleh suaminya. Ketika Abraham menghendaki, barulah Marsha akan mengikuti. Sebab, keputusan Abraham dalam hal ini rasanya begitu mutlak untuk Marsha.
__ADS_1
"Waktu berkunjungnya kapan Tante?" tanya Abraham kemudian.
"Sesenggangnya kamu aja, Bram ... kalau bisa jangan terlalu lama, karena Melvin membutuhkan semangat dan motivasi untuk bisa bangkit lagi," balas Mama Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Kita mengunjungi Melvin mau enggak Shayang?" tanyanya kepada Marsha.
Marsha melirik suaminya itu, benarkah bahwa ini adalah keputusan Abraham. Kenapa suaminya itu kini justru memutuskan untuk bisa mengunjungi Melvin di sel tahanan? Seolah Marsha menunggu penjelasan dari Abraham.
"Kita mengunjungi sekali saja. Kunjungan seorang kakak kepada adiknya, atau kakak ipar kepada adiknya. Begitu saja," balas Abraham.
Ketika Abraham menjawab itu, Mama Diah menganggukkan kepalanya. Sangat bangga dengan putranya yang memiliki sikap yang bijak dan bisa memandang sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Bahkan sekarang Abraham melihat Melvin sebagai seorang adik, dan begitu pula kedudukan Melvin kepada ipar bagi Marsha.
"Aku ikut kamu saja, Mas," balas Marsha kemudian.
Mama Saraswati pun menganggukkan kepalanya, "Terima kasih, Bram ... kamu begitu baik, Bram. Tante sangat berterima kasih kepadamu," balas Mama Saras kepada Abraham.
"Lusa saja, Tante ... kami akan menemui Melvin," balasnya.
__ADS_1
"Iya, Tante akan turut menyertai kalian berdua," balas Mama Saraswati.
Semoga kali ini kedua belah pihak yang selama ini berseteru bisa saling melakukan rekonsiliasi. Mungkin waktu memang sudah berlalu, tetapi tidak ada salahnya untuk meminta maaf secara langsung. Sapa tahu usai dikunjungi Marsha dan Abraham bisa menemukan semangat hidupnya kembali.