
Rupanya benar apa yang disampaikan oleh Dokter Indri bahwa kontraksi palsu yang semula dirasakan oleh Marsha kini tak terasa lagi. Wanita itu bisa merasakan kehamilan seperti biasanya. Kendati demikian, tetap saja ada rasa was-was di dalam hati.
Sudah dua hari berlalu, dan Marsha belum lagi merasakan gelombang cinta dari bayinya. Padahal, Marsha juga menunggu-nunggu kapan pembukaannya akan bertambah. Sebab, sudah pembukaan dua, sehingga Marsha berharap bahwa proses pembukaan ke tahap selanjutnya akan lebih cepat.
“Kamu kerja dulu aja, Mas … lagian juga belum ada tanda-tanda Adik Bayi akan lahir dalam waktu dekat,” ucap Marsha pagi itu yang meminta kepada Abraham untuk bekerja lebih dahulu.
“Aku enggak tenang ninggalin kamu sendirian, Shayang,” balas Abraham.
Sungguh, Abraham pun merasa tidak tenang. Walaupun jarak studio fotonya ke unit apartemen tidak begitu jauh, tetapi Abraham ingin bisa menemani Marsha. Jika, si bayi sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan, Abraham sudah siaga di samping Marsha.
“Kelihatannya kalau hari ini enggak deh Mas … enggak ada kontraksi lagi,” ucap Marsha.
Abraham menatap wajah Marsha, tentu Abraham bisa merasakan bahwa Marsha cemas sekarang ini. Siapa pun wanita yang berada di posisi Marsha tentu akan merasa cemas juga. Sudah terjadi pembukaan dua, tetapi sudah dua hari berlalu justru tidak ada kontraksi lagi. Harus berapa lama lagi keduanya menunggu sampai pembukaan bisa bertambah, terjadi kontraksi, hingga akhirnya mereka akan bertemu dengan bayi mungil mereka.
"Nanti kalau tiba-tiba perut kamu sakit gimana? Aku kerja ke studio pun rasanya juga sudah enggak tenang, kepikiran kamu terus," balas Abraham.
Itu adalah pengakuan jujur dari Abraham, bahwa dirinya merasa tidak tenang jauh-jauh dari Marsha. Abraham ingin bahwa ketika istrinya merasakan kontraksi, ada Abraham yang sudah siap sedia dan siap membawanya ke Rumah Sakit.
"Enggak ... feelingku sih enggak hari ini," balas Marsha.
__ADS_1
Entahlah, hanya saja feelingnya memang bukan hari ini si baby akan lahir. Mungkin besok, tetapi memang Marsha berharap tidak akan lama lagi akan ada gelombang cinta dari bayinya.
"Yakin, kamu tidak apa-apa aku tinggal bekerja?" tanya Abraham lagi.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... tenang saja. Lagian di rumah kan ada Mama juga. Jadi, ya aku merasa tenang aja sih," balas Marsha.
"Baiklah ... aku akan kerja hari ini yah ... cuma kamu kalau merasakan sesuatu, misal perut kamu mules, pinggang kamu sakit, atau apa pun itu, langsung kabari aku yah? Aku akan hidupkan handphone aku ke mode dering, biar kalau apa-apa, aku bisa dengar," balasnya.
Setelah perbincangan dengan Marsha, Abraham pun akhirnya dengan berat hati memilih untuk bekerja. Kendati demikian, dia tetap meminta kepada Mama Diah untuk menemani Marsha, dan segera menghubunginya jika terjadi sesuatu.
"Mama, titip Marsha ya Ma ... Bram akan bekerja dulu," pamit Abraham kepada Mamanya.
Setelah Abraham berangkat bekerja, Marsha mulai memutar video di YouTube yang terhubung ke televisinya dan mencari tahu mengenai serba-serbi kehamilan khususnya untuk menambah pembukaan. Dari sebuah channel yang dimiliki oleh seorang bidan atau doulla itu, dikatakan bahwa untuk menambah pembukaan bisa melakukan tiga hal yaitu berhubungan suami istri, melakukan jongkok dan berdiri supaya bayi akan kian turun ke panggul, dan juga memakan nanas.
"Lihat apa Sha?" tanya Mama Diah.
"Ini Ma, channel kehamilan untuk menambahkan pembukaan, Ma ... kok sudah dua hari ya Ma, kelihatannya malahan sekarang adem-ayem deh," balas Marsha.
"Ya usaha dan berdoa, Sha ... lakukan afirmasi positif juga ke si baby. Bilang, "Adik, Mama berusaha dan Adik juga cari jalan yah ... kita berjuang bersama-sama," coba saja Sha," ucap Mama Diah.
__ADS_1
Marsha pun tersenyum mendengar ucapan Mama Diah itu, kemudian dia melakukan hal yang sama. Melakukan afirmasi positif ke bayinya, semoga saja si baby yang masih berada di dalam perutnya juga mau mencari jalan. Sebab, kelahirannya sudah ditunggu oleh Marsha, Abraham, dan juga Neneknya.
"Marsha ikutin gerakan senam kegel itu dulu ya Ma," ucapnya ingin mengikuti gerakan senam kegel di televisi pintarnya.
"Iya ... santai saja. Ya sudah, kamu olahraga dulu ya. Mama tidur sebentar ya Sha, kalau kerasa apa-apa bilang yah," ucap Mama Diah.
Mulailah Marsha menggelar matras dan mengikuti gerakan yang dipraktikkan oleh bidan tersebut. Marsha berusaha melakukannya serileks mungkin, dan juga Marsha melakukan jongkok dan berdiri untuk memperkuat otot panggulnya. Hampir lima belas menit Marsha mencoba, dan hasilnya dia berkeringat.
"Mama sudah latihan nih Sayang ... adik bayi mau lahir kapan sih? Mama dan Papa sudah penasaran loh sama kamu. Kamu cewek atau cowok sih Sayang?" gumam Marsha dengan lirih dan memberikan usapan di perutnya. Selain itu, Marsha juga meminum banyak air putih supaya tidak mengalami dehidrasi.
Latihan kegel, Marsha lakukan beberapa kali, sampai di mana Marsha merasakan bahwa perut bagian bawahnya terasa kencang. Oleh karena itu, Marsha memilih berhenti dan beristirahat.
Segala upaya sudah Marsha lakukan mulai jalan-jalan di pagi hari sejak kandungannya berusia 36-37 minggu, latihan kegel, melakukan kegiatan jongkok dan berdiri. Jika ada upaya yang tidak Marsha lakukan itu adalah berhubungan suami istri, karena Abraham merasa ngeri melakukan hubungan dengan perut Marsha yang sudah sepenuhnya membuncit.
"Adik, besok lahir yuk ... besok Papa ada di rumah. Jadi, kalau kerasa gelombang cinta darimu ada Papa di rumah. Yuk, berjuang sama Mama dan Papa yuk," ucap Marsha lagi yang melakukan sounding dengan bayinya.
Rupanya sounding yang dilakukan Marsha direspons dengan gerakan si baby. Ya, Marsha merasakan tendangan dari bayinya. Marsha pun tersenyum sendiri sembari mengusapi perutnya.
"Berikan Mama sinyal ya Sayang ... udah gak sabar untuk ketemu sama kamu," balas Marsha.
__ADS_1
Setelah capeknya hilang, Marsha pun kembali melakukan gerakan jongkok dan berdiri. Setidaknya dia berusaha untuk menambah pembukaan. Semoga saja, si baby juga segera menemukan jalan lahirnya.