
Selang dua hari berlalu, nyatanya Marsha benar-benar akan melayangkan gugatan kepada Melvin. Mengakhiri rumah tangga yang begitu pelik adalah opsi terakhir yang Marsha pilih sekarang ini.
“Kamu yakin, Sha?” tanya Abraham lagi kepada Marsha.
“Iya, Bram … aku sudah berkonsultasi dengan seorang pengacara yang aku kenal. Selain itu, ada beberapa alasan kenapa aku memilih berpisah,” jawab Marsha.
Alasan Marsha memilih untuk berpisah untuk hanya perbedaan antara Marsha dan Melvin yang kian sukar dijembatani. Marsha memiliki alasan lain yaitu tindak kekerasan secara fisik dan seksual yang dia alami.
Abraham merespons dengan memberikan anggukan kecil. “Baiklah, jika itu adalah opsi terakhir yang kamu ambil. Ketahuilah, aku akan mendukungmu,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
"Hari ini aku akan keluar sebentar, Bram," pamit Marsha kali ini kepada Abraham.
"Kemana?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Pengadilan Agama untuk melayangkan gugatan cerai," balas Marsha.
“Mau aku antar?” tanya Abraham lagi. Kali ini Abraham justru menawarkan bahwa dirinya bisa mengantar Marsha untuk pergi ke Pengadilan Agama.
“Tidak perlu, Bram … aku bisa sendiri. Biarkan aku menyelesaikan masalahku ini sendiri,” balas Marsha.
Setidaknya Abraham sudah banyak membantunya. Marsha ingin menyelesaikan masalah rumah tangganya ini sendiri. Lagipula, Marsha yakin bahwa dirinya memiliki alasan yang tepat untuk mengakhiri pernikahannya.
“Aku khawatir padamu, Sha,” ucap Abraham lagi.
Marsha tersenyum menatap Abraham, “Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja,” balas Marsha.
Usai mengatakan semuanya itu, Marsha kemudian mengumpulkan berkas-berkasnya berupa buku nikah asli, fotokopi buku nikah, fotokopi Kartu Tanda Penduduk dari penggugat, fotokopi Kartu Keluarga, dan meterai. Marsha juga masih harus mengurus ke Kelurahan untuk meminta surat keterangan. Setelah semua berkas yang Marsha miliki lengkap, wanita itu pun segera bergegas ke Pengadilan Agama di kediaman Keluarga Andrian. Sebab memang begitulah aturannya, jika Istri yang menggugat cerai suami, maka Istri harus mengajukan gugatan tersebut di pengadilan wilayah kediaman tergugat.
Marsha berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mendaftarkan sendiri gugatan perceraiannya. Petugas pengadilan agama pun mencatat laporan gugatan perceraian dari Marsha tersebut.
__ADS_1
“Dari keterangan di lampiran dan di buku nikah, pernikahan Saudari Marsha dan Saudara Melvin sudah berjalan dua tahun yah? Untuk apa bercerai, apakah tidak bisa diperbaiki lagi?” tanya petugas di pengadilan itu.
Marsha menghela nafas, pernikahannya pun bersama Melvin bisa dikategorikan belum lama. Baru dua tahun, tetapi mahligai rumah tangga itu harus kandas. Kenyataan ini sangat pahit, tetapi harus Marsha hadapi.
“Sebab sudah tidak ada kecocokan di antara kami,” balas Marsha.
Ya, alibi bahwa tidak ada kecocokan memang sering kali disampaikan oleh pasangan yang hendak bercerai. Alasan itu pula dijadikan Marsha sebagai sebuah alibi.
Petugas dari pengadilan pun kemudian memasukkan gugatan cerai dari Marsha dalam data di komputer dan alasan mengapa terjadinya gugatan perceraian juga disertakan. Namun, saat mengetik di papan keyboardnya, petugas pengadilan justru nampak mengernyitkan keningnya.
“Jika hanya karena tidak ada kecocokan, Anda dan suami bisa mengkonsultasikan nya terlebih dahulu ke konselor pernikahan, karena perceraian itu secara agama juga dibenci oleh Allah. Bisa Anda pertimbangkan lagi,” jelas petugas itu.
Jika menilik usia pernikahan keduanya, memang banyak orang yang menyayangkan. Akan tetapi, bagaimana lagi cinta tidak bisa dipaksa, lagipula di antara Melvin dan Marsha yang ada justru akan saling menyakiti. Marsha dengan hatinya yang bercabang, Melvin dengan sikapnya yang kasar. Marsha pun menggigit bibir bagian dalamnya, “Jika memang sudah tidak ada kecocokan untuk apa bertahan, Pak … lagipula di sini saya yang menjadi korbannya. Untuk apa bertahan dalam rumah tangga yang seolah di dalamnya terpasang bom waktu yang bisa meledak kapan saja, jika bom waktu itu meledak sudah dapat dipastikan bahwa korbannya hanya satu, dan itu adalah saya sendiri,” ucap Marsha yang benar-benar sudah mengambil keputusan bulat.
