
Rasanya masih seperti mimpi, kemarin saja Marsha menangis dan berurai air mata meminta Abraham untuk melepaskannya. Kini, pria itu dengan mantap melingkarkan sebuah cincin pertunangan di jari manisnya. Tak kuasa menahan haru, air mata pun berlinang begitu saja dari mata Marsha.
Pertunangan yang lucu, dulu mereka berpacaran sekian tahun, tetapi cinta mereka terbentur restu. Sekarang, di saat Marsha tidak gadis lagi, bahkan sudah menjanda dan hamil anaknya Abraham, justru restu dengan mudahnya mereka dapatkan.
Ketika acara ramah tamah sembari menikmati hidangan, Abraham mengajak Marsha untuk berbicara sebentar.
“Sha, boleh bicara sebentar?” tanyanya mengajak Marsha untuk berbicara.
Marsha pun berpamitan dengan orang tuanya dan juga Mama Diah, dan meminta izin untuk berbicara dengan Abraham di serambi rumahnya. Di taman yang dipenuhi aglonema itu, keduanya duduk bersama. Ada wajah yang penuh dengan kebahagiaan yang tercetak jelas di sana.
“Kamu senang Sha?” tanya Abraham kali ini.
Tidak langsung menjawab, pandangan Marsha kini justru jatuh pada cincin bertahta berlian model solitare yang melingkari di jari manisnya itu. Perlahan Sara pun tersenyum, “Suka Bram … kamu sendiri?” tanya Marsha kepada Abraham.
“Tentu saja aku suka, Sha … sangat suka. Menjadikanmu sebagai pengantinku adalah cita-citaku sejak lama. Akhirnya, jalan cinta yang terjal dan berliku bisa kita lalui bersama,” balas Abraham.
Setelahnya, Abraham beringsut dan menggenggam tangan Marsha, “Sha, tetapi … ada ingin kusampaikan kepadamu. Besok aku balik ke Jakarta dulu yah. Sama seperti perkataanku kemarin, aku harus delegasikan perihal Studio Foto milikku kepada stafku dulu,” ucap Abraham kali ini.
“Berapa lama Bram? Waktu menuju pernikahan kita tinggal sepuluh hari lagi,” ucap Marsha.
__ADS_1
“Hanya sepekan … setelahnya aku akan kembali lagi ke Semarang. Kita menikah di kota ini, kota di mana kisah kita bermula, di kota ini juga kita akan mengukuhkan hubungan kita,” sahut Abraham.
Abraham memang sudah berketetapan bahwa dirinya akan menikahi Marsha di Semarang. Sebuah kota yang dulu membingkai kisah mereka dari kali pertama bertemu di bangku kuliah. Abraham ingin menjadi kota ini kian istimewa bagi perjalanan cinta mereka.
“Baiklah, kalau aku kangen ….”
Tampak Marsha yang merajuk dan juga mengatakan dengan jujur bahwa dirinya akan kangen dengan Abraham. Efek cinta yang telah membara, atau karena buah hati yang membuat Marsha sebenarnya enggan untuk berpisah dari Abraham.
“Hanya sepekan … aku janji, secepat mungkin aku akan kembali lagi ke sini. Jaga diri baik-baik yah. Sepuluh hari lagi, kita akan selalu bersama,” ucap Abraham.
Sejujurnya Abraham merasa berat untuk kembali ke Jakarta, tetapi urusan Studio Foto miliknya memang harus didelegasikan terlebih dahulu. Operasional studionya juga harus dibicarakan terkait dengan cuti nikah dan bulan madu yang akan Abraham habiskan di Semarang.
“Baiklah, aku tunggu kau kembali,” jawab Marsha.
Hari ini adalah hari kedua di mana Abraham sudah kembali di Jakarta …
Sesuai dengan permintaan Mamanya, Marsha pun tidak lagi tinggal di Ungaran, tetapi tinggal di rumah Mamanya. Mama Ria ingin menghabiskan waktu bersama dengan putri tunggalnya itu.
“Sha, maafkan Mama … kami sebagai orang tua seakan abai saat kasusmu naik sampai ke media nasional. Hanya saja Mama juga bingung, sebelumnya rumah tanggamu dan Melvin bukankah baik-baik saja? Kenapa bisa penuh intrik seperti itu? Dan, bagaimana kamu bisa hamil anaknya Abraham?” tanya Mama Ria.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Ma … lagipula, Marsha sudah terbiasa hidup sendiri dan menyelesaikan semua masalah sendiri,” sahutnya.
Ada helaan nafas yang berat dari Marsha. Di saat dia terpuruk beberapa bulan yang lalu, memang ada kalanya Marsha membutuhkan orang tuanya. Akan tetapi, itu pun tak bisa dia rasakan. Justru Abraham adalah satu-satunya orang yang ada untuknya, dan selalu mensupportnya.
“Dia memang bayinya Bram, Ma … kala itu Marsha terlibat hubungan terlarang dengan Abraham. Tindakan kami memang salah, Ma … tetapi, hadirnya bayi ini bukan kesalahan. Hanya waktunya yang salah, tetapi jiwanya tidak salah,” balas Marsha sembari memberikan usapan di perutnya itu.
“Lalu, setelah menikah nanti, kamu akan tinggal di Semarang atau di Jakarta?” tanya Mama Ria.
“Marsha akan tinggal di mana suami Marsha berada, Ma … Marsha ingin mendampingi Bram di mana pun dia berada. Mau di Semarang atau di Jakarta, tidak masalah bagi Marsha,” jawabnya.
“Baiklah Marsha, kali ini Mama benar-benar berdoa, Abraham menjadi yang terakhir bagi kamu. Oh, iya … kamu mau hadiah apa dari Mama dan Papa untuk kado pernikahanmu?” tanya Mama Ria kepada putrinya itu.
“Terserah Mama dan Papa saja. Hanya saja doakan untuk kelanggengan rumah tangga Marsha dan Bram,” sahutnya.
Hadiah berupa harta benda yang sifatnya materi tidak begitu berarti bagi Marsha. Dulu, menjadi istri artis top Ibukota, hidup Marsha layaknya istri sultan. Namun, semua itu tidak bertahan lama, justru berakhir dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dia alami. Untuk itu, kali ini Marsha mengharapkan doa restu yang tulus dari kedua orang tuanya untuk kelanggengan rumah tangganya bersama Abraham.
“Tentu Sha, Mama dan Papa selalu berdoa untuk kamu. Baiklah, sekarang sudah malam … istirahat sana,” ucap Mama Ria,
Marsha pun masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu merebahkan dirinya di atas ranjang, dengan kaki yang sebagian menjulur ke lantai. Marsha mengangkat tangannya ke atas, dan melihat cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya itu.
__ADS_1
“Sudah dua hari, Bram … dan aku sudah begitu rindu,” gumamnya dengan menghela nafas kasar.
Walau berkomunikasi dengan Whatsapp hanya saja, Marsha saja merindukan Abraham. Ingin rasanya waktu berlalu, dan dia bisa bersama dengan Abraham. Terbayang saat-saat mereka menghabiskan waktu bersama di apartemen milik Abraham dulu.