
“Kekhawatiran saya ini mendasar tidak ya Bos? Saya hanya ingin Marsha dan Mira aman,” ucap Abraham kali ini.
Rupanya bukan hanya sekadar bertanya perihal properti yang bisa dia beli dan tempati di lingkungan yang aman, tetapi kali ini Abraham pun seolah sedikit curhat dengan Pak Belva. Para pria biasanya tidak mudah untuk mengutarakan isi hatinya. Mereka cenderung memilih diam. Hanya saja, kali ini dirasa perlu untuk bercerita dan mendapatkan nasihat barang kali dari Pak Belva.
“Tidak … justru kalau kamu sudah menjadi suami dan Ayah, tetapi masih tidak khawatir itu, saya salah. Kalau pun MA itu tidak bebas, tetap saja ada rasa khawatir di hati kamu kan? Khawatir ingin melakukan yang terbaik untuk anak dan juga istrimu. Jadi, itu semua wajar,” balas Belva.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Benar Pak Belva … saya merasa khawatir. Terlebih, masa lalu Marsha pernah menikah dengan Melvin yang secara finansial lebih kuat daripada saya. Ibarat kata, Marsha ingin beli apa saja tinggal menunjukkan jari telunjuknya saja dan apa yang dia mau akan dia dapatkan. Syukurlah, Marsha rupanya sangat sederhana. Memang saat menjadi seorang model, kesannya glamour dan berkesan. Namun, istri saya itu sangat sederhana,” balas Abraham.
“Finansial itu bisa dicari Bram … tetapi, kedamaian hati dan kebahagiaan sama sekali tidak bisa dicari. Sama seperti aku saat menemukan Sara, kehilangan perusahaan ini pun aku siap. Aku siap melepaskan perusahaan ini untuk Sara, karena apa, karena aku sangat mencintainya. Memang dia bukan cinta pertamaku, Bram … berkali-kali aku bilang kepada Sara bahwa dia memang bukan cinta pertamaku, tetapi aku akan memastikan bahwa Sara akan menjadi cinta terakhirku. Cinta terakhir yang memiliki kesempatan lebih lama dan juga lebih panjang untuk hidup bersamaku,” balas Belva.
Jujur saja, Abraham rasanya begitu salut dengan sosok Belva. Rupanya Belva pun merasakan jatuh cinta dan sepemikiran dengan Marsha bahwa finansial itu bisa dicari, tetapi kebahagiaan dan kedamaian di dalam hati itu tidak bisa dibeli bahkan mencarinya pun susah.
“Luar biasa Bos … saya salut deh sama Bos. Cuman, menurut pandangan saya sekarang, sejak memotret Bos dengan Bu Bos saat Bu Bos hamil Evan itu, saya sudah menebak dan menerka karena Bos menunjukkan cinta di mata Bos. Hanya saja, mungkin saat itu masih ada mendiang Nyonya, jadinya semuanya terhalang. Cuman sih, Pak Bos lebih bahagia sekarang,” balas Abraham.
__ADS_1
Ya, pertemuan Abraham dan Belva sendiri sudah sangat lama. Sejak Abraham merintis karir sebagai fotografer di Jakarta, dan menjadi fotografer yang dipercaya oleh agensi yang menaungi almarhumah Anin, istri pertama Belva. Hingga kini, pertemanan dan komunikasi, bahkan kerja sama dengan Agastya Properti berjalan dengan lancar.
“Terima kasih Bram … semoga kamu dan istri juga merasakan kebahagiaan yang sama,” balas Belva.
Kemudian Belva menatap sekilas kepada Abraham, “Akhir pekan ini ajak Marsha saja, kita bisa melihat beberapa perumahan dekat malahan dari rumah saya, kalau senggang Marsha bisa main tuh sama Sara di rumah. Ada Elkan juga kan, bisa main bersama. Kamu bilang jujur sama Marsha, bahwa rumah nanti akan kamu bayar setelah apartemennya terjual. Gitu. Jangan ada hal yang disembunyikan sama istri sendiri, supaya tidak menjadi boomerang untuk kamu,” balas Belva.
“Setuju Pak … saya juga tidak suka menyembunyikan sesuatu sama Marsha. Lebih baik, saya berbicara jujur kepada Marsha. Responsnya akan seperti apa, yang penting saya berani jujur,” balas Abraham.
“Nah gitu … kadang suami menuntut banyak hal kepada istri, tetapi suami lalai untuk melakukan tugas dan kewajibannya kepada istri. Kejujuran dan keterbukaan dalam komunikasi antar suami dan istri itu penting banget. Jadi, usahakan untuk melakukan dua hal itu,” nasihat Belva kepada Abraham.
“Enggaklah … buat saya, kamu tuh bukan orang lain, Bram. Sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, saudara saya. Makanya itu ketika Sara meminta istri kamu untuk menjadi Brand Ambassadornya, saya sepenuhnya percaya dan yakin. Saya memang tidak mengikuti infotainment yang beredar beberapa waktu yang lalu. Namun, saya dan istri saya yakin Marsha tidak seperti yang mereka beritakan,” balas Belva.
“Hmm, justru korbannya itu adalah istri saya, Bos … cuma ya itu media menggorengnya dan membuat seolah istri saya yang bersalah di sini,” balas Abraham.
__ADS_1
Rupanya dua pria itu ketika bertemu banyak juga yang dibicarakan bersama. Ada obrolan, ada nasihat, dan ada itikad baik. Sungguh, Abraham pun juga bersyukur karena saat cobaan mengintip, di saat itu pula Tuhan mendekatkannya dengan orang yang baik.
“Wah, kalau kayak gini … rumah kita dekat, seru tuh kalau di kemudian hari kita bisa menjadi besanan. Mungkin saja, kamu berniat menjodohkan Mira dengan Elkan?” celetuk dari Belva dengan tiba-tiba.
Tentu itu hanya sebatas guyonan saja, hanya saja saat ini Abraham dan Belva sama-sama tertawa.
“Mira masih bayi, Bos … terlalu dini untuk membahas jodohnya nanti. Cuma ya, saya sih tidak masalah jika Bos mau mengambil Mira sebagai menantu,” balas Abraham yang juga hanya bercanda.
“Cuman tidak seperti jika cinta menemukan jalannya sendiri yah? Siapa tahu saja nanti. Kita orang tua tinggal melihatnya,” balas Belva.
“Benar Bos … setuju. Ngomong-ngomong, makasih banyak ya Bos. Untung di saat saya harus bergerak cepat, ada Bos yang menawarkan bantuan,” balas Abraham.
“Sama-sama Bram … lain waktu pasti saya juga membutuhkan bantuan dari kamu,” balas Belva.
__ADS_1
Tidak terasa, keduanya mengobrol cukup lama. Hingga menjelang sore Abraham pun berpamitan. Kali ini Abraham merasa lega karena akhir pekan nanti dia bisa melihat perumahan yang memang akan dia beli itu. Untuk membawa istri dan anaknya ke tempat dan lokasi yang lebih aman, Abraham akan berusaha dengan keras sekuat dan semampunya.