Baginya, lebih baik dia mengakhiri hubungan pernikahan yang sudah berusia dua tahun itu, untuk mendapatkan ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan dalam hidup untuk waktu yang lebih panjang.
Bukannya Marsha tak ingin memperbaiki, tetapi Marsha hanya merasa takut jika disakiti secara fisik, mental, dan seksual lagi. Lagipula, Melvin juga melakukan penganiayaan kepadanya. Hanya saja, Marsha tetap tidak buka suara. Tidak elok rasanya mengekspose masalah pribadi ke publik. Usai mendatangi pengadilan agama, Marsha kemudian kembali ke apartemen milik Abraham. Sekaligus Marsha akan berpamitan dengan Abraham, sudah cukup dirinya menumpang di apartemen milik Abraham itu.
Begitu sampai di apartemen Abraham, Marsha pun berjalan gontai memasuki unit apartemen milik Abraham. Hingga akhirnya, Marsha mengetuk pintu unit apartemen itu.
“Bram,” panggilnya sembari mengetuk pintu.
Tidak menunggu lama, pintu pun terbuka. Terlihat Abraham sendiri yang membukakan pintu bagi Marsha.
“Sudah selesai?” tanya Abraham.
Ada anggukan samar di kepala Marsha, “Iya, sudah,” jawabnya.
“Lalu, bagaimana ke depannya?” tanya Abraham lagi kepada Marsha.
__ADS_1
“Paling cepat dua hari lagi pengadilan akan mengirimkan surat gugatan itu kepada Melvin,” jawab Marsha.
Durasi harinya pun bisa tergantung kecepatan dari pihak pengadilan. Paling cepat bisa dua hari, paling lama bisa sampai satu bulan. Namun, Marsha berharap perceraian ini tidak berlarut-larut dan bisa segera diselesaikan.
“Semoga tidak membutuhkan waktu terlalu lama,” balas Abraham.
“Iya, aku mau pergi dari sini, Bram,” ucap Marsha dengan terus-terang.
Menumpang di rumah pria yang tidak ada hubungan dengan dirinya bisa berbahaya. Terlebih di saat masalah rumah tangganya belum selesai sama sekali. Sehingga yang tepat memang Marsha pergi dari apartemen milik Abraham.
“Kemana?” tanya Abraham.
Marsha mengedikkan bahunya, “Entahlah … aku akan mencari tempat tinggal sementara. Aku masih akan di Jakarta kok, sampai perceraianku selesai barulah aku ke Semarang,” balas Marsha.
“Unit sebelah kosong, apa mau kutanyakan apakah mungkin bisa disewa?” tawar Abraham.
Memang kebetulan bahwa unit di sebelah miliknya kosong. Mungkin saja unit itu bisa ditempati oleh Marsha. Lagipula, Abraham juga sangat khawatir jika Marsha jauh-jauh darinya. Jika dekat, Abraham bisa menjaga Marsha.
“Boleh … tanyakan saja,” balas Marsha.
Rupanya Abraham segera bergerak cepat dan bertanya di apartemen itu apakah ada unit yang kosong dan disewakan, supaya Marsha bisa menempati unit itu tanpa harus pindah ke tempat yang jauh. Beberapa waktu lamanya, Abraham menelpon beberapa orang dan sampai Abraham turun ke bawah untuk bertanya langsung ke pihak pengembang di apartemen itu.
Segala usaha Abraham kerahkan, sampai akhirnya pria itu bisa bernafas lega.
“Dapat Sha, tapi di lantai 14. Ada unit yang disewakan di sana. Kamu mau menempatinya?” tawar Abraham.
“Iya, tidak apa-apa. Lagipula, tidak baik jika aku terus-menerus seatap denganmu,” balas Marsha.
Abraham tersenyum, “Aku tidak keberatan, Marsha … tetapi yang kamu ucapkan benar. Berbeda lantai tidak apa-apa yah? Kalau kesepian kita bisa saling mengunjungi satu sama lain,” balas Abraham.
__ADS_1
Ya, berbeda lantai tidak apa-apa. Yang pasti mereka berdua bisa saling mengunjungi satu sama lain. Selain itu, Abraham pun bisa terus menjaga Marsha aman di sisinya.